Buku

[Book Review] Le Petit Prince: Pangeran Cilik

L0BqU8A_

Judul: Le Petit Prince: Pangeran Cilik

Penulis: Antoine de Saint-Exupéry

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 120 halaman

Terbit: Desember 2011

Penasaran dengan buku ini karena banyak yang bilang bagus dan konon telah disadur ke dalam 230 bahasa. Tak diragukan dong, ya. Mana ada 230 penerbit dari seluruh dunia yang berkenan ikut menerbitkan buku ini kalau kualitasnya nggak bagus.

Sempat terkecoh dengan covernya yang unyu dan isinya yang lengkap dengan ilustrasi. Saya pikir ini merupakan buku dongeng anak biasa yang ringan dan dapat dibaca sambil leha-leha. Namun, dugaan saya salah. Buku dongeng anak-anak memang khayali, tapi buku ini jauh lebih absurd lagi. Banyak permainan simbol dan metafora. Tak jarang kening saya berkerut untuk memahami apa yang ingin disampaikan oleh Monsieur Exupery di buku ini.

Buku ini bercerita tentang Pangeran Cilik yang tinggal seorang diri di planetnya yang kecil, bersama sekuntum bunga mawar. Suatu hari, Pangeran Cilik terjatuh dari planetnya. Dia lalu melakukan perjalanan melalui planet-planet yang lain untuk kembali ke planetnya sendiri. Dalam perjalanannya itulah, dia menemukan banyak hal yang menakjubkan dan tak jarang membuat benaknya mengeluarkan banyak pertanyaan-pertanyaan.

Meskipun dikemas seperti buku dongeng anak-anak, sebenarnya buku ini ditujukan untuk orang-orang dewasa. Melalui cerita perjalanan si Pangeran Cilik setelah dia jatuh dari planetnya, terdapat sindiran-sindiran tentang orang-orang yang gila kekuasaan, gila hormat, mabuk-mabukan, dan sebagainya. Sifat-sifat yang pada umumnya dimiliki oleh orang-orang dewasa.

“Tapi sayangnya, aku tak pandai melihat domba di dalam peti. Mungkin aku sedikit seperti orang-orang dewasa. Mungkin aku sudah menjadi tua.” – hlm. 23

Kutipan tersebut seolah menyindir kehidupan orang dewasa yang terlalu serius, terlalu sibuk berjibaku dengan dunia yang complicated, sehingga tak lagi peka dengan imajinasi-imajinasi sederhana khas anak-anak. Tak bisa dipungkiri, menjalani hidup sebagai orang dewasa dengan segala liku-likunya memang dapat memudarkan daya imajinasi kita.

Ada pula cerita tentang seorang pengusaha yang sibuk menghitung bintang sampai dirinya sendiri tidak tahu akan dia gunakan untuk apa bintang-bintang itu. Gambaran orang-orang dewasa yang kadang terlalu sibuk bekerja, sampai lupa meluangkan waktu untuk menikmati hasil kerja kerasnya.

“Orang-orang dewasa memang amat ganjil.” – hlm. 51

Buku

[Book Review] Where the Mountain Meets the Moon: Perjalanan Minli Mencari Kakek Rembulan

87unOokE

Judul: Where the Mountain Meets the Moon

Penulis: Grace Lin

Penerbit: Atria

Tebal: 261 halaman

Terbit: 2010

“Jika kau membahagiakan mereka yang ada di dekatmu, mereka yang jauh darimu akan datang.” – hlm. 238

Setiap hari, Minli harus ikut membantu Ba dan Ma bekerja di sawah hingga matahari mulai terbenam. Keluarga mereka sangat miskin. Minly melihat bagaimana orangtuanya bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka di tengah kemiskinan. Melihat Ma yang selalu murung dan uring-uringan.

Karena itulah, Minli bertekad mencari Kakek Rembulan untuk bertanya bagaimana cara mengubah peruntungan keluarga mereka. Kakek Rembulan adalah tokoh dalam dongeng yang diceritakan oleh Ba setiap malam. Tanpa sepengetahuan Ma dan Ba, Minli pun memulai petualangannya yang penuh keajaiban.

Buku yang sangat heart warming. Kisah yang indah dan diceritakan dengan indah pula. Tentang keluarga, persahabatan, serta pencarian kebahagiaan.

“Sepanjang hidupnya, sang hakim mewarnai jiwanya dengan begitu banyak amarah sehingga ketika raganya mati, jiwanya tidak bisa beristirahat dengan tenang ….” – hlm. 183

Buku ini menjadi semakin menarik dengan adanya bumbu dongeng-dongeng dari negeri China di samping cerita utama. Jadi seperti berlapis-lapis, ada cerita di dalam cerita.

Editingnya… emm, nemu beberapa typo. Seperti kata “meraka” yang seharusnya “mereka”, “manyala” yang seharusnya “menyala”, kata “naga” yang seharusnya tertulis “raja”, dan sebagainya. Di halaman 90, tertulis: “Seekor kerbau besar berlumuran lumpur, ditarik oleh seekor bocah ….” Itu bocah sejenis binatang apa gimana? Wew…

Beruntung masalah editing itu tidak begitu mengganggu karena saya sudah terlanjur asyik dengan kisah indah dan hangat, yang dapat menjadi obat untuk hati orang-orang dewasa yang sudah terlalu penat.

“Kekayaan bukanlah rumah yang dipenuhi dengan emas dan batu giok, namun sesuatu yang lebih bermakna daripada itu. Sesuatu yang telah dimilikinya dan tidak perlu diubahnya.” – hlm. 242.

 

Buku

[Book Review] Mata Ketiga

VH6JjVw6

Judul: Mata Ketiga

Penulis: Muhajjah Saratini

Penerbit: Loka Madia

Tebal: 81 halaman

Terbit: Oktober 2017

Blurb:

Kurasa, mandi setelah melakukan percintaan bukan hanya untuk menghilangkan penat dan sisa keringat yang sudah melekat. Utamanya, justru untuk membasuh perasaan muak. Itu yang kupikir ketika lagi-lagi terbangun dan mendapati Gadis sesenggukan—kadang hanya terisak—sementara tubuhku terbuka lebar, menerima air yang terus-menerus mengucur dari atas sana.

Kalau memang yang dilakukan Gadis dan Ari berdasarkan cinta, lalu kenapa dia lebih sering kutemukan menangis seperti ini?

Memangnya, ada berapa jenis cinta antara manusia?

Aku tidak mengerti.

Menyelesaikan membaca buku ini diiringi suara sholawatan selepas Subuh dari masjid sebelah rumah. *halah*

Buku tipis dengan kisah yang complicated. Sedikit mengingatkan saya kepada salah satu cerpen milik Eka Kurniawan berjudul “Cerita Batu”, yang mana kita diajak untuk melihat kehidupan dari para manusia yang “kurang beres” melalui sudut pandang tokoh bukan manusia. Hanya, emm… aduh, ini saya durhaka nggak ya kalau bilang buku ini yang lebih membuat bulu kuduk saya meremang daripada yang itu. Wkwkwk *Mbak Ajjah silakan geer :D*

Setidaknya, ada tiga hal yang menurut saya istimewa dan menjadikan buku ini berkesan. Pertama, tema yang dipilih. Tentang kisah cinta tak biasa beserta hal-hal suram yang menyertainya. Sebagai orang yang terbiasa dimanjakan oleh cerita cinta menye-menye, membaca kisah Gadis dan Ari tak dapat dipungkiri membuat saya sedikit berdebar. *eh

Kedua, adegan-adegan yang rada ekstrem. Lagi-lagi saya dibuat berdebar tapi dengan nuansa yang lain ketika sampai pada bagian Ayah mengambil tato Gadis. Ya ampun! Saya baca subuh-subuh loh ini, masih sepi. Merinding.

Ketiga, banyaknya kejutan. Saya seperti dijungkirbalikkan dengan alur yang tak terduga-duga. Dan, itu tak cuma sekali. Seperti yang sudah saya bilang, banyak plot twist di sini. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kegemaran Mbak Ajjah membaca cerita-cerita detektif.

Hanya ada satu yang agak mengganjal. Sebenarnya saya rada malu ini mau nanyain, tapi daripada penasaran. 😀 Anu, di sini dikatakan si Gadis nggak mau meninggalkan Ari karena dia sudah tidak perawan. Itu gimana ceritanya ya, bisa nggak perawan. Si Ari kan, itu… emm, ya sudahlah. Saya memang cupu. Lol!

Last, buku ini tipis saja. Selesai dibaca dengan sekali duduk. Tapi, efek yang saya rasakan setelah membaca buku ini kok sepertinya nggak selesai-selesai. Nggak heran kalau buku ini menjadi juara pertama. Selamat, Mbak Ajjah. Ditunggu karya-karya selanjutnya. 😀

Buku

[Book Review] Misteri Bilik Korek Api: Rumah Kosong, Sumur Tua, dan “Penglihatan” Emola

8MnvxVwr

Judul: Misteri Bilik Korek Api

Penulis: Ruwi Meita

Penerbit: Grasindo

Tebal: 238 halaman

Terbit: Oktober 2017

Blurb:

Sejak bayi Sunday tinggal di panti asuhan sehingga dia sama sekali buta dengan Ambon, daerah asalnya. Sampai Emola datang, lalu mengingatkan Sunday dengan asal-usulnya yang samar.

Suatu hari mereka menumukan bilik penuh tempelan korek api saat pindah panti asuhan yang baru. Sejak saat itu, kecelakaan demi kecelakaan menimpa teman-teman sekamar Sunday. Sunday mencurigai Emola berkaitan dengan semua kesialan yang terjadi. Bagaimana tidak? Emola memiliki kepribadian yang misterius, minim bicara, dan hanya mendendangkan lagu daerah asalnya sambil menggenggam bandul kalung yang dibungkus kain putih.

Lalu, siapa giliran berikutnya yang bakal celaka?

Dia?

Mereka?

Kamu?

Menyelesaikan membaca buku ini beberapa hari yang lalu. Dan, perlu menenangkan diri sejenak sebelum bisa menulis review ini. :))

Banyak yang saya suka dari buku ini. Pertama, jalan ceritanya yang penuh dengan teka-teki, membuat saya enggan untuk melepaskan buku ini setelah membaca lembar-lembar pertama. Menegangkan sekaligus bikin penasaran. Kedua, buku ini dituliskan dengan dua sudut pandang yang saling melengkapi. Kita akan membaca sisi gaib dari sudut pandang Emola, dan dunia yang kasat mata dari sudut pandang Sunday.

Ketiga, karakter tokoh yang unik. Emola mengingatkan saya kepada Christopher Boone di buku Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran. Setidaknya, bagaimana pusingnya kepala saya saat membaca jalan pikiran Emola, sama seperti ketika saya membaca jalan pikiran Christopher di buku tersebut. Christopher adalah seorang anak penderita sindrom asperger yang berusaha memecahkan kasus pembunuhan anjing tetangganya. Sedangkan, Emola adalah anak yang bisa mendengar warna-warna bersuara. Kalau tidak salah ingat, dari artikel yang pernah saya baca, kondisi Emola ini disebut dengan synesthesia. CMIIW. Hebatnya, selain menderita synesthesia, Emola juga anak indigo dan suka berhalusinasi melihat manusia seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Walah! Complicated sekali hidup Emola ini.

Hal lain yang saya sukai dari buku ini adalah saya jadi dapat banyak informasi baru. Tentang filumenis, John Walker, rumah jengki, permainan ancong-ancong, dll. Kereeenn… sekali pokoknya!

Kutipan favorit:

“Kadang menangis akan membantumu menyadari arti kekuatan.” – Nugi kepada Sunday. Aww… so sweet. :’)

Senang sekali bisa mendapatkan buku yang bagus ini dari sebuah giveaway. Apalagi, hadiahnya melebihi ekspektasi. Padahal saya dikasih buku saja sudah bahagia. Nah, ini saya malah dapat lengkap. Buku plus tanda tangan penulis, stiker, pin, juga pensil bunga mawar. Wuaaa… 😀 Bunga mawar ini bisa berarti mistis, bisa juga bermakna romantis. Hahaha terima kasiiihh…. *emoticon ketjup*

 

Buku

[Book Review] Sepotong Hati yang Baru: 8 Kisah Cinta dan Pelajaran yang Bisa Diambil Darinya

16052709
Gambar diambil dari sini

Judul: Sepotong Hati yang Baru

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Mahaka

Tebal: 204 halaman

Terbit: September 2012

Buku ini berisi sekumpulan cerita pendek tentang cinta, yang… endingnya kok nyesek semua. T__T

Konon, dalam kamus Melayu kuno tahun 1902, definisi dari kata “cinta” itu sendiri berupa “kesedihan” dan “patah hati”. Meskipun maknanya sudah sangat berlawanan dengan definisi cinta yang kita pahami saat ini, akan tetapi tak bisa dipungkiri bahwa cinta memang dapat berisiko membawa kita kepada kesedihan dan patah hati. Maka, hati-hatilah dalam bermain cinta.

“Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apa pun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kamu tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut.” – Hlm. 51

Delapan cerita pendek dengan delapan jenis cinta terangkum dalam buku ini. Ada cinta yang kegeeran, cinta dalam kemiskinan dan tekanan hidup, cinta kepada orangtua dan keluarga, cinta karena pengabdian yang tulus, cinta beda kasta, cinta kepada tanah air, cinta yang dihianati, serta cinta yang hancur karena prasangka.

“Tetapi cinta tanpa disertai kepercayaan, maka ibarat meja kehilangan tiga dari empat kaki-kakinya, runtuh menyakitkan.” – Hlm. 178

Delapan kisah cinta yang sangat heartbreaking, beserta hikmah-hikmah yang dapat diambil darinya. Cover buku ini pas banget untuk menggambarkan isinya. Hati yang diperban rapat, hanya menyisakan sepotong saja yang masih sehat.

Paling suka dengan cerpen yang diadaptasi dari kisah “Sampek Engtay” dan “Rama Shinta”. Dua kisah cinta legendaris tersebut memang terkenal memiliki ending yang sangat memilukan. Kisah Itje Noerbaja dan Kang Djalil juga cukup seru. Cerita cinta zaman penjajahan Belanda yang dituliskan dengan ejaan lama.

“Tapi tjinta kita, boekanlah apa-apa dibanding tjinta atas kemerdekaan bangsa kita. Tjinta soetji kita boekanlah apa-apa dibanding tjinta kita atas tanah air kita ini. Akoe, kamoe, akan mengorbankan apa poen demi itoe.”

Sayangnya, alih-alih menarik, saya justru capek baca tulisan dengan ejaan lama itu. Kayaknya nggak perlu ditulis pakai ejaan lama juga kali ya, untuk menunjukkan kalau cerita tersebut terjadi di masa penjajahan Belanda. Cukup dengan penggambaran setting atau interaksi tokoh-tokohnya mungkin.

Kisah kasih tak sampai si miskin dan si kaya ala Mbak Hesti dan Tigor juga cukup mengaduk perasaan. Klise, tapi entah kenapa tetap menarik.

Seperti yang tertulis di cover belakangnya, buku ini mengajarkan kepada kita bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman baik. Jadi, buat kamu…, kamu…, dan kamu yang suka baper dan galau mikir mantan atau gebetan, baiknya baca buku ini. Setidaknya, kamu akan tahu bahwa nasibmu jauh lebih baik daripada tokoh-tokoh yang ada di sini. 😀 *eh, kabur*

Buku

[Book Review] Jodoh: Cerita Tentang Cinta, Takdir, dan Hal-Hal Lain yang Terkait Dengannya

dtinta-1496464910447

Judul: Jodoh

Penulis: Fahd Pahdepie

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal: 256 halaman

Terbit: November 2015

“Ketenangan adalah saat kita memasrahkan semuanya pada keadaan, takdir yang kadang-kadang sialan membuat kita ketinggalan kereta untuk menunggu lebih lama kedatangan kereta berikutnya.” — hlm. 110-111

Sena telah jatuh cinta kepada Keara sejak pertemuan pertama. Saat itu, usianya baru 7 tahun. Terlalu dini memang. Namun, siapa yang dapat menolak datangnya cinta. Dan, perasaan itu tak juga hilang saat mereka melanjutkan sekolah ke pesantren. Dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan ustadz dan ustadzah pesantren, Sena mulai mendekati Keara. Tak disangka, Keara pun memiliki perasaan yang sama.

Suatu hari, Keara harus keluar dari pesantren karena masalah kesehatan. Di situlah cinta mereka diuji. Dan cinta Sena kepada Keara, rupanya bukanlah cinta monyet semata. Sena mencintai Keara hingga mereka beranjak dewasa. Lalu, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka berdua? Apakah Sena berjodoh dengan Keara? Baca sendiri dong, ya. Kan, nggak boleh spoiler. 🙂

“Maafkan aku sudah mencintaimu, maafkan aku karena aku tak tahu cara lainnya.” — hlm. 143

Sempat hampir menyerah baca buku ini, sebab alurnya yang flat banget dan cenderung membosankan di bagian awal. Tidak terasa greget sebagaimana yang saya bayangkan sebelumnya ketika tertarik untuk baca buku ini. Singkatnya, saya gagal baper.

Tapi untungnya, pas pertengahan hingga menjelang ending, mulai terasa feel-nya. Mood naik lagi untuk lanjut baca sampai selesai. Nggak jadi gagal baper.

Cara Sena mencintai Keara yang begitu manis. Betapa pun cinta dan rindunya dia kepada Keara, Sena sekuat mungkin untuk menjaga diri. Menjaga batas-batas yang dibolehkan. Tidak ngawur menuruti hasratnya.

Sena bahkan memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta dan menjalani hubungan jarak jauh dengan Keara. Sena melakukannya dengan tujuan untuk menghindarkan dirinya dari perbuatan buruk yang mungkin tak bisa ditahannya, mengingat rasa cintanya kepada Keara yang begitu besar.

“Ada dua jenis kerinduan. Kerinduan pertama karena kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua karena kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu. Aku memilih yang kedua.” — hlm. 194

Kelebihan lainnya adalah gaya penulis bercerita yang liris dan puitis. Menambah kesyahduan kisah cinta unik Sena dan Keara. Suka sekali dengan cerita tentang laki-laki yang berjalan berjuta-juta langkah untuk mencari perempuan yang menjadi jodohnya. Dan juga perempuan yang melalui beribu-ribu purnama untuk menanti sang jodoh akan menjemputnya.

Ending-nya, saya jadi mafhum, apa itu jodoh yang sebenarnya.

Jodoh bukanlah semata belahan jiwa yang tengah menunggu untuk berlayar bersama sambil saling bergenggaman tangan. Sebagaimana yang selama ini diimajinasikan oleh banyak orang. Jodoh adalah sesiapa saja yang dipertemukan dengan kita oleh takdir di sebuah persimpangan waktu dan membuat hidup kita menjadi bermakna. Sebagaimana Sena dan Keara yang bertemu dan menuliskan kisah mereka berdua.

Lebih dari itu, jodoh yang paling sempurna untuk kita sesungguhnya adalah kematian.

JLEEEBBB…!!!

Buku

[Book Review] The Sweet Sins

img_20170613_124314

Judul:  The Sweet Sins

Penulis: Rangga Wirianto Putra

Editor: Ratna Mariastuti

Penerbit: Diva Press

Tebal: 428 halaman

Terbit: Oktober 2012

Blurb:

The sexiest novel I’ve ever read.

Betty W. Kusuma, penulis novel “Aku Seorang Gay”.

“Novelnya bagus, ‘dalem’, dan kehidupan di dalamnya seperti kehidupan yang kita ‘kenal’ banget. Ceritanya juga detail. Seperti membaca pengalaman pribadi seseorang. Anyway…, semoga laris, yaaa….”

Mia Arsjad, penulis novel “Rona Hidup Rona”.

“Jangan sentuh buku ini jika tidak mau tertampar-tampar oleh makna cinta!!!”

Helmy Feriansyah, artis.

“Rangga always do the best! This novel is so deep, mature, and full of surprises. Every scene made by love and lust as simple as beautiful. Best recommend!

Aline Laksmi, model, penulis, art lingerie designer.

“… Bukan cerita yang biasa. Life of gay. Pengetahuan baru buat kita semua.”

Avrira Azzahra, penulis serial “Shalikha”.

“Sebuah novel yang menambah kekayaan literatur roman Indonesia. Bertemakan LGBT dan berani mengangkat opera Italia sebagai jiwa dari keseluruhan cerita dengan cukup saksama….”

Aditya P. Setiadi, dosen Universitas Indonesia dan pemusik.

“Membaca novel ini membuat saya lebih dalam memaknai cinta. Sungguh, ini adalah novel yang jujur dalam memaparkan arti cinta.”

Oka Fahreza, penyiar Radio 89,5 JIZ FM Yogyakarta.

Ketika sang surya pagi menembus sela-sela jendela, aku tersadar, ternyata aku tidur dalam dekapannya. Aku pun merapat sama eratnya. Di sini, di balik dadanya, aku dapat melihat sinar matahari pagi membelai wajahnya yang rupawan dan melukiskan segala keindahan di sana ….

Di Balik Pelukan Terhangatnya…

Pertama kali baca buku beginian, dan mungkin untuk terakhir kalinya. :))

Mulanya karena kemarin saya sempat dilanda bosan baca novel cinta-cintaan yang ceritanya sudah terlalu umum. Lalu, teman saya menyodorkan buku ini. Katanya, cerita cinta di novel ini beda, tidak umum.

Memang beda, sih. Tapi….

Novel ini bercerita tentang Rei, seorang anak broken home yang kehilangan sosok ayah sejak masih kecil. Saat dewasa, dia bergaul dengan sahabat-sahabat yang juga memiliki pengalaman hidup dan pergaulan yang sama ruwetnya, menjadi gigolo, hingga bertemu dengan Ardo yang akhirnya menjadi “kekasihnya”.

Sebenarnya, kisah cinta Ardo dan Rei ini bisa dibilang cukup sweet. Ardo yang dewasa dan bijaksana banget, dan Rei yang butuh sosok pengganti sang ayah. Mereka jadi pasangan yang cocok dan saling melengkapi satu sama lain. Plus, ending kisah mereka yang nyesek, modal yang cukup untuk mengobrak-abrik perasaan.

Sayangnya, saya gagal baper setiap mengingat mereka ini sesama laki-laki. Alih-alih baper, saya justru pening. Apalagi, beberapa bagian di novel ini juga terlalu blak-blakan menggambarkan kemesraan antara Ardo dan Rei, sehingga terpaksa saya skip demi kewarasan jiwa. Saya berhasil menuntaskan membaca buku ini setelah tersaruk-saruk, sambil nahan pening dan mual, serta beberapa kali skip ketika sudah menjurus ke adegan berbahaya. :))

Dua bintang untuk buku ini. Bukan karena buku ini buruk (takut dikeroyok penggemar novel ini, wkwk), melainkan karena saya tidak bisa menikmatinya. Mungkin karena ini memang bukan bacaan yang cocok untuk saya, jadi sayanya nggak becus bacanya.

Maka, sebagaimana keterangan di Goodreads, 2 bintang berarti “it was ok“.

Kutipan favorit di novel ini:

“Jangan pernah mengingkari cinta karena cinta adalah salah satu dari rahmat Tuhan yang paling besar yang Dia turunkan ke dunia. Karena cintalah manusia ada sejak dahulu, sekarang, dan untuk masa yang akan datang.” (hlm 180)

Love is about chemistry but sex is about physics. Love is nude but sex is naked. Love is erotic but sex is pornography.” (hlm 187)

*menenangkan diri, lalu kembali ke buku unyu-unyu wkwkwk*

Buku

[Book Review] Pengantin Hamas: Mengapa Kalian Renggut Pengantinku?

Pengantin Hamas

Judul: Pengantin Hamas, Mengapa Kalian Renggut Pengantinku?

Penulis: Vanny Chrisma W.

Editor: Addin Negara

Penerbit: Laksana

Jumlah halaman: 240

Terbit: Mei 2013

Terlahir sebagai saudara kembar, tak lantas membuat segala sesuatunya menjadi sama. Adalah Ibris dan Ibrisim, kembar identik. Secara fisik, tak ada yang membedakan di antara mereka. Semua tampak sama. Hanya saja, Ibrisim selalu tampak mengenakan ikat kepala HAMAS. Itulah yang membedakan di antara keduanya.

Ibrisim dan teman-temannya memang memiliki impian untuk menjadi mujahid. Berperang melawan Israel demi negara mereka tercinta, Palestina. Sangat berbeda dengan saudara kembarnya, Ibris. Ibris tidak menyukai peperangan. Dia mencintai perdamaian. Ibris sangat menikmati ketenangan, sambil melakukan hobinya, melukis di atas kanvas.

Membaca novel ini, saya sangat terbawa dalam konflik batin setiap tokohnya. Bagaimana Ibrisim dihadapkan pada dilema antara memilih melanjutkan cita-cita perjuangannya atau menuruti ibu dan saudara kembarnya yang tidak setuju dia menjadi mujahid. Bagaimana kisah cita segitiga antara Ibrisim, Ibris, dan Huriya. Konflik Ibrisim dengan teman-temannya ketika Ibrisim lebih memilih menikahi Huriya daripada melanjutkan berjuang menemukan Fatimah, sahabat wanitanya yang diculik tentara Yahudi.

Emosi saya semakin teraduk-aduk saat membaca kisah Fatimah. Sejak kejadian penculikan tentara Yahudi, nasib Fatimah memang tidak bisa dibilang baik-baik saja. Dia memang bisa bertahan hidup. Namun, Fatimah telah hancur jiwa maupun raganya.

Shopia membalut luka-luka memar di wajah Fatimah. Rupanya ketika bom itu meledakkan bus antar jemput, Fatimah berlari menghampiri dan berteriak-teriak seperti orang gila. Karena dianggap terlibat, Fatimah dipukul habis-habisan oleh tentara wanita yang sedang bertugas. Padahal Fatimah tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian. Ia hanya mengenal si pengebom yang bernama Ibrisim lewat selembar surat yang ada di tangannya. — hal. 236

Novel ini memiliki ending yang sedih. Saya tidak pernah suka dengan sad ending, sebab meski ceritanya sudah selesai, rasanya masih sedih saja gitu. 🙁 Namun ending yang penuh tragedi dalam novel ini, justru membuat ceritanya meninggalkan kesan yang cukup dalam. Selain ending dan konflik antartokoh, saya cukup terbawa suasana dengan penggambaran setting-nya. Selama ini, saya hanya membaca novel-novel chicklit yang notabene latarnya mal, luar negeri, dan gaya hidup mewah lainnya, di novel ini saya jadi merasakan suasana baru.

Ada beberapa quote yang saya sukai. Salah satunya adalah quote berikut ini:

“Mengapa orang harus takut terjadinya kiamat jika telah terjadi perdamaian. Jika orang-orang takut berdamai lantaran takut pula terjadi kiamat, artinya mereka hanya takut merasakan mati. Benar tidak? — hal. 234

Hanya ada dua catatan saya untuk novel ini. Pada bab 9 “Mimpi-Mimpi Kegalauan” dan bab 17 “Seruan Malaikat Menyerbu Gaza” isinya sama. Tentang mimpi buruk Ibrisim. Meskipun ceritanya mimpi tersebut terulang, tapi rasanya tak perlu ditulis lagi dengan detail. Sebab, bacanya jadi berulang-ulang. Sama plek pula.

Lalu, pada halaman 217. Ketika Ibrisim dan kawan-kawannya membicarakan tentang keberadaan Fatimah. Di bagian itu disebutkan bahwa Abd as-Sami telah mengetahui kondisi Fatimah yang sebenarnya. Dia tahu bahwa Fatimah masih hidup dan dalam kondisi yang cacat. Sayangnya, dalam novel ini tidak diceritakan bagaimana Abd as-Sami bisa mengetahuinya, sedangkan yang lain tidak. Jadi, rasanya ada jalan cerita yang hilang.

Selebihnya, novel ini recommended! 🙂

Membaca & Menulis

Pelukan untuk Mama

Dingin. Basah. Aku memeluknya erat dari belakang. Menempelkan kepalaku di punggungnya. Sekadar untuk mendapatkan sedikit rasa hangat. Mempererat pelukanku, agar tubuhku tak ikut basah.

Hujan pagi itu, menghambat perjalanan kami. Dia berjibaku membelah jalan raya. Membelah hujan. Memastikan bahwa aku sampai dengan selamat ke sekolah. Aku meringkuk di dalam jas hujan, di belakangnya.

Jas hujan itu tidak bisa melindungi kami dengan sempurna dari terpaan hujan. Kulihat sekilas, kakinya basah. Begitu pula yang terjadi pada sepatuku. Basah. Aku mendesah. Pasti nanti masih ribet mengeringkan sepatuku yang basah ini agar lebih nyaman saat mengikuti pelajaran di kelas.

Terbayang teman-temanku yang selalu diantar jemput dengan mobil-mobil mewahnya. Mereka sampai di sekolah dalam keadaan baik-baik saja. Tidak sepertiku yang kuyup dan kacau balau.

“Mama, gimana kalau hari ini tidak usah berangkat ke sekolah?” keluhku tadi pagi. Ia mengerutkan keningnya.

“Kenapa begitu?” tanyanya.

“Di luar hujan deras,” aku menunjuk ke arah jendela, tampak cuaca yang tidak begitu bersahabat. Langit menumpahkan tangisnya tanpa henti.

“Hemm … ya sudah kalau nggak mau sekolah. Mama sih nggak masalah, kalau kamu mau terima risikonya, nggak bisa belajar, nggak bisa ketemu teman-teman, ketinggalan hal-hal seru yang mungkin saja terjadi di sekolah hari ini. Dan … ah iya, bukannya hari ini ada pelajaran Bahasa Indonesia. Waduh, bisa jadi sekarang ada tugas mengarang. Dan dapat dipastikan bahwa predikatmu sebagai jago mengarang di kelas, bahkan di sekolah, akan tergeser oleh teman-temanmu, karena kamu nggak ikut mengarang hari ini. Kan nggak berangkat sekolah. Gimana tuh?” terangnya panjang lebar.

Aah … Mama, selalu saja bisa buat aku berubah pikiran.

***

Dia masih membelah jalan raya. Membelah hujan. Sesekali berhenti di lampu merah. Menikung. Melajukan motornya, tak peduli hujan yang terus mendera.

Jas hujan itu tersibak. Aku terpekik kecil saat air hujan menciprat sedikit pada rok seragam sekolahku. Kupererat pelukanku padanya.

Mama menghentikan motornya di halaman parkir sekolahku. Dengan payung, ia mengantarku sampai ke depan kelas.

“Mama, coba kita punya mobil. Pasti enak, nggak kebasahan kalau hujan begini,” rengekku begitu sampai di beranda depan kelas. Mama hanya tersenyum. Ia membantuku merapikan rambut dan bajuku yang sedikit berantakan akibat perjalanan kami tadi.

“Iya, memang enak. Tapi nanti tak ada lagi yang memeluk Mama seperti tadi sepanjang perjalanan,” jawabnya. Masih dengan senyum yang setia menghias wajah manisnya.

“Memangnya Mama suka?” tanyaku.

“Suka sekali,” jawab Mama sambil mengusap kepalaku lembut.

“Sudah sana, masuk kelas. Nanti terlambat.” Aku mengangguk. Mama masih mengawasi sampai aku benar-benar masuk ke dalam kelas. Aku meliriknya saat Mama mengambil payung dan bersiap pergi.

“Mama!!” panggilku dari ambang pintu kelas. Mama membalikkan badannya ke arahku.

“Kalau gitu nggak usah punya mobil saja!” seruku.

Aku yakin dia mendengarnya, meskipun suara hujan sedikit menghalangi percakapan jarak jauh kami. Karena kulihat dia tersenyum, mengacungkan jempolnya, kemudian memberi isyarat agar aku segera kembali ke kelas. Aku sedikit terbahak, lalu bergegas masuk kelas.

***

Tahun berlalu. Dan aku masih suka memeluknya dari belakang, saat Mama terduduk menatap senja di beranda rumah. Kadang dia terkaget dengan tindakanku yang tiba-tiba.

“Mama masih suka bila kupeluk seperti ini?” tanyaku.

“Selalu suka,” jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu. Saat dia mengusap kepalaku di beranda sekolah waktu itu.

#Terpilih sebagai salah satu cerpen pemenang event #22HariBercerita Seri Tiga

#Dimuat di blog http://indonesiabercerita.org

Membaca & Menulis

Cerpen: Surat Cinta

: Untuk Ang Riandra, jawaban dari Lelaki Diammu.

 Dik, jangan kau membeciku. Meskipun kutahu, wajar bila kau melakukannya. Saat itu aku sungguh tak kuasa ketika cinta datang membawa sekuntum bunga, kemudian menanamnya di hatiku. Dan bunga-bunga itu kian tumbuh bermekaran menyesakkan hati. Bunga-bunga itu bagai candu yang membuatku selalu ingin memetiknya dan menciumi wanginya, hingga aku terlupa akan sajak-sajak cinta yang senantiasa kau suguhkan di setiap pagi, siang, dan malamku. Hal yang kini kusesali. Gelora yang sesaat dulu kurasakan, tak sebanding dengan penyesalan yang kini harus kutanggung.

Aku bukanlah petualang, seperti yang dulu pernah kau katakan. Aku hanyalah seorang pria yang mudah terbawa rasa. Namun sekejap saja cinta itu akan sirna, karena cinta dengan sendirinya pergi dariku. Mencampakkanku begitu saja. Dan engkau Dik, selalu mampu menghangatkan kembali hatiku yang beku. Kau semikan kembali benih-benih dalam jiwaku.

“Kang, kapan kau akan mengakhiri petualanganmu?” tanyamu selalu saat aku sudah mulai bangkit kembali. Aku tak pernah menjawabnya dengan sepatah kata pun. Kau pun tak pernah bertanya lebih banyak lagi. Seakan kau tahu bahwa suatu hari nanti akan kubuktikan, akan kupunya satu cinta saja untuk selamanya. Aku memang telah membuktikannya. Di depan penghulu aku berikrar untuk selalu menjagamu. Kau menjawabnya dengan air mata haru.

***

Semuanya baik-baik saja Dik, hingga ia datang di kehidupan kita. Dia menawariku secangkir madu. Aku tak kuasa menolaknya. Aku sungguh bodoh. Aku terpedaya. Winarsih, dia yang dulu membuatku meninggalkanmu, ternyata adalah seorang bidadari berhati sengkuni. Dengan wajahnya ia memikat, namun dengan taringnya ia akan menghisap habis darah di tubuh korbannya, yang kemudian menjadi biru, kaku, dan akhirnya mati dalam sakit hati.

Itulah yang terjadi padaku saat ini, Dik. Aku hampir mati karenanya. Di saat aku bekerja dengan beribu tetes peluh dan berjuta   harapan, teganya ia membawa laki-laki itu ke dalam rumah. Rumah yang katamu dulu penuh cinta.

“Kalau rumah ini memang dipenuhi cinta, mungkin aku tak akan melakukannya! Tapi engkau selalu diam seribu bahasa! Aku ini wanita Kang! Aku tak yakin akan cintamu! Kau tak pernah mengatakannya! Rumah ini terasa sunyi!” Itulah yang dikatakan Winarsih ketika aku memergoki mereka berdua. Sebuah alasan yang sama, yang selalu kuterima ketika cinta-cinta yang lain hendak meninggalkanku. Aku memang tak pandai mengumbar kata cinta. Tak seperti Chairil Anwar ataupun Rendra, yang mampu merangkai kata puitis, hingga tercipta puisi romantis. Bagiku, cinta tak harus selalu diungkapkan dengan kata-kata. Cinta datang dari hati, maka cinta dapat terbaca dari tatapan mata. Bukankah mata adalah jendela hati? Cinta juga tak perlu diungkapkan secara berlebihan. Cukup dengan kesederhanaan. Seperti pengabdian seorang istri terhadap suami, dan suami yang akan selalu menjaga dan melindungi anak istrinya. Hanya kau yang mampu memahaminya, Dik.

***

Mereka tak jua jera meski berulang kali kupergoki. Hingga kesabaranku habislah sudah. aku memberinya pilihan, aku atau lelaki itu. Dan aku telah mendapatkan balasan atas apa yang telah kulakukan padamu dulu, Dik. Ketika aku memilih Winarsih tanpa memedulikan air matamu. Juga ketika aku membawanya ke rumah kita, sementara kau harus kembali ke orang tuamu dengan membawa Ryan, buah hati kita. Karma itu telah menimpaku. Winarsih memilih lelaki itu. Meninggalkanku sendiri bersama perasaan dan hatiku yang hancur.

Aku merindukanmu Dik. Juga masa-masa di mana kita masih bersama. Kau selalu setia membawakan masakanmu untuk memulihkan energiku setelah seharian bekerja di sawah. Kau ajak serta Ryan yang semakin lincah dan pandai. Lalu kita akan berbincang mengenai apa saja. Tak kita hiraukan matahari yang bersinar dengan angkuhnya, karena cinta telah meneduhkan hati kita.

Tak akan kulupakan ekspresi bahagiamu ketika Ryan mulai bisa berjalan. Juga ketika kau ajari dia untuk mengenali orang-orang yang kan selalu menyayanginya. Saat itu kau bertanya,

“Ayah mana Ryan?” maka Ryan akan menunjuk diriku. Lalu kau bertanya lagi,

“Bunda mana Ryan?” dan Ryan akan menunjuk dirimu.

***

Dik, betapa bahagianya aku ketika kita berjumpa tanpa sengaja. Tak seberapa jauh dari sawah, ketika senja menyelimuti desa kita. Namun, kau malah mempercepat langkahmu.

“Kang, kumohon jangan ganggu aku, di saat aku mencoba untuk melupakanmu!” begitu katamu saat aku mencoba untuk mengejarmu.

“Benarkah kau ingin melupakanku? Selamanya dalam hidupmu? Bagaimana denga Ryan, anak kita?”

“Kang, mengapa kau berkata demikian? Sedangkan dulu saat kutanya tentang nasib anak kita, kau lebih memberatkan hatimu pada wanita itu.”

“Maafkan aku Dik. Saat itu aku memang mabuk. Dan ketika tersadar, kau sudah begitu jauh dariku.”

“Sudahlah, Kang. Anggap saja kami tiada. Atau kita tidak pernah bertemu sebelumnya.”

“Dik, bukankah berdosa jika memutuskan silaturahmi?”

“Kang, dosa terbesarku adalah dulu ketika aku begitu mencintaimu, hingga melupakan-Nya. Saat itu kepalaku hanya dipenuhi oleh dirimu. Aku lupa akan kewajibanku sebagai manusia untuk bersujud kepada-Nya. Saat kau meninggalkanku, aku tahu bahwa Tuhan telah menghukumku. Ya, Kang, tak akan kuulangi lagi kesalahanku.”

Dik, dulu aku memang melalaikan-Nya. Dia telah memberikan wanita terbaik di sampingku, namun aku tak pernah mensyukurinya. Aku pun telah mendapatkan hukumannya, Dik. Masih adakah kesempatan untukku? Aku berjanji akan menjadi imam yang baik untukmu, dan anak kita.

***

Mimpikah ini Dik, aku melihatmu di ambang pintu. Kurasa tidak, karena terasa sakit saat kulitku kucubit.

“Kang, sudah kuputuskan, kau boleh menemui Ryan kapan pun kau mau.”

“Benarkah??!! Apa ini berarti kau menerimaku kembali? Kita rajut kembali kisah kita dulu?”

“Maafkan aku, Kang. Untuk itu aku telah menguburkannya dalam-dalam. Kedatanganku kemari adalah untuk ini.”

Dik, kali ini aku berharap sedang bermimpi, ketika kau serahkan sepucuk undangan bersampul biru, tertulis namamu dengan satu nama, Setiadi.

#Dimuat dalam Antologi Cerpen FBS UNY 2008, Kenangan: Esok Pasti Cerah.