Seni & Budaya

Pengalaman Mengikuti Diskusi Budaya di Bangsal Prabeya, Keraton, Yogyakarta

Hari Minggu pagi tanggal 5 Agustus 2018, warga Jalan Magangan Kulon tengah berbenah untuk menyambut HUT RI ke-73. Lagu-lagu kebangsaan diputar sementara para warga bergotong-royong memasang bendera, umbul-umbul, dan pernak-pernik HUT RI lainnya. Pada saat yang sama, di salah satu sudut Jalan Magangan Kulon, tepatnya sekitar 50 meter dari regol Kemagangan, berkumpul 50-an orang dari berbagai komunitas, media, dan masyarakat umum. Dengan wajah antusias, mereka siap menerima wawasan baru dalam diskusi budaya yang mengangkat tema “Gunungan, Simbol dan Maknanya”. Saya senang sekali bisa menjadi bagian dari masyarakat umum yang berkesempatan mengikuti diskusi tersebut.

Diskusi tersebut diselenggarakan di Bangsal Prabeya, konon merupakan sebuah bangunan yang digunakan sebagai dapur Keraton. Di belakang Bangsal Prabeya ini terdapat regol yang terhubung dengan Keraton Kilen, tempat tinggal HB X. Adapun diskusi budaya tersebut diselenggarakan oleh Malam Museum yang bekerja sama dengan Tepas Tandha Yekti. Mas Erwin, founder komunitas Malam Museum, mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya diskusi budaya tersebut adalah dalam rangka mengajak anak-anak muda, khususnya para generasi millennial, agar lebih aware terhadap budaya bangsa sendiri. Dalam kesempatan itu pula, Mas Erwin mengimbau agar para peserta berkenan untuk menuliskan kembali apa yang telah didapat dari diskusi. Apa pun bentuknya. Baik berupa blog post, maupun sekadar postingan di medsos.

Diskusi Budaya 1
Mas Erwin sedang menjelaskan tujuan diselenggarakannya acara diskusi budaya kepada para peserta

Diskusi diawali dengan perkenalan singkat tentang Tepas Tandha Yekti oleh GKR Hayu (penghageng Tepas Tandha Yekti) dan Mas Wiwit selaku pimpinan produksi yang bertanggung jawab mengurusi online present Keraton Yogyakarta. Jadi, sederhananya, Mas Wiwit itu tuh bertugas membuat konten untuk memperkenalkan Keraton Yogyakarta melalui media online, seperti website, Instagram, Twitter, dan bahkan Youtube.

Acara selanjutnya adalah pemutaran video terkait gunungan dan dilanjutkan ke pembahasan tema utama diskusi dengan narasumber KRT Kusumonegoro (penghageng Tepas Keprajuritan). Jujur saja, nih. Meskipun saya sering menonton upacara garebeg dan mengaku sebagai penggemar berat dari prajurit Keraton, ternyata pengetahuan saya tentang gunungan masih sedikit sekali. Dari diskusi ini, saya jadi tahu lebih banyak mengenai gunungan. Mulai dari sejarah, cara pembuatan, makna simbolik, hingga detail-detail terkecil yang terkait dengannya. Lebih lanjut tetang gunungan ini, nanti saya ceritakan di postingan yang lain saja, ya. Insya Allah.

Diskusi Budaya 3
Kiri-kanan: GKR Hayu (penghageng Tepas Tandha Yekti), Mas Wiwit (Pimpro Tepas Tandha Yekti), Mas Erwin (founder komunitas Malam Museum)
Diskusi Budaya 4
KRT Kusumonegoro, penghageng Tepas Keprajuritan selaku pembicara 

Acara diskusi menjadi semakin semarak ketika dibuka sesi tanya jawab. Saya sempat menanyakan kepada pembicara tentang sikap masyarakat yang menjadikan bahan-bahan makanan yang mereka dapatkan dari merayah gunungan tersebut sebagai jimat. Ada yang meletakkannya di sawah dengan harapan panen jadi lancar. Pun ada yang menyimpannya di tempat-tempat tertentu sebagai tolak bala. Apakah memang seperti itu tujuan dari pembagian gunungan sebenarnya?

Menjawab pertanyaan saya tersebut, KRT Kusumonegoro mengatakan bahwa sikap masyarakat tersebut merupakan wujud dari betapa tingginya penghormatan mereka terhadap Keraton, sehingga menganggap segala sesuatu yang berasal dari dalam Keraton merupakan benda bertuah. Padahal, tujuan dari pembagian gunungan sendiri adalah untuk sedekah. Dengan demikian, sebenarnya bahan-bahan makanan dari gunungan itu tentu sebaiknya dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Dengan sedikit berseloroh, beliau berkata bahwa jika suatu hari nanti saya berhasil dapat sayuran hasil rayahan gunungan, lebih baik dimasak jadi jangan mbayung saja (sayur daun lembayung). Haha

Acara diskusi ditutup dengan foto bersama. Dan, saya berkesempatan berfoto bersama Gusti Hayu. :’)

Diskusi-Budaya-2-2380903516-1535777178199.jpg
Bersama GKR Hayu

Senang sekali bisa mengikuti acara yang sangat berfaedah ini, meskipun saya bukan termasuk bagian dari generasi milenial yang dimaksud oleh Mas Erwin. :)) Harapannya. acara-acara semacam ini dapat terus berlanjut dan mendapat semakin banyak peminat. Sebab seperti tujuan dari acara ini, acara-acara seperti ini bisa menjadi upaya untuk membuat generasi muda tetap memahami dan mencintai kebudayaan bangsa sendiri di tengah era globalisasi. Semoga.

Seni & Budaya

Prajurit Jogokaryo, Sang Penjaga Keamanan Kerajaan

4.Jagakarya
Gambar diambil dari web https://www.kratonjogja.id

Prajurit Jogokaryo dulu merupakan pasukan yang bertugas menjaga keamanan dan jalannya pemerintahan di kerajaan. Namanya berasal dari gabungan bahasa sansekerta ‘jogo’ yang berarti menjaga serta dari bahasa kawi ‘karyo’ yang berarti tugas atau pekerjaan. Dalam iring-iringan bregada prajurit Keraton Yogyakarta, Prajurit Jogokaryo berada pada urutan keempat setelah Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaeng, dan Prajurit Patangpuluh.

Dalam satu pasukan, Prajurit Jogokaryo terdiri atas 4 orang perwira, 8 orang bintara, 72 orang prajurit, serta 1 orang prajurit yang bertugas membawa dwaja atau panji-panji pasukan. Panji dari Prajurit Jogokaryo memiliki warna dasar merah dengan lingkaran berwarna hijau di bagian tengahnya, yang diberi nama papasan. Konon, nama tersebut memiliki makna “memapas” atau “menumpas”. Melambangkan Prajurit Jogokaryo sebagai pasukan yang gagah berani menumpas musuh-musuhnya.

Seragam yang dikenakan oleh Prajurit Jogokaryo berupa pakaian bermotif lurik dengan topi tempelangan (berbentuk kapal terbalik) berwarna hitam. Selain Jogokaryo, ada tiga pasukan lagi yang juga memakai pakaian bermotif lurik, yaitu Prajurit Patangpuluh, Prajurit Ketanggung, dan Prajurit Mantrijero. Prajurit Patangpuluh mengenakan atasan lurik dengan celana berwarna merah, Prajurit Ketanggung mengenakan atasan lurik dengan celana berwarna hitam, sementara Prajurit Matrijero dan Jogokaryo sama-sama memakai atasan dan celana lurik. Perbedaannya ada pada kaus kaki yang mereka kenakan. Prajurit Mantrijero memakai kaus kaki berwarna putih, sedangkan Prajurit Jogokaryo mengenakan kaus kaki berwarna hitam.

Gladi Resik Jogokaryo
Gambar dokumen pribadi

Prajurit Jogokaryo memiliki persenjataan berupa senapan, tombak, serta keris. Dalam iring-iringan kirab Prajurit Keraton, mereka juga dilengkapi dengan seperangkat alat musik, yaitu tambur, seruling, dan terompet. Ada dua macam iringan musik yang dimainkan oleh Prajurit Jogokaryo, yaitu Mars Tamengmaduro ketika mereka sedang berjalan cepat dan Mars Slanggunder ketika mereka sedang berjalan lambat dengan langkah yang sedikit digayakan.

Saya berkesempatan mengabadikan momen Prajurit Jogokaryo ini dalam gladi resik untuk acara Grebeg Syawal tahun Dal 1951, di Alun-alun Utara tanggal 10 Juni 2018 yang lalu. Suara terompet yang dibunyikan dengan irama khas sebagai penanda datangnya para Prajurit Jogokaryo, selalu berhasil membuat saya terkesima. Meskipun saat ini peran dari Prajurit Jogokaryo sudah sangat berbeda daripada dulu, akan tetapi pesona mereka serta kesembilan bregada lainnya tetap menarik perhatian masyarakat. Dan, saya termasuk di antaranya.

Seni & Budaya

Asyiknya Nonton Gladhen Prajurit di Tengah Gerimis

Nonton kirab prajurit kraton merupakan agenda yang saya gemari sejak kecil. Waktu kecil, saya akan senang sekali ketika almarhum simbah wedok (mbah putri) mengajak saya ke alun-alun utara yang jaraknya tak jauh dari rumah untuk menyaksikan acara garebeg. Apa yang saya tunggu di acara itu? Tentu saja iring-iringan prajurit kraton yang mengantarkan gunungan keluar dari dalam kraton untuk selanjutnya nanti akan dirayah atau dibagi-bagikan ke masyarakat. Iring-iringan bregada prajurit kraton yang berbaris dengan diiringi istrumen perpaduan genderang, seruling, dan terompet yang dibunyikan dengan irama lambat sungguh membuat saya terpesona.

Bahkan, saya tak segan  duduk bersila dengan nyaman di atas rumput pinggir trotoar. Tak peduli jika sesekali harus menggaruk kaki yang gatal akibat digigit semut api yang bersarang pada akar rumput di dalam tanah. Hal ini tentu sudah tak bisa lagi saya lakukan saat ini. Selain karena rumput yang ada di alun-alun tidak serimbun dulu sehingga tidak memungkinkan untuk bersila di sana, juga karena sudah tua oiii… jadi nggak bisa sebebas waktu masih kecil. Hahaha

Namun demikian, bertambahnya usia tidak menyurutkan kegemaran saya untuk nonton kirab prajurit Kraton. Dulu, selain di acara Garebegnya, saya biasanya juga menyaksikan arak-arakan para prajurit itu ketika mereka latihan dan lewat di depan rumah. 😀 Namun, belakangan pihak pariwisata Kraton membuat agenda sendiri untuk latihan prajurit ini sehingga bisa disaksikan oleh masyarakat luas. Agenda tersebut diberi tajuk “Gladhen Prajurit”. Nah, pada postingan ini saya mau cerita pengalaman saya waktu nonton gladhen prajurit dalam rangka acara Garebeg Maulud tahun Dal 1951. Late post banget sih emang. 😀

GP 1
Hujan-hujan stand by di alun-alun utara 😀

Dalam setahun, setidaknya ada tiga kali acara garebeg, yaitu pada waktu Idulfitri, Iduladha, dan Maulud Nabi Muhammad saw. Dari masing-masing acara garebeg tersebut, pasti ada gladhen-nya. Saya kurang tahu juga berapa kali persisnya mereka latihan. Tapi, acara “Gladhen Prajurit” selalu bisa ditonton setidaknya dalam tiga kali garebeg itu. Dalam acara gladhen ini, para prajurit belum memakai kostum dan atribut lengkap. Mereka memakai “pakaian dinas”-nya para abdi dalem. Kalau tidak salah, pakaian ini disebut dengan nama “baju peranakan”, yaitu satu set baju atasan lurik, bawahan jarik, serta ikat kepala blangkon. Tak ketinggalan keris yang terselip di pinggang.

Terkait baju peranakan, ternyata setiap detail dari baju ini memiliki makna tersendiri, loh. Dari laman Facebook Kraton Jogja dijelaskan bahwa dalam baju peranakan terdapat 6 buah kancing di bagian leher yang melambangkan rukun iman dan 5 buah kancing di ujung lengan menyimbolkan rukun Islam. Adapun nama “peranakan” itu sendiri memiliki makna “satu keturunan”. Nama ini bukan tanpa maksud. Kata “peranakan” dipilih untuk menjadi nama pakaian dinas para abdi dalem sebagai wujud harapan agar para abdi dalem satu sama lain saling menjaga hubungan harmonis layaknya saudara kandung atau saudara satu keturunan.

GP 2
Para prajurit  keraton Yogyakarta dengan pakaian peranakan

Kembali ke acara Gladhen Prajurit, waktu itu saya sempat pesimis tidak jadi nonton acara yang sudah saya tunggu-tunggu ini, sebab tiba-tiba hujan turun deras sekali. Sampai pada jam di mana acara seharusnya dimulai, hujan tidak kunjung reda. Malah semakin deras. Saya pikir, “Ah, jangan-jangan gladhen-nya juga nggak jadi, nih. Hujan begini.” Tapi, tak lama kemudian, dari rumah terdengar sayup-sayup suara terompet dan genderang. Walah… sudah mulai yak! Akhirnya, saya dan kawan nekat pakai payung menuju ke lokasi.

Awalnya kami menyaksikan arak-arakan mereka dari Kemandhungan Ler atau Keben. Di tengah hujan deras, para prajurit itu tetap semangat menabuh genderang, meniup terompet, dan berbaris masuk ke dalam salah satu areal di Keraton, yang kemudian nanti akan keluar kembali melalui gerbang Pagelaran Keraton. Salut, deh. Para prajurit itu yang sebagian juga terdiri dari bapak-bapak sepuh, tetap semangat meski hujan sedang lebat.

GP 3
Tetap semangat meski sedang hujan

Karena kami nggak boleh ikut masuk ke dalam areal Kraton, maka dari Kemandungan Ler kami kemudian langsung ngacir ke alun-alun utara dan menunggu para prajurit keluar dari pintu gerbang Pagelaran Kraton. Di sana, ternyata banyak juga orang-orang yang sudah berdiri di tepi trotoar untuk menyaksikan Gladhen Prajurit. Meski waktu itu hujan belum sepenuhnya reda. Masih ada gerimis tipis-tipis.

Nah, karena pada waktu itu bertepatan dengan tahun Dal, maka rangkaian acara garebeg pada waktu itu pun berbeda dari tahun-tahun biasanya. Konon tahun Dal ini hanya terjadi selama 8 tahun sekali, demikian kata salah satu bapak prajuritnya waktu saya tanya. Jadi, kalau biasanya gunungan akan langsung dirayah oleh masyarakat sebagai bentuk sedekah dari Sri Sultan, pada tahun tahun Dal ini ada satu gunungan lagi yang harus para prajurit bawa pulang kembali ke keraton untuk dibagikan kepada para kerabat Keraton. Gunungan tersebut dinamakan gunungan Bromo. Sebelumnya, gunungan Bromo akan ikut diarak bersama gunungan yang lain. Dua gunungan lanang kemudian dibawa ke Kepatihan dan Puro Pakualaman, lima gunungan dibagikan kepada masyarakat di pelataran Masjid Gedhe Kauman, sedangkan gunungan Bromo dibawa kembali ke Kraton. Pada waktu gladhen, gunungannya belum dibawa tentu saja.

GP 4
Menunggu gunungan Bromo dibacakan doa di pelataran Masjid Gedhe Kauman

Bagi saya sendiri, sebenarnya lebih menyukai nonton Gladhen Prajurit daripada waktu acara garebeg-nya. Meskipun belum ada gunungan serta para prajuritnya belum memakai atribut dan kostum lengkap, tapi saya lebih bisa menikmati rangkaian acaranya. Sebab, pada waktu garebeg biasanya akan crowded sekali. Alih-alih menikmati acara, saya harus berjibaku senggol-senggolan dengan penonton lainnya. Pernah suatu kali, saya hampir berakhir di tangan paramedis karena dehidrasi waktu nonton garebeg. Untung nggak pingsan. Kan, malu kalau sampai pingsan. 😀