Buku

[Book Review] Misteri Bilik Korek Api: Rumah Kosong, Sumur Tua, dan “Penglihatan” Emola

8MnvxVwr

Judul: Misteri Bilik Korek Api

Penulis: Ruwi Meita

Penerbit: Grasindo

Tebal: 238 halaman

Terbit: Oktober 2017

Blurb:

Sejak bayi Sunday tinggal di panti asuhan sehingga dia sama sekali buta dengan Ambon, daerah asalnya. Sampai Emola datang, lalu mengingatkan Sunday dengan asal-usulnya yang samar.

Suatu hari mereka menumukan bilik penuh tempelan korek api saat pindah panti asuhan yang baru. Sejak saat itu, kecelakaan demi kecelakaan menimpa teman-teman sekamar Sunday. Sunday mencurigai Emola berkaitan dengan semua kesialan yang terjadi. Bagaimana tidak? Emola memiliki kepribadian yang misterius, minim bicara, dan hanya mendendangkan lagu daerah asalnya sambil menggenggam bandul kalung yang dibungkus kain putih.

Lalu, siapa giliran berikutnya yang bakal celaka?

Dia?

Mereka?

Kamu?

Menyelesaikan membaca buku ini beberapa hari yang lalu. Dan, perlu menenangkan diri sejenak sebelum bisa menulis review ini. :))

Banyak yang saya suka dari buku ini. Pertama, jalan ceritanya yang penuh dengan teka-teki, membuat saya enggan untuk melepaskan buku ini setelah membaca lembar-lembar pertama. Menegangkan sekaligus bikin penasaran. Kedua, buku ini dituliskan dengan dua sudut pandang yang saling melengkapi. Kita akan membaca sisi gaib dari sudut pandang Emola, dan dunia yang kasat mata dari sudut pandang Sunday.

Ketiga, karakter tokoh yang unik. Emola mengingatkan saya kepada Christopher Boone di buku Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran. Setidaknya, bagaimana pusingnya kepala saya saat membaca jalan pikiran Emola, sama seperti ketika saya membaca jalan pikiran Christopher di buku tersebut. Christopher adalah seorang anak penderita sindrom asperger yang berusaha memecahkan kasus pembunuhan anjing tetangganya. Sedangkan, Emola adalah anak yang bisa mendengar warna-warna bersuara. Kalau tidak salah ingat, dari artikel yang pernah saya baca, kondisi Emola ini disebut dengan synesthesia. CMIIW. Hebatnya, selain menderita synesthesia, Emola juga anak indigo dan suka berhalusinasi melihat manusia seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Walah! Complicated sekali hidup Emola ini.

Hal lain yang saya sukai dari buku ini adalah saya jadi dapat banyak informasi baru. Tentang filumenis, John Walker, rumah jengki, permainan ancong-ancong, dll. Kereeenn… sekali pokoknya!

Kutipan favorit:

“Kadang menangis akan membantumu menyadari arti kekuatan.” – Nugi kepada Sunday. Aww… so sweet. :’)

Senang sekali bisa mendapatkan buku yang bagus ini dari sebuah giveaway. Apalagi, hadiahnya melebihi ekspektasi. Padahal saya dikasih buku saja sudah bahagia. Nah, ini saya malah dapat lengkap. Buku plus tanda tangan penulis, stiker, pin, juga pensil bunga mawar. Wuaaa… 😀 Bunga mawar ini bisa berarti mistis, bisa juga bermakna romantis. Hahaha terima kasiiihh…. *emoticon ketjup*

 

Buku

[Book Review] Gerbang Dialog Danur: Persahabatan Anak Manusia dengan Hantu

jPxgzvyy

Judul: Gerbang Dialog Danur

Penulis: Risa Saraswati

Penerbit: Bukune

Tebal: 224 halaman

Terbit: Januari 2012

Jangan heran jika mendapatiku sedang bicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat bersamaku. Saat itu, mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.

Kalian mungkin tak melihatnya. Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut… hantu–jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.

Jujur, sebenarnya saya ini penakut. Jangankan berurusan dengan hantu, mau ke kamar mandi di rumah tengah malam saja saya tidak berani. Namun, saya memiliki kesenangan yang aneh terhadap cerita-cerita atau film horor. Pada kondisi tertentu, saya membutuhkannya sebagai pelarian ketika hidup terasa mulai penuh dengan drama. Melihat tokoh di film-film tersebut dikejar hantu, saya jadi lebih bersyukur karena segala kegalauan yang sedang saya alami tidak ada apa-apanya dibanding dengan penderitaan mereka. Hahaha #ditendang

Karena kegemaran tersebut, sampailah buku ini ke tangan saya. Buku yang sangat menarik, menurut saya. Berbeda dari buku-buku bergenre horor lainnya, yang umumnya berisi full teror dari bangsa hantu. Di buku ini saya menemui hantu-hantu yang friendly, tampan, dan menggemaskan. Buku ini menceritakan tentang Risa, seorang anak manusia yang dikaruniai kemampuan dapat melihat makhluk tak kasat mata. Dengan kemampuannya itu, Risa kemudian berkenalan dengan lima hantu anak Belanda yang kemudian menjadi sahabatnya.

Peter, William, Hans, Hendrick, dan Janshen, nama lima sahabat hantunya itu. Kelimanya meninggal secara tragis akibat kekejaman Nippon. Mereka tidak langsung pergi menuju kedamaian, akan tetapi malah bergentayangan untuk menemukan sesuatu yang berharga dan mereka cintai dalam hidup mereka dulu.

“Aku tak mengkhawatirkan Papa, dia dapat melindungi dirinya sendiri. Aku mengkhawatirkan Mama, selamanya akan kucari Mama.” – Peter

Peter Cs membuat hari-hari Risa yang sebelumnya sepi menjadi lebih berwarna. Mereka selalu menemani Risa ke sekolah, mengusir hantu-hantu jahil yang mengganggu, bermain dan tertawa bersama. Namun, sebagaimana dalam kehidupan di dunia, yang namanya persahabatan pasti mengalami pasang surut. Suatu hari, Peter Cs marah karena Risa tak bisa menepati janjinya untuk ikut ke alam mereka pada usianya yang ke-13. Kelima sahabat hantunya itu marah, lalu pergi meninggalkannya.

Semenjak kepergian Peter Cs, hari-hari Risa pun mulai penuh teror. Hantu-hantu yang mendatanginya bukan lagi hantu-hantu bule yang necis dan cakep, melainkan hantu-hantu yang menyeramkan dan buruk rupa. Paling bikin saya merinding adalah hantu korban kebakaran bioskop dari Jogja. Ngeri banget penggambaran wujudnya, suwer. 🙁 Hantu-hantu tersebut mendatangi Risa untuk menceritakan kisah-kisah mereka semasa hidup hingga akhirnya menjadi arwah penasaran.

Nah, yang menarik di sini adalah kita jadi kayak bimbingan konseling dengan hantu gitu. 😀 Banyak petuah-petuah kehidupan dari kisah-kisah flashback para hantu tersebut. Membaca kisah-kisah para hantu yang tragis dan menyedihkan itu, seharusnya membuat kita bersyukur dan lebih menghargai kehidupan ini.

“Baru kali ini aku mengerti alasan kenapa mereka selalu mengeluarkan suara tangisan pilu. Baru sekarang aku tahu kenapa mereka selalu membuat suara-suara tawa mengerikan. Mereka sedang menangisi diri mereka sendiri, dan segala penyesalan atas apa yang telah mereka lakukan. Mereka juga sedang menertawakan diri mereka, yang begitu bodoh membuat sebuah keputusan.” – hlm. 116

Last, buku ini asyik juga kalau dibaca sambil dengerin lagu Bilur-nya Kak Risa Saraswati yang gloomy banget itu. Biar makin gregets.

Suka-Suka

Mengenal Sadako Sasasi & Sadako Yamamura

Kalau disebut nama Sadako, barangkali yang terbayang di benak kita adalah hantu Jepang yang suka muncul dari layar televisi, kemudian menghampiri korbannya. Sebagai orang yang menyukai film horor, tentu saya kenal dengan Sadako. Sosok ini mulai dikenal masyarakat melalui film “Ringgu” atau “The Ring” yang diadaptasi dari novel karya Koji Suzuki. Sosok ini pulalah yang kemarin menjadi salah satu tujuan saya datang ke acara Asian Food Festival di Jogjakarta Expo Center beberapa waktu yang lalu.

Iya, kadang selera saya memang seaneh itu. Bukannya mencicip makanannya, malah mengincar hantunya. Mwahahaha

wp-1478850377098
Ketemu Sadako di Asian Food Festival 😀

Begitu melekatnya sosok hantu Sadako di dalam ingatan masyarakat, sehingga nama Sadako dianggap sebagai nama dari hantu Jepang itu sendiri. Sebagaimana kita kalau menyebut nama Drakula, Vampire, atau Kalong Wewe. Padahal sebenarnya, Sadako merupakan nama orang, yang secara etimologi memiliki arti sangat jauh dari citra hantu Sadako dalam ingatan masyarakat selama ini. Secara etimologi, Sadako terbangun dari dua kata “Sada” dan “Ko”, yang artinya “anak yang suci”. Pada masanya, nama Sadako ini merupakan nama yang populer di Jepang, dan menjadi pilihan para orangtua untuk menamai anak perempuannya. Di Jepang, ada dua nama Sadako yang sangat melegenda dan dijadikan sebagai simbol budaya negara tersebut, yaitu Sadako Sasaki dan Sadako Yamamura.

Sadako Sasasi adalah seorang anak korban bom atom Hirosima. Saat bom atom dijatuhkan di kota Hirosima pada 6 Agustus 1945, Sadako Sasasi sedang berada di rumahnya yang terletak sekitar 1 mil dari lokasi Ground Zero. Beberapa bulan setelahnya, Sadako Sasasi didiagnosis menderita Leukemia, dampak dari radiasi bom atom itu.

Selama tinggal di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, Sadako Sasasi selalu membuat origami berbentuk burung bangau. Konon menurut legenda di Jepang, barangsiapa yang dapat melipat seribu bangau kertas, maka segala permohonannya akan dikabulkan oleh Dewa. Namun, baru 644 burung bangau yang berhasil dibuatnya, Sadako Sasaki sudah tak sanggup lagi melawan penyakitnya. Ia meninggal dunia pada 25 Oktober 1955, di usia 12 tahun. Kisah Sadako Sasaki ini sangat menginspirasi dan dikenang oleh banyak masyarakat sebagai simbol harapan dan ketegaran. Kisahnya juga dituliskan ke dalam sebuah buku berjudul Sadako and the Thousand Paper Cranes. Bahkan, pada tahun 1958, dibuat sebuah patung berbentuk Sadako Sasaki sedang memegang bangau kertas, guna mengenang kisah luar biasa seorang gadis kecil yang melipat 1.000 burung kertas sebelum kematiannya.

sadako_statue_at_noborichc58d_junior_high_-_1985-1
Patung Sadako Sasaki (Gambar diambil dari wikipedi.org)

Lain halnya dengan Sadako Yamamura. Sadako Yamamura merupakan tokoh fiksi dalam novel karangan Koji Suzuki yang kemudian diadaptasi menjadi film trilogi “The Ring”. Dalam film tersebut, diceritakan bahwa Sadako Yamamura adalah seorang gadis cantik yang lahir dari hasil perkawinan ibunya dengan setan. Karena keturunan setan, Sadako Yamamura memiliki kekuatan jahat yang terpendam, sehingga dia harus dikurung sepanjang hidupnya.

Suatu hari, ayah angkatnya yang sangat ketakutan terhadap kekuatan jahat Sadako, merencanakan pembunuhan terhadapnya. Sang ayah memukul Sadako, lalu memasukkannya ke dalam sumur. Sadako masih hidup saat dimasukkan ke dalam sumur, tetapi akhirnya dia meninggal karena kelaparan. Dalam keadaan penuh amarah atas nasib malang yang dia alami semasa hidupnya. Arwah Sadako Yamamura kemudian sering berkeliaran untuk menebar kutukan dan membalas dendam.

Yap, Sadako Yamamura adalah Sadako hantu Jepang yang kita kenal selama ini.

sadako-yamamura
Sadako Yamamura di film Ringgu 1998 (Gambar diambil dari http://villains.wikia.com/)

Hantu Sadako Yamamura digambarkan sebagai seorang wanita berambut panjang, berbaju putih panjang, dan berwajah pucat dengan ekspresi penuh kemarahan yang menyeramkan. Kalau dipikir-pikir … wujud hantu Sadako ini sangat mirip dengan hantu dari Indonesia. Tahu, kan, siapa dia? Ah, tak perlu sebut namanya, sebab katanya bahkan hanya dengan memikirkannya saja, dia akan hadir di sekitar kita. Nah, loh!

Coba cek, siapa tahu ada yang sudah hadir di belakangmu.

Suka-Suka

Uji Nyali di Ruang Forensik

Gambar diambil dari https://pixabay.com

Seumur-umur, nggak pernah tebersit sedikit pun di benak saya bakal masuk ke dalam ruang forensik. Dari film-film horor yang saya tonton, ataupun dari berita-berita di televisi, tentu saya sudah bisa menyimpulkan apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Dan meskipun saya menyukai nonton film horor, tapi saya tidak ingin dekat-dekat dengan hal-hal yang berbau horor di real life.

Namun hari itu, rupanya takdir menentukan bahwa saya harus merasakan pengalaman horor dalam arti yang sebenarnya. Berawal ketika malam takbir, seorang kawan mengirim pesan via whatsapp. Dia mengucapkan Minal Aidzin wal Faidzin, plus minta doa untuk kesembuhan ibunya yang baru saja masuk ICU karena sakit jantung koroner. Di saat orang lain sedang bersukacita menyambut Lebaran, dia harus berduka karena ibunya sakit. 🙁

Karena sampai H+3 Lebaran kami masih disibukkan oleh agenda bersama keluarga masing-masing, akhirnya pada H+5 Lebaran, saya dan seorang kawan sepakat untuk menjenguk ibu kawan kami (kalimat macam apa ini? -_- *editor gagal*). Jam 4 sore pada waktu itu, sesuai jam besuk di RS. Habis Asar kami on the way ke RS. Baru separuh perjalanan ketika kawan kami tersebut update status via Blackberry Messenger, mengabarkan bahwa ibunya baru saja meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….

Pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman ini adalah jangan menunda-nunda untuk membesuk orang sakit. Sebab, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya.

Singkat cerita, akhirnya kami menemaninya mengurus kepulangan jenazah. Awalnya kami hanya menunggu di depan pintu ruang forensik sementara kawan kami itu ikut memandikan jenazah ibunya. Kami sekadar membantu menjaga barang-barang bawaannya (mau ikut mandiin jenazah nggak berani, Gengs…). Sampai jelang Isya, urusan belum selesai, padahal kami belum salat Magrib. Akhirnya kami tanya letak musala terdekat ke petugas. Lalu, kami ditunjukkan musala yang ada di ruang forensik. I repeat, di dalam ruang forensik. Di kamar mayat! 😐

Ya udah, mau gimana lagi? Masa iya mau skip salat Magrib?

Letak musala itu ada di paling ujung ruangan. Mau nggak mau kami jadi masuk. Sepanjang koridor ruangan itu horor secara harfiah. Bahkan, kolam koi nan cantik yang terletak di tengah ruangan tidak bisa mengurangi kesan horor sedikit pun. Dan, inilah yang kami temui di sana: ruang administrasi yang terletak di depan, dekat pintu masuk; kamar yang berisi brankar-brankar, ada dua jenazah di sana; ruangan tertutup entah apa isinya, di depannya terdapat rak yang berisi sepatu-sepatu boots dan sarung tangan segala ukuran; dan yang paling horor adalah … lemari terbuat dari besi, saya diasumsikan itu merupakan lemari pendingin yang tanpa melihatnya pun sudah bisa diduga apa isinya (setidaknya berdasarkan bau-bau aneh yang tercium di sana 🙁 ); tiga toilet, dan akhirnya sampailah kami di musala.

Setelah salat Magrib (dengan tidak khusyuk), kami harus kembali melewati kehororan tadi menuju pintu depan. Dan entah hanya perasaan saya saja, atau memang penerangan di sepanjang ruangan itu remang-remang. Berbeda dengan di lobinya. Kami lanjut menunggu di depan ruangan, sambil mencoba untuk tak menghiraukan brankar-brankar berisi jenazah yang keluar masuk. Ada yang sudah dijemput keluarga, ada yang baru datang dari ICU untuk dimandikan.

Saya tidak dapat mendeskripsikan bagaimana perasaan saya sendiri pada waktu itu. Campur aduk pokoknya. Antara merinding karena horor, juga ngeri membayangkan cepat atau lambat hal yang demikian juga akan terjadi pada diri sendiri. Lalu, teringat dosa-dosa yang masih menggunung tinggi. *kemudian istigfar tobat*