Buku

[Book Review] Gado-Gado dan Sushi: Mengintip Keunikan Orang Jepang dalam Kisah Keseharian Ibu dan Anak-Anaknya

Bv6u2Ev6

Judul: Gado-Gado dan Sushi

Penulis: Yunitha Fairani

Penerbit: Gramedia

Tebal: 183 halaman

Terbit: Januari 2013

Negara Jepang dalam benak kita selama ini barangkali identik dengan rasa kagum dan juga rasa heran. Tak dapat dipungkiri, hal-hal yang berkaitan dengan negeri sakura tersebut memang dapat membuat kita terkagum-kagum sekaligus terheran-heran dalam suatu waktu. Etos, kedisiplinan, serta pola pikir mereka yang maju akan membuat kita berdecak kagum. Sedangkan, tradisi dan kegiatan-kegiatan mereka yang tak jarang unik serta nyeleneh akan membuat kita ternganga heran.

Buku ini berisi tentang keseharian seorang ibu rumah tangga asal Indonesia yang harus ikut suaminya yang berasal dari Jepang. Di dalam buku ini, beliau menceritakan bagaimana suka duka beradaptasi di lingkungan baru dengan tradisi dan kebiasaan yang sangat berbeda dengan tradisi serta kebiasaan di negara asalnya, Indonesia. Ada beberapa hal yang cukup menarik perhatian saya dan membuat saya berdecak kagum saat membaca buku ini.

Pertama, pola pendidikan dan pengasuhan di Jepang. Orang-orang Jepang tidak menuntut anak-anak mereka untuk bersaing menjadi yang nomor satu. Cukup menjadi satu-satunya. Setiap orang memang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dia hanya akan menjadi satu-satunya di dunia, tidak ada manusia lain yang akan menyamainya. Jadi, mengeksplorasi bakat dan keterampilan yang ada di dalam diri anak secara maksimal akan lebih baik daripada menuntut anak untuk bersaing menjadi yang paling baik dibandingkan kawan-kawannya. Dengan cara ini, anak tidak akan merasa tertekan dan lelah karena harus bersaing dengan kawan-kawannya. Sebaliknya, mereka akan semangat mengeksplorasi hal-hal yang diminatinya, dengan arahan dari guru dan orang tua tentu saja.

“Janganlah bersedih jika tidak menjadi nomor satu. Tetapi, selalu berusaha untuk menjadi yang hanya satu.” – Hlm. 81-82

Seperti kutipan lirik lagu Sekai ni Hitotsu Dake no Hana, Bunga yang Hanya Satu-Satunya berikut ini. Lagu tersebut dinyanyikan pada waktu upacara perpisahan TK Naomi, anak sulung ibu penulis

Chiisai hana ya ookina hana Hitotsu onaji mono wa nai kara number one ni naranakutemo ii Motomoto tokubetsu only one.” – Hlm. 87)

Hal lain yang membuat saya takjub adalah semangat kerja sama dan kekompakan para ibu-ibu wali murid. Ada semacam klub/ekstrakurikuler untuk para ibu di sekolah anaknya masing-masing. Wow… keren ya. Kalau biasanya anak-anak yang sibuk sekolah dan ikut eskul rupa-rupa, di Jepang para ibu pun punya ekskul di tengah kesibukan tugas rumah tangga mereka. Tentu saja, para ibu rumah tangga juga butuh sarana untuk bersosialisasi dan aktualisasi diri, agar otak tetap waras di tengah urusan domestik yang padat. Nah, kalau di Indonesia umumnya para ibu cuma ikut arisan, di Jepang mereka ikut klub teater, klub memasak, dan beragam kegiatan lainnya.

Masih banyak lagi hal yang membuat saya mau tak mau membandingkannya dengan yang terjadi di negara sendiri. Seperti misalnya, ketika kita sudah 70% menguasai suatu bidang, di Indonesia kita akan menyebutnya “kita bisa”. Sementara di Jepang, mereka yang sudah 80-90% menguasai suatu bidang, mereka masih menganggap diri mereka “belum bisa”. Demikian perbedaan standar bisa dan tidak bisa di Jepang dengan di Indonesia. 😀

Di samping hal-hal yang membuat takjub, saya juga sering dibuat geli dan bahkan bergidik dengan kebiasaan-kebiasaan mereka yang tak lazim. Di Jepang yang notabene adalah negara sekuler, hampir semua masyarakatnya merayakan natal. Namun demikian, bagi mereka, natal bukanlah sebuah perayaan keagamaan, melainkan sebuah perayaan tahunan sebagaimana kita merayakan tahun baru dan perayaan yang lain. Hampir ngakak waktu baca bahwa sempat ada wacana di daerah mereka untuk mengganti natal dari bulan Desember ke bulan Agustus. Wkwkwk

“Karena bulan Desember adalah bulan yang sangat sibuk di Jepang, maka ada usul agar asosiasi sinterklas memindahkan Natal ke liburan musim panas atau sekitar bulan Agustus.” – Hlm. 154

Yang paling bikin ternganga sekaligus merinding adalah onsen. Onsen merupakan pemandian air panas di Jepang. Uniknya, di Onsen, orang-orang masuk ke tempat pemandian dengan tanpa sehelai pakaian pun. Mereka akan hilir mudik tanpa malu di depan banyak orang yang juga sedang mandi situ. Dan, hal itu dianggap wajar. Justru yang malu-malu yang akan dianggap aneh. Wew… Yah, meskipun pemandian laki-laki dan perempuan terpisah, tapi nggak gitu juga kali yaaa…

Terus apa lagi yaa… emm, sebenarnya banyak yang pengen saya ceritakan. Tapi, nanti jadi nggak seru lagi, dong. Jadi, kayaknya mending baca sendiri aja deh ya… 😀

Buku

 [Book Review] Momwriter’s Diary: Mengintip Seluk Beluk Kehidupan Ibu-Ibu Penulis

dtinta-1496637430316

Judul: Momwriter’s Diary

Penulis: Dian Kristiani

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer

Tebal: 139 halaman

Terbit: Oktober 2014

Kadang, saya ini suka berpikir kejauhan. Masih jomblo begini, saya sudah memikirkan bagaimana nanti kalau sudah jadi ibu rumah tangga. Masih bisa kerja nggak? Kira-kira saya bakalan bosan nggak kalau di rumah terus? Dan semacamnya.

Saya nggak akan memperdebatkan antara working mom dan juga fulltime mom. Karena menurut saya, mau jadi ibu berkarier atau ibu rumah tangga sepenuhnya, kesemuanya itu adalah pilihan yang kondisional dan telah dipikirkan untuk kebaikan bersama. Saya sendiri kalau ditanya kelak mau jadi working mom atau fulltime mom, saya nggak tahu jawabannya, karena belum tahu kondisinya gimana kelak. Yang pasti adalah, saya sedang ingin menyiapkan diri apabila kelak tidak bisa ngantor lagi karena urusan di ranah domestik tidak bisa ditinggalkan. Saya harus punya satu kegiatan sebagai aktualisasi diri, demi menyelamatkan kondisi psikis juga.

Nah, kegiatan semacam itulah yang dari kemarin saya cari-cari tapi nggak ketemu juga. Kawan-kawan saya yang kini jadi fulltime mommy, sebagian besar juga mulai memiliki kegiatan sampingan. Ada yang mengelola online shop, membuka usaha kuliner kecil-kecilan, menjual hasil rajutan, dan lain-lain. Lha, saya ini bisanya apa, ya? Ngurus olshop nggak telaten. Memasak, baru belajar. Merajut… ah, saya merajut asa doang bisanya. Hahaha Ranah yang saya bisa hanya seputar membaca, menulis, dan mengedit. 😀

Sampai akhirnya, saya menemukan buku ini. Momwriter. Sepertinya menarik juga untuk jadi salah satu kegiatan pilihan. Sambil ngurus rumah, sambil menulis. Entah nulis buku, nulis buat dikirim ke media, dan lain-lain. Yang penting tetap bisa aktualisasi diri.

Thanks to Ibu Dian, sungguh menginspirasi. Oh ya, di dalam buku ini termuat seluk-beluk tentang kepenulisan. Mulai dari mengenal outline, sampai memilih mau cari penerbit secara mandiri atau pakai agensi, mengenali agensi yang benar-benar bertanggung jawab “merawat” naskah penulisnya atau yang sekadar tukang forward email. :p Sedikit banyak, apa yang disampaikan dalam buku ini saya sudah tahu sebenarnya. Tapi, tips-tipsnya sangat bagus untuk dipraktikkan.

Gitu saja. Maaf curhatnya kepanjangan. =D

Buku

[Book Review] Dear Yurichika: Pesan dari Mama

dear-yurichika
Gambar diambil dari sini

Judul: Dear Yurichika

Penulis: Akiko Terenin

Penerbit: Elex Media Komputindo

Terbit: Desember 2013

Tebal: 168 halaman

Waktu divonis dokter menderita kanker yang sangat ganas, saat itu Mama sedang mengandung Yuria. Lalu, Mama dihadapkan pada dilema. Menjalani pengobatan kanker, yang berarti Mama harus merelakan janin di dalam kandungannya. Atau, mempertahankan Yuria dengan risiko nyawa Mama tidak dapat terselamatkan. Sungguh pilihan yang sulit, antara merelakan nyawa sendiri atau kehilangan bayi. Namun akhirnya, Mama berjanji akan melahirkan seorang bayi yang sehat untuk Papa.

Mama bertanya pada Papa, “Do you really want this baby?” Sambil menangis Papa menjawab, “Ya. Maafkan aku, ya. Tapi aku menginginkan kalian berdua (Yuria dan juga Mama).”

— hal. 85

Membaca buku ini, mengingatkan saya pada novel Sabtu Bersama Bapak. Keduanya, sama-sama menceritakan tentang orangtua yang dengan cinta dan kasihnya ingin selalu mendampingi anak mereka hingga dewasa, akan tetapi maut tak mengizinkannya. Tokoh bapak dalam novel Sabtu Bersama Bapak dan juga mama dalam buku Dear Yurichika ini, sama-sama divonis dokter tidak akan bertahan hidup hingga anak-anak mereka dewasa nanti akibat penyakit ganas yang menyerang tubuh mereka. Mendapati kenyataan itu, mereka lantas membuat sebuah “warisan” yang berisi nasihat-nasihat kehidupan untuk anak-anaknya. Nasihat yang mereka kemas dalam media tertentu. Dalam hal ini, Mama menulis surat.

Mama ingin selalu bisa melihat tawamu. Tetapi, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, Mama menuliskan saja semua yang ingin Mama katakan pada Yurichika.

— hal. 2

Yuria juga pasti nanti akan menghadapi masa-masa sulit. Mama ingin sekali membantumu menghadapinya!

— hal. 23

Ada banyak nasihat yang Mama tuliskan melalui surat-suratnya untuk Yuria. Mulai dari bagaimana sebaiknya bersikap dalam pertemanan, saat menghadapi pertengkaran dengan teman-teman, tentang masa kecil, tentang belajar, sekolah, dan guru, tentang hal-hal yang diperlukan sebagai anak perempuan, bahkan tentang cinta dan pernikahan. Dalam surat-suratnya, Mama juga menuliskan bagaimana perjuangannya saat melawan penyakit.

Saya emang agak bingung dengan nama Yuria dan Yurichika, sebab di buku ini menggunakan dua panggilan tersebut. Namun lebih dari itu, membaca buku ini cukup membuat saya tersentuh. Karena konon buku ini diangkat dari kisah nyata. Berdasarkan apendiks dan profil penulisnya, saya mendapatkan informasi bahwa Mama menyelesaikan catatannya untuk Yuria pada akhir tahun 2007. Setahun setelah Mama melahirkannya pada tahun 2006. Lalu, pada awal tahun 2008, Mama tak bisa lagi bertahan atas penyakitnya. Meninggalkan Yuria untuk selamanya.

Buku ini, menjadi bukti bahwa kasih sayang orangtua untuk anaknya akan tetap nyata betapapun maut telah memisahkan mereka.

Mama berharap Papa cepat kembali seperti sedia kala. Mama ingin menghabiskan waktu Mama yang tersisa bersama Yuria dan Papa. Dan andai memungkinkan, Mama ingin waktu yang tersisa ini diperpanjang. Mama belum mau mati … belum mau ….

— hal. 149

Suka-Suka

Bunga yang Mekar Ketika Mendengar Adzan

Beberapa hari yang lalu saya dibuat terkagum-kagum setelah membuka sebuah link yang di-share oleh teman saya. Sebuah link tentang bunga-bunga yang bermekaran ketika mendengar adzan. Bunga itu adalah milik seorang kolektor bunga yang berasal dari Ajerbaizan. Dia sudah mengoleksi berbagai jenis bunga selama lima belas tahun, oleh karena itu dia hafal jadwal bunga-bunga koleksinya itu bermekaran. Namun, di antara seluruh koleksi bunganya, ada satu bunga yang sangat spesial baginya, sebab bunga itu mekar setiap kali lantunan adzan berkumandang. Bunga tersebut kemudian diberi nama “Adzan Flowers”.

Fenomena ini sempat diliput oleh CNN. Berikut adalah videonya:

Dari video di atas, tampak bahwa bunga-bunga yang awalnya masih kuncup, mulai bermekaran ketika lantunan adzan diperdengarkan. Subhanallah… bukti bahwa sesungguhnya memang benar semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih pada Allah Swt.

Bunga itu contohnya, yang tadinya masih tertidur (kuncup) segera terbangun (mekar) ketika mendengar adzan berkumandang. Sebagai manusia—yang diberi kelebihan akal oleh Allah dibanding makhluk ciptaan-Nya yang lain—, saya jadi merasa tertohok. Sebab selama ini tidak segera bergegas ketika seruan untuk menghadap-Nya itu diperdengarkan. 🙂

“Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

(QS. At-Taghabun: 1)