Seni & Budaya

Menjenguk Keraton Yogyakarta di Masa Lalu dengan ‘Mesin Waktu’

Sejak kecil, saya sangat menyukai dongeng. Saya tinggal di perkampungan di dalam benteng Keraton Yogyakarta. Orang Yogya sering menyebut daerah tempat tinggal saya dengan nama jeron beteng. Di daerah jeron beteng, banyak sastra lisan seperti dongeng, asal-usul, mitos, tembang, dan sebagainya, yang tersebar di masyarakat setempat. Saya bersyukur masih sempat mendengar beberapa sastra lisan tersebut sebelum keberadaannya mulai punah seiring dengan berkembangnya zaman. Salah satu yang tak pernah saya lupa adalah tembang Mijil berikut ini.

Ing Mataram betengira inggil. Ngubengi kedhaton. Plengkung lima mung papat mengane. Jagang jero toyanira wening. Ringin pacak suji. Gayam turut lurung.

Terjemahan:

Di Mataram bentengnya tinggi. Mengelilingi keraton. Lima pintu gerbang, hanya empat yang terbuka. Parit yang dalam dan airnya jernih. Pohon beringin di-pacak suji. Pohon gayam sepanjang jalan.

Kali pertama saya mendengar tembang tersebut dari almarhum simbah putri. Beliau menyenandungkannya untuk saya lengkap dengan cerita tentang kerajaan dengan lima pintu gerbang, tetapi satu pintunya ditutup. Kata simbah, salah satu pintu gerbang tersebut ditutup karena di sana banyak maling.

Tahun 2008, saya mendapat kesempatan untuk melakukan penelitian terkait sastra-sastra lisan yang ada di wilayah jeron beteng dalam Program Kreativitas Mahasiswa. Sayang karena keterbatasan ilmu, saya dan tim tidak berhasil lolos hingga ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Namun demikian, saya cukup senang karena dari kegiatan tersebut, saya jadi tahu bahwa cerita simbah tentang kerajaan dengan lima pintu gerbang itu bukanlah kisah fiksi. Lalu, “maling” yang dimaksud oleh simbah bukanlah pencuri biasa, melainkan tentara Inggris.

Saat penelitian, kami melakukan interview ke beberapa penduduk setempat serta membaca banyak referensi. Dari situlah, saya tahu bahwa semua yang digambarkan dalam lirik tembang Mijil nyata adanya. Seperti mesin waktu, tembang Mijil tersebut seolah mengajak kita untuk menjenguk keraton Yogyakarta tempo dulu. Kalau begitu, mari kita nyalakan mesin waktunya dan kembali ke masa lalu.

/ Ing Mataram, betengira inggil / Ngubengi kedhaton /

Pada tahun 1755, Pangeran Mangkubumi atau Hamengkubuwana I membangun ibukota kerajaan Yogyakarta di atas tanah sepanjang 4 km. Wilayah ini yang kelak disebut jeron beteng. Di tengah-tengah wilayah tersebut, berdiri istana Pangeran Mangkubumi yang kemudian kita kenal sebagai Keraton Yogyakarta.

Tahun 1785-1787, Adipati Anom, sang putra mahkota yang kelak bergelar Hamengkubuwana II, memprakarsai pembangunan benteng baluwarti mengelilingi wilayah di sekitar keraton. Lengkap dengan bastion untuk mengintai musuh di setiap sudutnya.

Konon, pembangunan benteng baluwarti ini sebagai bentuk protes atas pembangunan benteng milik kompeni yang terletak tak jauh dari keraton. Kini dikenal dengan nama Benteng Vredeburg.

IMG_20171227_070442
Benteng baluwarti beserta bastion yang masih tersisa

/ Plengkung lima mung papat mengane /

Terdapat lima pintu gerbang yang berbentuk melengkung (plengkung) untuk akses keluar masuk wilayah yang dilingkupi baluwarti. Kelima pintu gerbang tersebut bernama: Plengkung Nirbaya, terletak di dekat alun-alun selatan, menghadap selatan; Plengkung Jagabaya, terletak di sebelah barat Tamansari, menghadap barat; Plengkung Jagasura, terletak di sebelah barat alun-alun utara, menghadap utara; Plengkung Tarunasura, terletak di sebelah timur alun-alun utara, menghadap utara; dan Plengkung Madyasura, terletak di benteng timur, menghadap timur.

Tahun 1812, terdapat kabar mengenai penyerangan tentara Inggris dari arah timur keraton. Maka, Plengkung Madyasura pun dengan tergesa ditutup secara permanen. Namun, ternyata para tentara Inggris menyerang dari arah utara dengan menjebol benteng bagian utara. Sejarah mencatatnya sebagai peristiwa “Geger Sepei”. Bekas penjebolan benteng oleh tentara Inggris ini masih dapat kita lihat di sebelah timur Jalan Ibu Ruswo Yogyakarta.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 16.24.08
Bekas penjebolan benteng dalam peristiwa Geger Sepei

Sejak ditutup secara permanen, Plengkung Madyasura kemudian dijuluki dengan nama plengkung buntet oleh masyarakat setempat. Plengkung buntet berarti “plengkung yang tertutup”. Keberadaan si plengkung buntet Madyasura saat ini semakin tergeser oleh padatnya pemukiman penduduk. Jika ingin melihatnya, kita bisa pergi ke Jalan Mantrigawen, Yogyakarta. Di sela-sela atap rumah penduduk, kita akan menemukan sebuah bangunan menyerupai gapura. Nah, itulah dia Madyasura.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 16.24.40
Sisa Plengkung Madyasura

Saat ini, hanya tinggal dua pintu gerbang saja yang masih dapat kita temukan dalam kondisi lumayan utuh, yaitu Plengkung Nirbaya (kini dikenal dengan nama Plengkung Gading) dan Plengkung Tarunasura (kini dikenal dengan nama Plengkung Wijilan). Adapun Plengkung Jagabaya dan Plengkung Jagasura saat ini hanya tampak berupa gapura biasa. Tidak lagi berbentuk plengkung (melengkung).

Dari kiri ke kanan: Plengkung Nirbaya – Plengkung Tarunasura – Plengkung Jagasura – Plengkung Jagabaya

/ Jagang jero toyanira wening /

Di bagian luar tembok baluwarti, terdapat jagang (parit buatan) dengan kedalaman 3 meter sebagai fungsinya untuk pertahanan dan keamanan. Parit-parit ini saat ini sudah menjadi pemukiman penduduk. Banyak rumah penduduk yang dibangun di atas bekas jagang. Sisa-sisa jagang masih dapat dilihat di daerah pojok benteng sebelah timur.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 15.29.02 (1)
Sisa jagang di bawah bastion pojok beteng timur

/ Ringin pacak suji / Gayam turut lurung /

Pohon beringin dan pohon gayam merupakan dua dari beberapa tanaman khas yang ada di wilayah keraton. Konon, ada 9 jenis pohon yang masing-masing memiliki filosofi sendiri. Pohon beringin yang berdaun rimbun serta batang yang kokoh melambangkan pengayoman. Pengayoman dari raja kepada rakyatnya, juga dari Tuhan kepada manusia. Di lingkungan keraton, beberapa pohon beringin mendapat perlakuan khusus, yaitu diberi pacak suji. Pacak suji adalah pagar yang menghias sekeliling pohon, yang terbuat dari suji/sujen (bilah bambu dengan ujung runcing). Saat ini, pohon beringin yang dihias pagar di sekelilingnya dapat kita temukan di Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan Yogyakarta. Namun, bukan pagar yang terbuat dari suji/sujen lagi, melainkan pagar dari tembok. Oleh masyarakat, pohon beringin ini dijuluki dengan nama Ringin Kurung.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 15.29.02
Ringin kurung di alun-alu selatan

Pohon gayam melambangkan ketenteraman. Hal ini diambil dari nama gayam yang dimaknai dengan “ayem”. Selain itu, secara ekologi pohon gayam (Inocarpus Fagifor) memiliki akar yang dapat menyimpan banyak cadangan air, sehingga dapat menjaga pasokan mata air. Air merupakan sumber kehidupan. Jika ketersediaan mata air terjaga, maka akan tercipta rasa ayem atau tenteram dalam kehidupan manusia. Beberapa pohon gayam masih dapat kita temui di dekat gedung Sasana Hinggil Dwi Abad, Alun-Alun Selatan, Yogyakarta.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 15.29.03
Pohon gayam di dekat gedung Sasana Hinggil Dwi Abad

Dalam satu tembang saja, termuat cerita sejarah yang sedemikian rupa. Kini, setiap kali mengingat tembang tersebut, benak saya akan mengembara membayangkan keadaan sekitar berabad silam. Atau, bernostalgia ke masa kecil. Saat simbah putri melagukan tembang tersebut di tengah aktivitas beliau meracik bubur sumsum. Bait-bait syair Mijil yang mengudara, berpadu dengan suara mendidih bubur beras yang menciptakan gelembung-gelembung kecil di permukaannya, dan di antara aroma saus gula jawa yang menguar ke mana-mana.

*) gambar merupakan dokumen pribadi hasil penelusuran Desember 2017

**) tulisan ini termuat dalam buku antologi Stories of Your Life, Penerbit Laksana

 

Seni & Budaya

Pengalaman Mengikuti Diskusi Budaya di Bangsal Prabeya, Keraton, Yogyakarta

Hari Minggu pagi tanggal 5 Agustus 2018, warga Jalan Magangan Kulon tengah berbenah untuk menyambut HUT RI ke-73. Lagu-lagu kebangsaan diputar sementara para warga bergotong-royong memasang bendera, umbul-umbul, dan pernak-pernik HUT RI lainnya. Pada saat yang sama, di salah satu sudut Jalan Magangan Kulon, tepatnya sekitar 50 meter dari regol Kemagangan, berkumpul 50-an orang dari berbagai komunitas, media, dan masyarakat umum. Dengan wajah antusias, mereka siap menerima wawasan baru dalam diskusi budaya yang mengangkat tema “Gunungan, Simbol dan Maknanya”. Saya senang sekali bisa menjadi bagian dari masyarakat umum yang berkesempatan mengikuti diskusi tersebut.

Diskusi tersebut diselenggarakan di Bangsal Prabeya, konon merupakan sebuah bangunan yang digunakan sebagai dapur Keraton. Di belakang Bangsal Prabeya ini terdapat regol yang terhubung dengan Keraton Kilen, tempat tinggal HB X. Adapun diskusi budaya tersebut diselenggarakan oleh Malam Museum yang bekerja sama dengan Tepas Tandha Yekti. Mas Erwin, founder komunitas Malam Museum, mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya diskusi budaya tersebut adalah dalam rangka mengajak anak-anak muda, khususnya para generasi millennial, agar lebih aware terhadap budaya bangsa sendiri. Dalam kesempatan itu pula, Mas Erwin mengimbau agar para peserta berkenan untuk menuliskan kembali apa yang telah didapat dari diskusi. Apa pun bentuknya. Baik berupa blog post, maupun sekadar postingan di medsos.

Diskusi Budaya 1
Mas Erwin sedang menjelaskan tujuan diselenggarakannya acara diskusi budaya kepada para peserta

Diskusi diawali dengan perkenalan singkat tentang Tepas Tandha Yekti oleh GKR Hayu (penghageng Tepas Tandha Yekti) dan Mas Wiwit selaku pimpinan produksi yang bertanggung jawab mengurusi online present Keraton Yogyakarta. Jadi, sederhananya, Mas Wiwit itu tuh bertugas membuat konten untuk memperkenalkan Keraton Yogyakarta melalui media online, seperti website, Instagram, Twitter, dan bahkan Youtube.

Acara selanjutnya adalah pemutaran video terkait gunungan dan dilanjutkan ke pembahasan tema utama diskusi dengan narasumber KRT Kusumonegoro (penghageng Tepas Keprajuritan). Jujur saja, nih. Meskipun saya sering menonton upacara garebeg dan mengaku sebagai penggemar berat dari prajurit Keraton, ternyata pengetahuan saya tentang gunungan masih sedikit sekali. Dari diskusi ini, saya jadi tahu lebih banyak mengenai gunungan. Mulai dari sejarah, cara pembuatan, makna simbolik, hingga detail-detail terkecil yang terkait dengannya. Lebih lanjut tetang gunungan ini, nanti saya ceritakan di postingan yang lain saja, ya. Insya Allah.

Diskusi Budaya 3
Kiri-kanan: GKR Hayu (penghageng Tepas Tandha Yekti), Mas Wiwit (Pimpro Tepas Tandha Yekti), Mas Erwin (founder komunitas Malam Museum)
Diskusi Budaya 4
KRT Kusumonegoro, penghageng Tepas Keprajuritan selaku pembicara 

Acara diskusi menjadi semakin semarak ketika dibuka sesi tanya jawab. Saya sempat menanyakan kepada pembicara tentang sikap masyarakat yang menjadikan bahan-bahan makanan yang mereka dapatkan dari merayah gunungan tersebut sebagai jimat. Ada yang meletakkannya di sawah dengan harapan panen jadi lancar. Pun ada yang menyimpannya di tempat-tempat tertentu sebagai tolak bala. Apakah memang seperti itu tujuan dari pembagian gunungan sebenarnya?

Menjawab pertanyaan saya tersebut, KRT Kusumonegoro mengatakan bahwa sikap masyarakat tersebut merupakan wujud dari betapa tingginya penghormatan mereka terhadap Keraton, sehingga menganggap segala sesuatu yang berasal dari dalam Keraton merupakan benda bertuah. Padahal, tujuan dari pembagian gunungan sendiri adalah untuk sedekah. Dengan demikian, sebenarnya bahan-bahan makanan dari gunungan itu tentu sebaiknya dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Dengan sedikit berseloroh, beliau berkata bahwa jika suatu hari nanti saya berhasil dapat sayuran hasil rayahan gunungan, lebih baik dimasak jadi jangan mbayung saja (sayur daun lembayung). Haha

Acara diskusi ditutup dengan foto bersama. Dan, saya berkesempatan berfoto bersama Gusti Hayu. :’)

Diskusi-Budaya-2-2380903516-1535777178199.jpg
Bersama GKR Hayu

Senang sekali bisa mengikuti acara yang sangat berfaedah ini, meskipun saya bukan termasuk bagian dari generasi milenial yang dimaksud oleh Mas Erwin. :)) Harapannya. acara-acara semacam ini dapat terus berlanjut dan mendapat semakin banyak peminat. Sebab seperti tujuan dari acara ini, acara-acara seperti ini bisa menjadi upaya untuk membuat generasi muda tetap memahami dan mencintai kebudayaan bangsa sendiri di tengah era globalisasi. Semoga.