Kuliner · Seni & Budaya

Filosofi Ketan, Kolak, dan Apem dalam Tradisi Ruwahan

Setiap menjelang bulan puasa, ada suatu tradisi yang berkembang di masyarakat Jawa, yaitu Ruwahan. Ruwahan dilaksanakan pada bulan Ruwah, yang bertepatan dengan bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah. Salah satu hal yang paling identik dari tradisi ini adalah makanan tradisional ketan, kolak, dan apem. Biasanya 10 hari menjelang bulan puasa tiba, ibu-ibu mulai sibuk membuat sajian ini yang kemudian dibagi-bagikan ke tetangga-tetangga di kampung. Ada pula yang disertai dengan kenduri.

Dan, sebagaimana lazimnya masyarakat Jawa yang senang bermain dengan simbol-simbol, makanan ketan, kolak, dan apem ini ternyata juga memiliki makna filosofisnya sendiri.

  1. Ketan

Ketan merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan yang dikukus. Rasanya manis dan mengenyangkan. Nama ketan sendiri dalam kepercayaan masyarakat Jawa memiliki banyak makna.

Ketan dapat diartikan sebagai “kraketan” atau “ngraketke ikatan”, yang artinya “merekatkan ikatan”. Maka, ketan dapat menjadi simbol eratnya persaudaraan antarsesama manusia.

Nama ketan juga konon diambil dari kata “khatam” dari bahasa Arab yang berarti “tamat”. Hal ini menyimbolkan umat dari nabi yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw.

Nama ketan juga diambil dari kata bahasa Arab lainnya, yaitu “khotan” yang artinya “kesalahan”. Lalu, dari bahasa Jawa “kemutan” yang berarti “teringat”. Dalam konteks ini, nama ketan menyimbolkan sebuah perenungan atau introspeksi diri sendiri atas kesalahan-kesalahan dan dosa yang telah dilakukan.

ketan
Gambar diambil dari okefoods.blogspot.com
  1. Kolak

Kolak adalah makanan yang terbuat dari pisang, ubi, kolang-kaling, yang direbus bersama kuah campuran santan dan gula jawa. Nama kolak sendiri konon diambil dari kata “khalaqa” yang artinya “menciptakan”. Atau “khaliq” yang berarti “sang pencipta”. Dalam hal ini merujuk kepada Allah swt.

kolak
Gambar diambil dari resepmasakankreatif.com
  1. Apem

Apem merupakan kue tradisional yang tebuat dari tepung beras. Bentuknya bulat pipih, dan biasanya dimasak di atas wajan kecil atau cetakan khusus dengan bara api kecil. Nama apem diambil dari kata “afwan” dalam bahasa Arab, yang berarti memohon ampunan.

apem
Gambar diambil dari gerberasnackshop.wordpress.com

Apabila ditarik kesimpulan, dari ketiga makanan tersebut jika dihubungkan akan menggambarkan sebuah nasihat. Pertama-tama, sebagai umat Nabi Muhammad saw, kita harus senantiasa mengingat dosa-dosa yang telah kita perbuat. Lalu, kita diharapkan untuk segera kembali kepada-Nya. Bertobat dan memohon ampunan kepada Sang Pencipta, Allah swt. Sebagaimana esensi dari bulan puasa itu sendiri. Bulan tempat refleksi diri, bulan untuk me-recharge kembali keimanan kita.

Yah, ini adalah salah satu bentuk kearifan lokal yang konon merupakan kreativitas dari para pendakwah zaman dahulu. Dahulu, para pendakwah di tanah Jawa menggunakan cara-cara semacam ini agar dapat masuk, diterima, dan menyampaikan ilmu agama dengan mudah di masyarakat. Tentu saja, ada pro dan kontra terkait tradisi ini di masa kini. Namun, tidak perlu berdebat sampai adu urat. Kita hanya perlu cerdas untuk memilah dan memilih mana yang merupakan syariat dan mana yang berupa adat, sehingga bisa meluruskan niat antara menjalankan perintah agama atau melestarikan budaya. 🙂