Buku

[Book Review] Para Bajingan yang Menyenangkan

 

Para Bajingan yang Menyenangkan

Judul: Para Bajingan yang Menyenangkan

Penulis: Puthut EA

Penyunting: Prima S. Wardhani

Desainer sampul: R.E. Hartanto

Penerbit: Buku Mojok

Terbit: Desember 2016

Tebal: 178 halaman

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat penasaran sekali dengan buku ini gara-gara banyak diomongin sama teman-teman. Waktu saya tanya ke seorang teman, “Bagus ya bukunya, Mas?”, sesemasnya bilang, “Yang ini, kalau nggak biasa baca, takutnya malah nggak cocok.” Barangkali beliau melihat saya terlalu polos sehingga tidak cocok membaca buku yang katanya memuat banyak pisuhan ini. :)) Akhirnya, saya redam rasa penasaran saya.

Belakangan, saya berjodoh dengan buku ini ketika membeli paket valentine di Buku Mojok. Dua buku incaran saya, ada satu paket dengan buku ini. Karena sudah punya, ya masak nggak dibaca. :))

Tadinya cuma mau intip-intip saja dan siap berhenti sewaktu-waktu kalau bikin pusing. Eeh… ternyata malah keterusan sampai habis. Jadi, apa saya sudah tidak polos lagi? Bisa jadi. Haha Alih-alih nggak cocok, saya malah sangat menikmatinya. Buku ini sukses membuat saya cekikikan di sembarang tempat. Di kantor, di dalam bus, dan bahkan di warung mi ayam. Lol

Buku ini berisi kisah masa muda penulis dengan sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam Jackpot Society. Mereka adalah tipe mahasiswa tanpa harapan dengan hobi yang semakin memperparah keadaan, mabuk dan judi. Tak habis saya dibuat terpingkal-pingkal membaca cerita koplak dari Bagor cs, meskipun sesekali harus mengernyitkan kening atau ngakak sambil istigfar (?) ketika ada cerita lucu yang diiringi pisuhan saru.

Beberapa cerita yang cukup membuat pipi dan perut saya kaku seperti adegan beli barang secara random di Ramai Mall saat menang judi, Pengki yang mabuk berat hingga asyik ngemil daun teh-tehan karena menyangkanya keripik singkong, Bagor kasih kartu ujian ke polisi waktu ditilang, hingga pengeksploitasian kehadiran Proton demi menyelamatkan diri dari pertanyaan maut dari keluarga besar di hari Lebaran.

Penggunaan bahasa Jawa yang ngoko sengoko-ngokonya membuat saya semakin menghayati cerita. Saya sampai download  beberapa video Basiyo setelah membaca buku ini. Haha Oh ya, tapi saya masih gagal paham kenapa setiap ada yang menantang Bagor berantem, orang itu jadi jiper ketika tahu Bagor orang Kotagede? Ada apa dengan Kotagede? Apa karena di sana ada makam Panembahan Senopati yang konon sangat sakti sampai keris pun tak mempan melukainya, sehingga orang sana juga terkenal sakti-sakti? Nggak dijelaskan di buku ini.

Orang waras pada umumnya barangkali akan menganggap para anggota Jackpot Society ini sebagai segerombolan pemuda dengan masa depan suram. Tapi, kok ya ndilalah mereka kini jadi orang sukses semua. Kecuali Almarhum Jadek yang telah meninggal dunia karena kecelakaan.

Maka pelajaran yang dapat diambil di sini adalah jangan terlalu underestimate kepada orang yang kita anggap buruk. Sebab, bisa jadi kelak mereka akan menjadi manusia yang lebih baik dari kita.

Buku

[Book Review] Sing-Py, Single Happy: Buat Apa Dobel Tapi Nyakitin, Kalau Bisa Single Tapi Bahagia

Sing Py

Judul:  Sing-Py, Single Happy

Penulis: Dewi Dedew Rieka

Penerbit: Loveable

Tebal: 212 halaman

Terbit: September 2015

Apa yang salah sih jadi jomblo. Ya, memang dia ke mana-mana sendirian. Bareng ransel doang. Tapi, rasanya asyik-asyik saja. Nggak ada yang ngintilin melulu atau cerewet nanya, kamu di mana? Dengan siapa? Melakukan apa? – hlm. 136

Rania, seorang janda kembang yang trauma disakiti pria. Ia lalu membangun sebuah kos-kosan dengan misi tertentu, yaitu mendidik cewek-cewek agar tidak mudah tergoda oleh rayuan cowok. Maka, berdirilah Kos Jomblo. Sebuah kos-kosan putri yang murah meriah dan nyaman, tapi syaratnya harus jomblo. Peminat kos pun menumpuk, sehingga Rania harus melakukan seleksi. Akhirnya, terpilihlah 10 orang penghuni Kos Jomblo yang memiliki karakter warna warni.

Yang seru, meskipun syarat tinggal di Kos Jomblo adalah harus jomblo, tapi isi cerita di buku ini nggak jauh-jauh dari pedekate, pacaran, friendzone, dll. 😀 Mulai dari Hanna dan Vanessa yang sama-sama naksir Athalla, Roro yang pingsan di pernikahan sang mantan terindah, Hanna yang dimanfaatkan sama penulis idola, Kidung yang TTM-an, Tahlia yang pacaran sama playboy, Gani si maniak kuis yang jatuh cinta sama adik laki-laki ibu kos, Gillian si abege yang populer di kalangan cowok-cowok di sekolahnya, dan bermacam permasalahan cewek lainnya.

Secara konten, buku ini lucu, seru, koplak. Sayangnya, editingnya gengges alias ganggu banget, deh. Bayangkan, lagi asyik baca tiba-tiba bingung karena penulisan nama tokoh yang sering keliru, ada typo, tanda baca yang salah, dialog yang saling bertubrukan di satu paragraf (sebaiknya kalau beda tokoh, dienter aja biar nggak bingung), dan ada adegan yang terbalik susunannya.

Di halaman 52 si Vanessa bilang, “Tapi kamu cocok dipanggil Dudung. Tonjokanmu dahsyat.” Tapi, baru di halaman 53 ada adegan Kidung nonjok si Vanessa-nya. Bingung deh, saya.

Mengabaikan editing yang mengganggu, isi dari buku ini sangatlah menghibur. Ada-ada saja kelakuan para jones di buku ini. Buku ini seolah hadir untuk memberikan dukungan kepada para manusia lajang bahwa ….

“Jadi jomblo itu nggak mengerikan, karena jomblo itu bebas merdeka. Meski terhalang dompet tipis di tanggal tua.” – hlm. 81

PS: Terima kasih pemberian bukunya, Mas Dion. 🙂