Buku

[Book Review] Pus, I Love You

tSma5qnb

Judul: Pus, I Love You

Penulis: Soon

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 288 halaman

Terbit: Juli 2014

Menemukan buku ini waktu jalan-jalan ke pameran Gramedia akhir tahun 2017 yang lalu. Saat membaca judulnya yang unik, “Pus, I Love You”, saya langsung tertarik untuk mencomotnya dari tumpukan buku lainnya. Saat mengamati covernya yang lembut dengan gambar ilustrasi anak perempuan bersama kucingnya, tak ragu lagi saya langsung memasukkannya ke dalam keranjang belanja.

Saya selalu mupeng berat tiap kali melihat kawan-kawan saya posting foto mereka sedang bermain bersama kucing. Apa daya, saya tidak mendapat izin untuk memelihara makhluk menggemaskan itu. Dulu, ada satu kucing kecil manis berbulu belang kuning yang saya pelihara. Namanya Brian. Nama itu saya berikan kepadanya karena menurut saya dia ganteng seperti Brian Westlife. 😀

Brian sangat manja, suka ndusel-ndusel di kaki, mengeong minta jatah waktu saya makan. Tiap malam, saya akan membungkusnya dengan selimut atau membopongnya layaknya bayi sampai dia tertidur sambil mendengkur. Pagi harinya, Brian akan menguntit di belakang waktu saya berjalan kaki menuju ke sekolah. Lalu, saya akan menggusahnya dan menyuruhnya pulang.

Suatu hari, saya menemukan Brian sekarat di jalanan depan rumah. Kepalanya penuh darah. Saya tidak tahu apa yang terjadi padanya dan siapa yang telah mencelakainya. Yang jelas, sepanjang malam saya menangisinya. 🙁 Brian pergi. Dan sejak saat itulah, saya tidak diperbolehkan untuk memelihara kucing lagi.

Buku ini berisi tentang suka duka Soon bersama dua kucing kesayangannya. Kadang ia dibuat kesal dengan ulah kucing-kucingnya yang suka mencakar ini itu, kadang ia harus sibuk berkutat membersihkan bulu-bulu. Namun lebih dari itu, kucing-kucingnya dapat membuat hidup Soon lebih berwarna dan selalu membuatnya merasa rindu.

Kesal sekaligus gemas waktu baca tingkah laku kucing-kucingnya Soon. Ada juga cerita tentang Dewa Ngantuk yang bikin ngakak hard. Dan bahkan, ada juga si Pangeran Cilik yang ikut nongol dengan potongan adegan dari buku Le Petit Prince.

Cerita-cerita yang terangkum dalam buku ini sangat mengibur dan kadang sedikit haru. Kesemuanya disampaikan dalam ilustrasi-ilustrasi yang ringan tetapi menyegarkan mata. Membaca buku ini, sedikit mengobati hasrat saya untuk memelihara kucing yang tak kesampaian. 😀

 

Buku

[Book Review] Rainbow Love: Belajar Kehidupan dari Pape dan Popo

1kl3av8t

Judul: Pepe & Popo: Rainbow Love

Penulis: Shim Seung Hyun

Penerjemah: Novita Isnaeni

Penerbit: Noura Books

Tebal: 224 halaman

Terbit: Juni 2014

Blurb:

Cinta itu seperti cermin. Ketika berdiri di depannya, kita akan melihat bayangan sendiri. Karena itulah, kita harus selalu tersenyum. Kita harus lebih dahulu bahagia jika ingin membahagiakan orang yang kita cintai. Kita harus mengasihi diri kita sendiri dulu jika ingin mengasihi orang yang kita cintai.

Inilah cerita cinta klasik antara Pape, seorang pemuda polos, dan Popo, seorang gadis lembut hati. Kisah-kisahnya menghibur hati dan mengingatkan kita pada nilai cinta sejati, pentingnya keluarga, dan arti persahabatan.

Rada melenceng dari bayangan saya semula ketika membaca blurb-nya. Buku ini ternyata lebih dari sekadar cerita kehidupan cinta pasangan Pape dan Popo. Kisah-kisah cinta yang terangkum di dalam buku ini adalah cinta yang universal.

Diawali dengan cerita tentang ikan paus yang menemukan “jati dirinya” saat berjumpa lautan, membuka lembar-lembar berikutnya kita akan disuguhi sejumlah kisah kehidupan yang berwarna-warni. Sebagaimana penamaan tiap bab dalam buku ini yang menggunakan warna-warna pelangi.

Ada cerita tentang keluarga, pasangan, orangtua, persahabatan, kenangan masa kecil, guru kesayangan, sedih, senang, jatuh cinta, kecewa, dan banyak lagi cerita yang mengajarkan tentang arti cinta sejati. Membaca buku ini, saya seperti membaca buku tentang pelajaran kehidupan. Kesemuanya disampaikan dengan bahasa yang liris dan filosofis, serta gambar-gambar dengan warna yang lembut membuat mata sejuk.

Tak ketinggalan pula kalimat-kalimat quotable yang dapat dijadikan sebagai bahan perenungan. Beberapa yang menjadi favorit saya di antaranya:

“Ada dua macam dosa yang dimiliki oleh manusia. Dosa-dosa yang lain akan muncul karena dua hal ini, yaitu sifat tidak sabaran dan rasa malas. Kafka mengingatkanku bahwa Adam dan Hawa dulu diusir dari surga karena tidak sabaran. Mereka juga tidak bisa lagi kembali ke surga karena rasa malas.” — hlm. 32

“Kita memerlukan orang munafik yang berbuat baik, mau itu tulus atau tidak. Daripada orang yang sekadar ingin melakukan kebaikan saja.” — Hlm. 151

“Keberuntungan akan didapatkan oleh mereka yang menyambutnya dengan tangan terbuka.” — Hlm. 213

Buku

[Book Review] Kitchen Series: Jangan Baca Buku Ini Kalau Lagi Lapar

Kitchen Series

Judul: Kitchen

Penulis: Jo Joo-Hee

Penerjemah: Mayang Ratu Negara

Penerbit: Noura Books

Konon, bagi masyarakat Korea, makanan memiliki peranan yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari. Mereka percaya bahwa keseimbangan Yin dan Yang dengan kelima elemennya (kayu, api, tanah, logam, dan air) dapat diperoleh dari lima rasa dalam makanan, yaitu manis, pedas, asam, asin, dan pahit.

Seolah ingin membuktikan hal itu, komik Kitchen yang notabene penulisnya adalah orang asli Korea, mengangkat makanan sebagai tema besarnya. Sejumlah cerita tentang makanan beserta kisah-kisah keseharian yang ringan dibaca. Menarik!

Saya suka membaca komik dan sedang tertarik dengan masak-memasak. Dua hal yang saya sukai ada di dalam buku ini. Maka saat menemukan buku ini, saya langsung naksir.

Untuk seri pertama, ada beberapa yang menjadi favorit saya, yaitu:

Tidak Sulit

Tentang seorang istri yang selalu ingin memasak untuk suaminya sebagai bukti cinta. Tapi suaminya gitu, deh. Sedih banget baca ini. Nyesek.

“Aku selalu bersusah payah untuk membuatkannya makanan enak, karena itu adalah caraku untuk menyatakan rasa sayang. Aku selalu ingin membuatkan masakan-masakan baru baginya. Karena itu adalah isi hatiku.” – hlm. 29

Untukmu yang Terakhir Kali

Problem perempuan dengan pacarnya. Lucu. Bisa dipraktikkan tipsnya biar cepat move on. 😀

“Betapa menyeramkannya sosok sang wanita yang sedang memasak di hadapannya. Dan dari situ aku menyadari bahwa tidak mungkin ada pria yang mampu dengan mudah mengatakan, ‘Terima kasih makanannya. Kalau begitu, selamat tinggal’.” – hlm. 66

Perang Dunia I: Perang Rajungan

Menantu vs Mertua. Kocak banget. Hahaha

“Walaupun dia anak tunggal, tetapi pasti ada wanita yang dapat memperbaikinya. Karena itu… hmmm… dibandingkan tidak menikah, memang jauh lebih baik menikah.” – hlm. 74

Rasa Kehidupan

Dalem banget pesannya. Apa pun permasalahan yang sedang kita hadapi, ingatlah bahwa mungkin ada orang lain yang dapat cobaan lebih pahit.

“Setiap kali upacara pemakaman mereka memberikan yukgaejang yang pedas dan asin. Karena itu adalah rasa yang kuat dan berkesan di lidah. Masakan ini seolah mengatakan kalau kau masih hidup dan menyadarkan kita akan kehidupan.” – hlm. 135-136

Cheese Cake

Ceritanya bikin saya pengin nyamar jadi keju mozarella. Lumerrr… :’) Kocak, lebay, unyu, romantis, unchh… #baper

“Akhirnya perang ini diakhiri dengan luluhnya hati kedua pihak dengan manis….” – hlm. 146

Mencicipi buku kedua dari Kitchen Series, masih sama lezatnya seperti buku pertama. Paling suka episode “Pertemuan yang Tidak Disangka-Sangka”. Cerita tentang seorang perempuan dan seorang tunanetra. Saya jadi teringat pernah mengalami kejadian serupa. Sayangnya, karena keterbatasan saya sendiri, saya tidak bisa membantu semaksimal mungkin sebagaimana wanita di dalam buku ini. 🙁 Semoga bapak tunanetra yang bertemu dengan saya di bus waktu itu sehat selalu. Aamiin.

“Sama seperti tteokpokki, kita tidak tahu bahwa di balik rasa yang pedas ini mungkin saja ada rasa yang manis di dalamnya.” – hlm. 78

Kisah lain yang juga jadi favorit saya adalah “Makanan Penambah Umur”. Cerita tentang pasangan multikultural yang baru saja menikah dan meminta restu kepada para sesepuh. Manis banget dan bikin baper. 🙂

Nyesek maksimal saat membaca episode “Penghormatan Pertama Setelah Menikah”. Gimana coba rasanya ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya, lalu harus membantu menyiapkan pernikahan sang mantan. Sungguh, patah hati itu pedih, Jenderal!

“Aku belajar bahwa apa pun yang berlebihan itu tidaklah baik. Begitu juga dengan perasaan.” – hlm. 106

Saat menikmati hidangan terakhir dari serial Kitchen, saya menemukan cerita yang agak panjang-panjang dibanding buku pertama dan kedua. Dan tentunya, lebih seru. Kalau di dua buku sebelumnya setting-nya cuma di Korea (kecuali untuk episode spesial), di buku ketiga ada cerita yang ber-setting di Amerika, Istanbull, dan Malaga. Gambarnya juga bagus-bagus.

Bisa dibilang, dari dua seri sebelumnya, buku ketiga ini yang paling saya suka. Dari kesepuluh cerita yang ada di seri ketiga ini, hampir semuanya saya suka. Terutama episode “Impian Tentara Wajib Militer”. Lucu, hahaha. Segala ada Girls Generation dan SM Entertainment disebut-sebut. :))

Ada bermacam rasa terkumpul dalam komik yang tidak terlalu tebal ini. Sedih, senang, haru, lucu, dan tentu saja… lapar! :)) Saya suka ceritanya, suka gambarnya, dan suka masakannya. Habis ini mau coba bikin pancake kentang juga, ah!