Buku

[Book Review] Kulineran Mandiri Ala Ms Koizumi

m5iNpe1a

Judul: Ms. Koizumi Loves Ramen Noodles

Penulis: Naru Narumi

Penerbit: M&C Comics

Seri: 1-3

Terbit: 2017

Kemarin, sepulang kerja saya melipir ke warung ramen sendirian demi memenuhi hasrat yang mendadak rindu berat pada ramen setelah membaca komik ini. Sebagai orang yang mengaku penggemar ramen, saya jadi merasa cupu sekali gara-gara si Koizumi-san. Pengetahuan saya tentang peramenan (halah) masih cetek sekali. Untuk urusan kuah saja, selama ini saya hanya tahu tiga jenis kuah ramen, yaitu miso, soyu, dan kare. Dan, nama jenis ramen yang berbeda-beda itu hanyalah nama menunya. Namun, ternyata… berdasarkan pada komposisi bahannya, ada banyak sekali jenis kuah ramen, Tjoy! Bahkan, kekentalan kuah juga menjadi tolak ukur untuk membedakan jenis ramen. Walah!

Lalu, Koizumi-san be like: “Kau bertahan hidup hanya dengan pengetahuan dasar itu ya?” -_-

Oke, baiklah. Saya akui, saya memang masih newbie dalam hal ini. Tapi sebagai penggemar ramen, saya cukup terpuaskan dengan buku ini. Pada seri pertama, pembahasan mengenai aneka jenis ramen dengan aneka variasi toping dan kekentalan kuahnya, tak ayal membuat saya ngiler berat. Meskipun ada beberapa bahan yang membuat saya jadi hilang selera. Sebagai Muslim, saya tidak bisa mencicipi kesemua jenis ramen yang dipaparkan di sini dikarenakan komposisinya tidak diperbolehkan bagi saya untuk menyantapnya.

Masih dalam seri pertama, saya menemukan beberapa hal yang juga saya alami saat sedang menyantap ramen. Seperti kepedasan, tapi nagih. Dan, kacamata yang jadi buram karena terkena kepulan ramen yang masih panas. 😀

Membaca seri kedua, saya berkenalan dengan hiyashi ramen atau ramen dingin. Ramen ini biasanya dijual pada saat musim panas, disajikan lengkap dengan es batu. Benar, es batu. Jangan bayangkan ramen ini macam sup buah, loh. Ramen ini terbuat dari mi, aneka sayur dan toping, serta kuah kaldu. Spesialnya, disajikan dingin dan bahkan dengan ditambah es batu. Berani coba? 😀

Di buku ketiga, saya menemukan kesintingan Koizumi-san yang sampai bela-belain naik gunung demi mencoba ramen di kota yang ada di lereng gunung. Walah!  Selain ramen, memang yang saya sukai dari komik ini adalah… ya, Ms. Koizumi herself. Saya suka sekali dengan gaya Koizumi-san yang suka kulineran mandiri. Ke mana-mana berburu ramen sendirian. Menyantap ramen baginya adalah ritual yang sakral, sehingga tak ingin momen itu terganggu oleh hal-hal yang tidak diinginkan kalau dia mengajak teman.

Kalau bagi saya, kulineran sendirian bisa menjadi alternatif kegiatan di saat sedang butuh ketenangan. Saat ingin refreshing, tanpa harus ngerumpi dan foto-fotoan. Meskipun risikonya, harus siap menerima tatapan prihatin dari pasangan abege yang mungkin membatin: “Mbak, kok, makan sendirian aja? Jomblo ya?”

Udah, gitu saja.

Buku

[Book Review] Rainbow Love: Belajar Kehidupan dari Pape dan Popo

1kl3av8t

Judul: Pepe & Popo: Rainbow Love

Penulis: Shim Seung Hyun

Penerjemah: Novita Isnaeni

Penerbit: Noura Books

Tebal: 224 halaman

Terbit: Juni 2014

Blurb:

Cinta itu seperti cermin. Ketika berdiri di depannya, kita akan melihat bayangan sendiri. Karena itulah, kita harus selalu tersenyum. Kita harus lebih dahulu bahagia jika ingin membahagiakan orang yang kita cintai. Kita harus mengasihi diri kita sendiri dulu jika ingin mengasihi orang yang kita cintai.

Inilah cerita cinta klasik antara Pape, seorang pemuda polos, dan Popo, seorang gadis lembut hati. Kisah-kisahnya menghibur hati dan mengingatkan kita pada nilai cinta sejati, pentingnya keluarga, dan arti persahabatan.

Rada melenceng dari bayangan saya semula ketika membaca blurb-nya. Buku ini ternyata lebih dari sekadar cerita kehidupan cinta pasangan Pape dan Popo. Kisah-kisah cinta yang terangkum di dalam buku ini adalah cinta yang universal.

Diawali dengan cerita tentang ikan paus yang menemukan “jati dirinya” saat berjumpa lautan, membuka lembar-lembar berikutnya kita akan disuguhi sejumlah kisah kehidupan yang berwarna-warni. Sebagaimana penamaan tiap bab dalam buku ini yang menggunakan warna-warna pelangi.

Ada cerita tentang keluarga, pasangan, orangtua, persahabatan, kenangan masa kecil, guru kesayangan, sedih, senang, jatuh cinta, kecewa, dan banyak lagi cerita yang mengajarkan tentang arti cinta sejati. Membaca buku ini, saya seperti membaca buku tentang pelajaran kehidupan. Kesemuanya disampaikan dengan bahasa yang liris dan filosofis, serta gambar-gambar dengan warna yang lembut membuat mata sejuk.

Tak ketinggalan pula kalimat-kalimat quotable yang dapat dijadikan sebagai bahan perenungan. Beberapa yang menjadi favorit saya di antaranya:

“Ada dua macam dosa yang dimiliki oleh manusia. Dosa-dosa yang lain akan muncul karena dua hal ini, yaitu sifat tidak sabaran dan rasa malas. Kafka mengingatkanku bahwa Adam dan Hawa dulu diusir dari surga karena tidak sabaran. Mereka juga tidak bisa lagi kembali ke surga karena rasa malas.” — hlm. 32

“Kita memerlukan orang munafik yang berbuat baik, mau itu tulus atau tidak. Daripada orang yang sekadar ingin melakukan kebaikan saja.” — Hlm. 151

“Keberuntungan akan didapatkan oleh mereka yang menyambutnya dengan tangan terbuka.” — Hlm. 213

Buku

[Book Review] Kitchen Series: Jangan Baca Buku Ini Kalau Lagi Lapar

Kitchen Series

Judul: Kitchen

Penulis: Jo Joo-Hee

Penerjemah: Mayang Ratu Negara

Penerbit: Noura Books

Konon, bagi masyarakat Korea, makanan memiliki peranan yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari. Mereka percaya bahwa keseimbangan Yin dan Yang dengan kelima elemennya (kayu, api, tanah, logam, dan air) dapat diperoleh dari lima rasa dalam makanan, yaitu manis, pedas, asam, asin, dan pahit.

Seolah ingin membuktikan hal itu, komik Kitchen yang notabene penulisnya adalah orang asli Korea, mengangkat makanan sebagai tema besarnya. Sejumlah cerita tentang makanan beserta kisah-kisah keseharian yang ringan dibaca. Menarik!

Saya suka membaca komik dan sedang tertarik dengan masak-memasak. Dua hal yang saya sukai ada di dalam buku ini. Maka saat menemukan buku ini, saya langsung naksir.

Untuk seri pertama, ada beberapa yang menjadi favorit saya, yaitu:

Tidak Sulit

Tentang seorang istri yang selalu ingin memasak untuk suaminya sebagai bukti cinta. Tapi suaminya gitu, deh. Sedih banget baca ini. Nyesek.

“Aku selalu bersusah payah untuk membuatkannya makanan enak, karena itu adalah caraku untuk menyatakan rasa sayang. Aku selalu ingin membuatkan masakan-masakan baru baginya. Karena itu adalah isi hatiku.” – hlm. 29

Untukmu yang Terakhir Kali

Problem perempuan dengan pacarnya. Lucu. Bisa dipraktikkan tipsnya biar cepat move on. 😀

“Betapa menyeramkannya sosok sang wanita yang sedang memasak di hadapannya. Dan dari situ aku menyadari bahwa tidak mungkin ada pria yang mampu dengan mudah mengatakan, ‘Terima kasih makanannya. Kalau begitu, selamat tinggal’.” – hlm. 66

Perang Dunia I: Perang Rajungan

Menantu vs Mertua. Kocak banget. Hahaha

“Walaupun dia anak tunggal, tetapi pasti ada wanita yang dapat memperbaikinya. Karena itu… hmmm… dibandingkan tidak menikah, memang jauh lebih baik menikah.” – hlm. 74

Rasa Kehidupan

Dalem banget pesannya. Apa pun permasalahan yang sedang kita hadapi, ingatlah bahwa mungkin ada orang lain yang dapat cobaan lebih pahit.

“Setiap kali upacara pemakaman mereka memberikan yukgaejang yang pedas dan asin. Karena itu adalah rasa yang kuat dan berkesan di lidah. Masakan ini seolah mengatakan kalau kau masih hidup dan menyadarkan kita akan kehidupan.” – hlm. 135-136

Cheese Cake

Ceritanya bikin saya pengin nyamar jadi keju mozarella. Lumerrr… :’) Kocak, lebay, unyu, romantis, unchh… #baper

“Akhirnya perang ini diakhiri dengan luluhnya hati kedua pihak dengan manis….” – hlm. 146

Mencicipi buku kedua dari Kitchen Series, masih sama lezatnya seperti buku pertama. Paling suka episode “Pertemuan yang Tidak Disangka-Sangka”. Cerita tentang seorang perempuan dan seorang tunanetra. Saya jadi teringat pernah mengalami kejadian serupa. Sayangnya, karena keterbatasan saya sendiri, saya tidak bisa membantu semaksimal mungkin sebagaimana wanita di dalam buku ini. 🙁 Semoga bapak tunanetra yang bertemu dengan saya di bus waktu itu sehat selalu. Aamiin.

“Sama seperti tteokpokki, kita tidak tahu bahwa di balik rasa yang pedas ini mungkin saja ada rasa yang manis di dalamnya.” – hlm. 78

Kisah lain yang juga jadi favorit saya adalah “Makanan Penambah Umur”. Cerita tentang pasangan multikultural yang baru saja menikah dan meminta restu kepada para sesepuh. Manis banget dan bikin baper. 🙂

Nyesek maksimal saat membaca episode “Penghormatan Pertama Setelah Menikah”. Gimana coba rasanya ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya, lalu harus membantu menyiapkan pernikahan sang mantan. Sungguh, patah hati itu pedih, Jenderal!

“Aku belajar bahwa apa pun yang berlebihan itu tidaklah baik. Begitu juga dengan perasaan.” – hlm. 106

Saat menikmati hidangan terakhir dari serial Kitchen, saya menemukan cerita yang agak panjang-panjang dibanding buku pertama dan kedua. Dan tentunya, lebih seru. Kalau di dua buku sebelumnya setting-nya cuma di Korea (kecuali untuk episode spesial), di buku ketiga ada cerita yang ber-setting di Amerika, Istanbull, dan Malaga. Gambarnya juga bagus-bagus.

Bisa dibilang, dari dua seri sebelumnya, buku ketiga ini yang paling saya suka. Dari kesepuluh cerita yang ada di seri ketiga ini, hampir semuanya saya suka. Terutama episode “Impian Tentara Wajib Militer”. Lucu, hahaha. Segala ada Girls Generation dan SM Entertainment disebut-sebut. :))

Ada bermacam rasa terkumpul dalam komik yang tidak terlalu tebal ini. Sedih, senang, haru, lucu, dan tentu saja… lapar! :)) Saya suka ceritanya, suka gambarnya, dan suka masakannya. Habis ini mau coba bikin pancake kentang juga, ah!

Buku

[Book Review] Komik Empat Domba Gila: Tolong Kondisikan Kambing-Kambing Ini!

domba gila
Gambar diambil dari sini

Judul: Empat Domba Gila

Komikus: Acheng Watanabe

Penerbit: Transmedia

Terbit: 2015

Tebal: 114 halaman

Blurb:

Kenali DULU para domba gila, sebelum ikut menjadi gila:

Albert Liebarary (Bert)

Domba yang paling cerdas dan bijak, hampir semua pertanyaan bisa ia jawab, kecuali pertanyaannya sendiri.

George Sparo (George)

Domba lugu yang selalu jadi bahan tertawaan teman-temannya.

Karjohno (John)

Domba yang ketika lahir sudah tertawa, paling gila di antara domba lainnya, punya banyak ide gila, yang bahkan tak terpikirkan oleh orang-orang gila.

Jack Setengah (Jack)

Namanya Jack Pamungkas, namun dipanggil “Jack Setengah” karena otaknya yang sudah mendekati ambang batas kegilaan. Sangat diidolakan oleh John dan George.

Bayangkan, apa jadinya kalau ada kambing pintar hasil rekayasa genetik yang berkeliaran. Kambing yang bisa baca terus nyasar di perpustakaan tak bertuan. Makin pintar deh, tuh kambing karena banyak membaca. Duh! Jadi merasa gagal sebagai manusia karena teringat tumpukan buku yang masih plastikan di sudut kamar. #plak

Saya berhasil menyelesaikan membaca buku ini hanya dalam sekali duduk (iyalah, cuma komik, disombongin. Hahaha). Pembukaan di awalnya menarik, sih. Saya sudah membayangkan akan membaca petualangan Arary dan Aramy, si kambing pintar, di alam bebas setelah dibuang oleh sang ilmuwan. Tapi… tapi… tapi… ujung-ujungnya buku ini malah cuma berisi joke-joke doang. Tanpa alur cerita. Beberapa joke di antaranya malah sudah sering saya baca dari meme-meme yang tersebar di media sosial.

Namun demikian, meskipun beberapa joke terasa garing yang bikin saya be like … “Apaan sih, nih!”, tapi selebihnya joke-joke di sini lumayan bikin tersenyum-senyum simpul dan merasa tersentil. Ilustrasinya juga bagus. Bisa nggak ya, tuh mukanya George si kambing ingusan dikondisikan. Ngeselin banget, hahaha. :))

Selain itu, hal lain yang saya suka dari buku ini adalah setiap joke selalu disimpulkan dengan pesan moral dan kalimat-kalimat yang quoteable macam ini:

“Dalam hidup ini hakikatnya kita sedang menunggu giliran. Jadi bersiaplah, karena nggak ada nomor antrean. Kita bisa dipanggil kapan saja.” – hal. 94

“Ketika di hadapanmu berdiri seribu teman, dan ada satu musuhmu berdiri di antara mereka, maka dialah satu-satunya yang ada dalam benakmu, mengusik pikiranmu, menggaruk kasar perasaanmu. Dan tanpa kamu sadari, kamu justru lebih sering memperhatikan musuhmu ketimbang teman-temanmu.” – hal. 103

Quotes-quotes inilah yang membuat saya bertahan untuk meneruskan membaca buku ini sampai tuntas. And this one is my favorite, lol!

“Jangan ngaku koleksi bukumu paling lengkap kalau belum punya buku nikah” – hal. 84

Aduh, nggak berdarah tapi kok sakit ya. Tolong kondisikan kambing-kambing ini astagaaaa…!!!

Buku

[Book Review] Komik Family: Kisah Keluarga Anderson yang Unik

Family!

Judul: Family!

Komikus: Watanabe Taeko

Penerbit: Elex Media Komputindo

Terbit: 1997

Salah satu shoujo manga—manga yang isinya lebih mengarah ke drama dan kebanyakan pembacanya adalah perempuan—karangan Watanabe Taeko yang cukup disukai banyak orang pada masanya. Dengan mengambil latar belakang negara Florida, USA, komik ini menceritakan tentang keseharian keluarga Anderson dengan beragam konflik dan kejadian penuh suka duka (dan bahkan aneh), yang mereka hadapi bersama sehingga membuat keluarga mereka menjadi semakin solid.

Komik Family! Merupakan salah satu Serial Candy’s favorit saya. Pertama kali baca komik ini waktu SMP, zaman masih jadi pelanggan taman bacaan. Sudah baca semua seri 1-11, dan waktu itu nggak kepikiran apa-apa. Nah, waktu baca ulang sekarang ini, kesan saya jadi… duh, ini keluarga kok parah banget, ya. 😀 Anak sulung yang gay, anak perempuan yang tomboi, dan si bungsu yang sikapnya terlalu dewasa dibanding umurnya yang sebenarnya. Sebaliknya, ibunya malah kekanakan. Hadeh… Sepertinya cuma Jonathan saja yg normal di sini, si anak angkat yg jenius. Hahaha

Tapi anehnya, meskipun parah begitu, keluarga mereka ini sangat harmonis dan hangat banget. Vie, meskipun tomboi dia sangat tulus hatinya. Kay, walaupun gay tapi gentlemen bagi adik-adiknya. Nyonya Anderson, mungkin bukan kekanakan, dia hanya terlalu polos dan lugu. Sementara Tracy, hmm… biasalah anak kecil selalu ingin jadi dewasa.

Komik ini bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga yang unik tetapi loveable. Dengan segala liku-liku dan beragam adegan kocak yang bikin ngakak, sebagaimana komik pada umumnya. Pesan yang dapat dari komik ini adalah bahwa seberat apa pun permasalahan kehidupan yang harus dihadapi, bersyukurlah masih ada keluarga yang dapat menjadi tempat untuk saling menguatkan.

Buku

[Book Review] Belajar Agama Melalui Komik

Islam Sehari-Hari
Gambar diambil dari sini

Judul: Islam Sehari-Hari: Yang Penting, Yang Terabaikan

Penulis: vbi_djenggoten

Penyunting: Firdaus Agung

Penerbit: QultumMedia

Cetakan Pertama: February 2013

Tebal: 116 halaman

Berabad silam, Rasulullah telah menyerukan Islam kepada seluruh umat. Beliau juga mencontohkan bagaimana melaksanakan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sebagai makhluk yang tak lepas dari khilaf, ada kalanya umat manusia lalai dan melakukan bermacam kesalahan dalam hal ibadah. Kesalahan yang tak disadari, yang kemudian terus berlanjut menjadi kebiasaan. Pada akhirnya, generasi-generasi berikutnya menganggap kesalahan-kesalahan tersebut sebagai hal yang benar karena sudah terbiasa.

Buku ini berisi sentilan-sentilan terhadap hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, yang sebenarnya tidak sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadis. Salah satunya adalah fenomena pemberian gelar haji/hajah kepada orang yang sudah pernah berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Selama ini, barangkali kita menganggapnya hal yang wajar atau bahkan sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya. Padahal, Rasul saja tidak menuntunkan yang demikian.

Menariknya, sentilan-sentilan tersebut disajikan dalam ilustrasi-ilustrasi yang lucu, sehingga lebih mudah diterima dan berkesan. Buku ini menawarkan metode dakwah atau mengajarkan agama Islam dengan cara yang berbeda. Tak seperti buku-buku agama mainstream yang umumnya berisi kalimat-kalimat menggurui sehingga terasa menjemukan, buku ini disajikan dalam bentuk komik. Dilengkapi pula dengan ayat Alquran dan hadis yang terkait. Membaca buku ini, dijamin bisa bikin ketawa-ketiwi sekaligus tersentil-sentil.

Saya sangat menikmati sekali membaca buku ini dari awal hingga akhir. Buku ini ringan dibaca, akan tetapi isinya sangat berbobot. Sebuah wacana baru untuk belajar agama dengan cara yang menyenangkan. Dengan buku ini, kita diajak untuk membiasakan kebenaran, bukan membenarkan kebiasaan.