Buku

[Book Review] Jomblo Tapi Hafal Pancasila: Inspirasi Cilik-Cilikan dari Seorang Jomblo

rzj5Ggtt

Judul: Jomblo Tapi Hafal Pancasila

Penulis: Agus Mulyadi

Penerbit: B-First

Tebal: 314 halaman

Terbit: Juli 2014

Yang membedakan buku ini dengan buku-buku bertema jomblo lainnya adalah buku ini isinya bukan cuma haha hihi menertawakan kaum jomblo. Sebagaimana diketahui, nasib kaum jomblo di negara kita tercinta ini memang selalu ternistakan. Selalu diidentikkan dengan citra nelangsa dan penuh nestapa. Heleh!

Ayolah Mas, Mbak, bijaklah sedikit. Besok di alam kubur, yang ditanyakan oleh malaikat itu, “Siapa Tuhanmu dan siapa Nabimu, bukan siapa gebetanmu”. – Hlm. 10

Nah, buku ini seolah menjadi bukti bahwa jomblo juga bisa berprestasi. Nggak apa-apa jomblo, asal hafal Pancasila. Atau dengan kata lain, jomblo mungkin kalah dalam urusan asmara. Namun, bukan berarti mereka manusia tak berguna yang kalah juga dalam aspek kehidupan lainnya. Semangat, Mblo! #jomblomenggugat #eh

“Lebih baik jomblo yang berharap punya pacar, daripada punya pacar tapi berharap jomblo.” – Hlm. 202

Buku ini berisi sekumpulan artikel yang termuat di blog penulisnya. Jangan salah sangka dulu dengan judulnya, Jomblo tapi Hafal Pancasila. Meskipun mengangkat tema jomblo, buku ini tidak semata berisi curahan hati seorang jones akan nasib asmaranya. Di dalam buku ini, Agus Mulyadi menuliskan opini-opininya yang mencakup banyak aspek kehidupan. Mulai dari kehidupannya sebagai seorang blogger, keluarga, kawan-kawan, keseharian, bahkan hingga kondisi politik negeri. Dan, tak ketinggalan tentu saja masalah asmara.

Setiap artikel ditulis dengan bahasa yang ringan tapi kritis. Melalui gaya lawakan yang njawani khas Agus Mulyadi, terselip nasihat atau hikmah yang sangat mengena. Menginspirasi tanpa menggurui. Inspirasi cilik-cilikan, kalau kata Agus Mulyadi. Duh! Pokoknya buku ini seru, menghibur, tapi tetap berbobot.

Akhir kata, “Jangan hina kaum jomblo, siapa tahu lima menit lagi Anda akan merasakannya.” – Hlm. 273

Buku

[Book Review] Gado-Gado dan Sushi: Mengintip Keunikan Orang Jepang dalam Kisah Keseharian Ibu dan Anak-Anaknya

Bv6u2Ev6

Judul: Gado-Gado dan Sushi

Penulis: Yunitha Fairani

Penerbit: Gramedia

Tebal: 183 halaman

Terbit: Januari 2013

Negara Jepang dalam benak kita selama ini barangkali identik dengan rasa kagum dan juga rasa heran. Tak dapat dipungkiri, hal-hal yang berkaitan dengan negeri sakura tersebut memang dapat membuat kita terkagum-kagum sekaligus terheran-heran dalam suatu waktu. Etos, kedisiplinan, serta pola pikir mereka yang maju akan membuat kita berdecak kagum. Sedangkan, tradisi dan kegiatan-kegiatan mereka yang tak jarang unik serta nyeleneh akan membuat kita ternganga heran.

Buku ini berisi tentang keseharian seorang ibu rumah tangga asal Indonesia yang harus ikut suaminya yang berasal dari Jepang. Di dalam buku ini, beliau menceritakan bagaimana suka duka beradaptasi di lingkungan baru dengan tradisi dan kebiasaan yang sangat berbeda dengan tradisi serta kebiasaan di negara asalnya, Indonesia. Ada beberapa hal yang cukup menarik perhatian saya dan membuat saya berdecak kagum saat membaca buku ini.

Pertama, pola pendidikan dan pengasuhan di Jepang. Orang-orang Jepang tidak menuntut anak-anak mereka untuk bersaing menjadi yang nomor satu. Cukup menjadi satu-satunya. Setiap orang memang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dia hanya akan menjadi satu-satunya di dunia, tidak ada manusia lain yang akan menyamainya. Jadi, mengeksplorasi bakat dan keterampilan yang ada di dalam diri anak secara maksimal akan lebih baik daripada menuntut anak untuk bersaing menjadi yang paling baik dibandingkan kawan-kawannya. Dengan cara ini, anak tidak akan merasa tertekan dan lelah karena harus bersaing dengan kawan-kawannya. Sebaliknya, mereka akan semangat mengeksplorasi hal-hal yang diminatinya, dengan arahan dari guru dan orang tua tentu saja.

“Janganlah bersedih jika tidak menjadi nomor satu. Tetapi, selalu berusaha untuk menjadi yang hanya satu.” – Hlm. 81-82

Seperti kutipan lirik lagu Sekai ni Hitotsu Dake no Hana, Bunga yang Hanya Satu-Satunya berikut ini. Lagu tersebut dinyanyikan pada waktu upacara perpisahan TK Naomi, anak sulung ibu penulis

Chiisai hana ya ookina hana Hitotsu onaji mono wa nai kara number one ni naranakutemo ii Motomoto tokubetsu only one.” – Hlm. 87)

Hal lain yang membuat saya takjub adalah semangat kerja sama dan kekompakan para ibu-ibu wali murid. Ada semacam klub/ekstrakurikuler untuk para ibu di sekolah anaknya masing-masing. Wow… keren ya. Kalau biasanya anak-anak yang sibuk sekolah dan ikut eskul rupa-rupa, di Jepang para ibu pun punya ekskul di tengah kesibukan tugas rumah tangga mereka. Tentu saja, para ibu rumah tangga juga butuh sarana untuk bersosialisasi dan aktualisasi diri, agar otak tetap waras di tengah urusan domestik yang padat. Nah, kalau di Indonesia umumnya para ibu cuma ikut arisan, di Jepang mereka ikut klub teater, klub memasak, dan beragam kegiatan lainnya.

Masih banyak lagi hal yang membuat saya mau tak mau membandingkannya dengan yang terjadi di negara sendiri. Seperti misalnya, ketika kita sudah 70% menguasai suatu bidang, di Indonesia kita akan menyebutnya “kita bisa”. Sementara di Jepang, mereka yang sudah 80-90% menguasai suatu bidang, mereka masih menganggap diri mereka “belum bisa”. Demikian perbedaan standar bisa dan tidak bisa di Jepang dengan di Indonesia. 😀

Di samping hal-hal yang membuat takjub, saya juga sering dibuat geli dan bahkan bergidik dengan kebiasaan-kebiasaan mereka yang tak lazim. Di Jepang yang notabene adalah negara sekuler, hampir semua masyarakatnya merayakan natal. Namun demikian, bagi mereka, natal bukanlah sebuah perayaan keagamaan, melainkan sebuah perayaan tahunan sebagaimana kita merayakan tahun baru dan perayaan yang lain. Hampir ngakak waktu baca bahwa sempat ada wacana di daerah mereka untuk mengganti natal dari bulan Desember ke bulan Agustus. Wkwkwk

“Karena bulan Desember adalah bulan yang sangat sibuk di Jepang, maka ada usul agar asosiasi sinterklas memindahkan Natal ke liburan musim panas atau sekitar bulan Agustus.” – Hlm. 154

Yang paling bikin ternganga sekaligus merinding adalah onsen. Onsen merupakan pemandian air panas di Jepang. Uniknya, di Onsen, orang-orang masuk ke tempat pemandian dengan tanpa sehelai pakaian pun. Mereka akan hilir mudik tanpa malu di depan banyak orang yang juga sedang mandi situ. Dan, hal itu dianggap wajar. Justru yang malu-malu yang akan dianggap aneh. Wew… Yah, meskipun pemandian laki-laki dan perempuan terpisah, tapi nggak gitu juga kali yaaa…

Terus apa lagi yaa… emm, sebenarnya banyak yang pengen saya ceritakan. Tapi, nanti jadi nggak seru lagi, dong. Jadi, kayaknya mending baca sendiri aja deh ya… 😀

Buku

 [Book Review] Momwriter’s Diary: Mengintip Seluk Beluk Kehidupan Ibu-Ibu Penulis

dtinta-1496637430316

Judul: Momwriter’s Diary

Penulis: Dian Kristiani

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer

Tebal: 139 halaman

Terbit: Oktober 2014

Kadang, saya ini suka berpikir kejauhan. Masih jomblo begini, saya sudah memikirkan bagaimana nanti kalau sudah jadi ibu rumah tangga. Masih bisa kerja nggak? Kira-kira saya bakalan bosan nggak kalau di rumah terus? Dan semacamnya.

Saya nggak akan memperdebatkan antara working mom dan juga fulltime mom. Karena menurut saya, mau jadi ibu berkarier atau ibu rumah tangga sepenuhnya, kesemuanya itu adalah pilihan yang kondisional dan telah dipikirkan untuk kebaikan bersama. Saya sendiri kalau ditanya kelak mau jadi working mom atau fulltime mom, saya nggak tahu jawabannya, karena belum tahu kondisinya gimana kelak. Yang pasti adalah, saya sedang ingin menyiapkan diri apabila kelak tidak bisa ngantor lagi karena urusan di ranah domestik tidak bisa ditinggalkan. Saya harus punya satu kegiatan sebagai aktualisasi diri, demi menyelamatkan kondisi psikis juga.

Nah, kegiatan semacam itulah yang dari kemarin saya cari-cari tapi nggak ketemu juga. Kawan-kawan saya yang kini jadi fulltime mommy, sebagian besar juga mulai memiliki kegiatan sampingan. Ada yang mengelola online shop, membuka usaha kuliner kecil-kecilan, menjual hasil rajutan, dan lain-lain. Lha, saya ini bisanya apa, ya? Ngurus olshop nggak telaten. Memasak, baru belajar. Merajut… ah, saya merajut asa doang bisanya. Hahaha Ranah yang saya bisa hanya seputar membaca, menulis, dan mengedit. 😀

Sampai akhirnya, saya menemukan buku ini. Momwriter. Sepertinya menarik juga untuk jadi salah satu kegiatan pilihan. Sambil ngurus rumah, sambil menulis. Entah nulis buku, nulis buat dikirim ke media, dan lain-lain. Yang penting tetap bisa aktualisasi diri.

Thanks to Ibu Dian, sungguh menginspirasi. Oh ya, di dalam buku ini termuat seluk-beluk tentang kepenulisan. Mulai dari mengenal outline, sampai memilih mau cari penerbit secara mandiri atau pakai agensi, mengenali agensi yang benar-benar bertanggung jawab “merawat” naskah penulisnya atau yang sekadar tukang forward email. :p Sedikit banyak, apa yang disampaikan dalam buku ini saya sudah tahu sebenarnya. Tapi, tips-tipsnya sangat bagus untuk dipraktikkan.

Gitu saja. Maaf curhatnya kepanjangan. =D

Buku

[Book Review] The Hard Questions, 100 Hal yang Harus Ditanyakan Sebelum Menikah

100 pertanyaan yang harus ditanyakan sebelum menikah

Judul: The Hard Questions, 100 Hal yang Harus Ditanyakan Sebelum Menikah

Penulis: Susan Piver

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: 2007

Tebal: 111 halaman

Perkara jodoh dan pernikahan memang menjadi bahasan yang paling sering mengudara di dalam hidup saya belakangan ini. Barangkali karena usia saya yang dianggap sudah ideal untuk menikah. Namun demikian, tidak ada maksud baper ataupun caper ketika buku ini sampai ke tangan saya. Saya menemukannya pun tanpa sengaja saat jalan-jalan ke warestore salah satu penerbit di Jogja. Ketika kemudian saya menjadikannya salah satu buku belanjaan waktu itu, niat saya cuma satu, saya mau belajar. Hehehe

Buku ini tipis saja. Namun, tak cukup sedikit waktu untuk saya selesai membacanya. Sebab meskipun tipis, membaca buku ini rasanya berat sekali bagi saya. Selain berat di perasaan (tentu saja), di dalam buku ini saya juga menemukan bahasan-bahasan baru yang sangat jauh dari jangkauan pengetahuan saya. Kemudian saya sadari bahwa dalam hal ini ilmu saya masih jauh dari kata memadai.

Dengan buku ini, saya seolah diberi tahu bahwa sejatinya menikah itu bukan semata perkara bersatunya dua hati yang saling mencintai. Menikah adalah tentang kompromi. Kompromi atas ego masing-masing. Kompromi seperti apa kehidupan yang ingin dijalani bersama pasangan nanti.

“… bukan kurangnya cinta yang menyebabkan suatu hubungan gagal, tapi ketidaksukaan pada kehidupan yang dibentuk bersama.”

— hal. 10

Dari buku ini, ada satu hal yang saya pelajari, adalah tak bijak tergesa ke pelaminan hanya untuk membungkam pertanyaan “kapan”. Sebab setelah menikah, ada banyak hal yang perlu kita kompromikan sepanjang kehidupan. Pada akhirnya, saya mengerti kenapa Tuhan masih membiarkan saya sendiri. Karena masih banyak hal yang harus saya pelajari. Masih banyak yang harus saya benahi.

Buku

[Book Review] Kenalan dengan Diri Sendiri: 45 Cara Membaca Kepribadian

img_20161004_152253
Gambar diambil dari sini

Penulis: Ade Rakhma Novita Sari & Ayu Larasati

Penyunting: Eista Swaesti

Proofreader: Tristanti

Ilustrator: Enggar Pujana

Penerbit: Trans Idea Publishing

Terbit: 2016

Blurb:

“Sudah tahu belum, kalau kepribadian seseorang bisa terbaca dari kebiasaan serta tingkah lakunya keseharian? Bahkan, tulisan tangan dan rasa es krim favorit pun bisa menunjukkan siapa kamu. Wah!

Penasaran, kan?

Nah, di buku ini ada caranya. Ada 45 cara membaca karakter seseorang melalui kebiasaan, tingkah laku keseharian, hobi, kesukaan, dan banyak lagi. Dengan buku ini, kamu bisa kenalan dengan dirimu sendiri. Bisa juga kamu praktikkan untuk membaca karakter saudara atau teman-temanmu.

Tak hanya itu, buku ini juga dilengkapi dengan teka-teki yang gokil di setiap babnya. Dijamin pasti fun!”

Ini adalah salah satu buku hasil garapan saya di kantor. 😀 *pamer* Dan, seperti yang telah dikemukakan di dalam blurb-nya, buku ini memuat cara-cara membaca kepribadian ditilik dari perilaku keseharian. Total ada 45 contoh kasus sehari-hari dan reaksi yang mungkin berbeda-beda dari setiap orang. Perbedaan reaksi itulah yang kemudian menjadi acuan untuk menentukan karakter seseorang.

Contoh:

Siswa yang memilih tempat duduk paling depan di kelas, dianggap memiliki karakter yang pantang menyerah. Adapun siswa yang memilih tempat duduk di dekat jendela kelas adalah dia yang memiliki imajinasi tinggi dan suka berpikir jauh.

Buku dengan tema sejenis ini barangkali banyak kita temui di pasaran, dan memang sedang digemari. Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya saya masih suka heran dengan ilmu psikologi yang semacam ini. Bagaimana bisa kepribadian seseorang dikaitkan dengan merek handphone yang dia pakai. Kalau saya pakai handphone lungsuran dari Kakak, misalnya, trus gimana menilainya tuh? 😀

Tapi, ya sudah, nggak usah meribetkan urusan yang memang tak perlu dibikin ribet. Toh, ini memang ada ilmunya. Dan, buku ini (juga sejenisnya) sebenarnya buat fun aja. Seru-seruan. Bisa senyum-senyum sendiri kalau hasilnya cocok, atau garuk-garuk kepala kalau hasilnya sangat melenceng dari fakta. :p

Buku

[Book Review] Oyako no Hanashi: Ketika Orang Tua Menjadi Sahabat Bagi Anak

Oyako No Hanashi
Gambar diambil dari sini

Judul: Oyako no Hanashi (Mom Vs Kid @ Japan)

Penulis: Aan Wulandari

Penerbit: Leutika

Cetakan Pertama: Juni 2010

Tebal: 168 halaman

Ketika mencermati judul dan subjudulnya, “Oyako no Hanashi: Mom Vs Kids @ Japan”, ditambah cover berlatar belakang bunga sakura dan rumah tradisional Jepang, saya membayangkan akan mendapati betapa serunya cerita keseharian seorang ibu bersama anaknya di Jepang. Maka, saya sedikit kecewa ketika isi dari buku ini tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Penggambaran setting yang kurang kuat, membuat saya tidak merasakan bahwa peristiwa yang diceritakan di dalam buku ini benar-benar terjadi di Jepang. Lebih mengecewakan lagi ketika ternyata cerita yang berlatar belakang Jepang hanya sampai pada halaman 55 saja, dari keseluruhan 168 halaman buku. Selebihnya adalah cerita keseharian ibu dan anak yang terjadi di Indonesia. Artinya, lebih dari separuh isi buku ini tidak ada hubungannya dengan jepang-jepangan. Barangkali inilah maksud ungkapan “Don’t judge a book by its cover”, sebab pada faktanya cover dari sebuah buku tidak bisa jadi acuan untuk mengira-ngira isinya.

Meskipun demikian, seluruh kekecewaan saya di atas sedikit terobati oleh Syafiq, anak kecil yang diceritakan di dalam buku ini. Di tengah kegundahan para orang tua terhadap anak-anak zaman sekarang yang bahkan sudah hafal lagu-lagu dangdut koplo (baca: dewasa sebelum waktunya), Syafiq adalah contoh anak yang cerdas, kritis, akan tetapi tetap polos sebagaimana seharusnya. Celotehan Syafiq tak hanya lucu dan menghibur, tetapi kadang-kadang juga tak terduga.

Terlepas dari kekecewaan yang tersebut di atas, membaca buku ini dapat memberikan gambaran bagi para orang tua atau calon orang tua bagaimana menghadapi celotehan-celotehan anak yang kritis. Menjadi sahabat bagi anak, seperti yang dilakukan oleh Mama dan Abah terhadap Syafiq dalam buku ini, mungkin adalah solusi yang baik daripada sekadar menjadi orang tua yang menggurui.