Buku

[Book Review] Para Bajingan yang Menyenangkan

 

Para Bajingan yang Menyenangkan

Judul: Para Bajingan yang Menyenangkan

Penulis: Puthut EA

Penyunting: Prima S. Wardhani

Desainer sampul: R.E. Hartanto

Penerbit: Buku Mojok

Terbit: Desember 2016

Tebal: 178 halaman

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat penasaran sekali dengan buku ini gara-gara banyak diomongin sama teman-teman. Waktu saya tanya ke seorang teman, “Bagus ya bukunya, Mas?”, sesemasnya bilang, “Yang ini, kalau nggak biasa baca, takutnya malah nggak cocok.” Barangkali beliau melihat saya terlalu polos sehingga tidak cocok membaca buku yang katanya memuat banyak pisuhan ini. :)) Akhirnya, saya redam rasa penasaran saya.

Belakangan, saya berjodoh dengan buku ini ketika membeli paket valentine di Buku Mojok. Dua buku incaran saya, ada satu paket dengan buku ini. Karena sudah punya, ya masak nggak dibaca. :))

Tadinya cuma mau intip-intip saja dan siap berhenti sewaktu-waktu kalau bikin pusing. Eeh… ternyata malah keterusan sampai habis. Jadi, apa saya sudah tidak polos lagi? Bisa jadi. Haha Alih-alih nggak cocok, saya malah sangat menikmatinya. Buku ini sukses membuat saya cekikikan di sembarang tempat. Di kantor, di dalam bus, dan bahkan di warung mi ayam. Lol

Buku ini berisi kisah masa muda penulis dengan sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam Jackpot Society. Mereka adalah tipe mahasiswa tanpa harapan dengan hobi yang semakin memperparah keadaan, mabuk dan judi. Tak habis saya dibuat terpingkal-pingkal membaca cerita koplak dari Bagor cs, meskipun sesekali harus mengernyitkan kening atau ngakak sambil istigfar (?) ketika ada cerita lucu yang diiringi pisuhan saru.

Beberapa cerita yang cukup membuat pipi dan perut saya kaku seperti adegan beli barang secara random di Ramai Mall saat menang judi, Pengki yang mabuk berat hingga asyik ngemil daun teh-tehan karena menyangkanya keripik singkong, Bagor kasih kartu ujian ke polisi waktu ditilang, hingga pengeksploitasian kehadiran Proton demi menyelamatkan diri dari pertanyaan maut dari keluarga besar di hari Lebaran.

Penggunaan bahasa Jawa yang ngoko sengoko-ngokonya membuat saya semakin menghayati cerita. Saya sampai download  beberapa video Basiyo setelah membaca buku ini. Haha Oh ya, tapi saya masih gagal paham kenapa setiap ada yang menantang Bagor berantem, orang itu jadi jiper ketika tahu Bagor orang Kotagede? Ada apa dengan Kotagede? Apa karena di sana ada makam Panembahan Senopati yang konon sangat sakti sampai keris pun tak mempan melukainya, sehingga orang sana juga terkenal sakti-sakti? Nggak dijelaskan di buku ini.

Orang waras pada umumnya barangkali akan menganggap para anggota Jackpot Society ini sebagai segerombolan pemuda dengan masa depan suram. Tapi, kok ya ndilalah mereka kini jadi orang sukses semua. Kecuali Almarhum Jadek yang telah meninggal dunia karena kecelakaan.

Maka pelajaran yang dapat diambil di sini adalah jangan terlalu underestimate kepada orang yang kita anggap buruk. Sebab, bisa jadi kelak mereka akan menjadi manusia yang lebih baik dari kita.

Buku

[Book Review] Where the Mountain Meets the Moon: Perjalanan Minli Mencari Kakek Rembulan

87unOokE

Judul: Where the Mountain Meets the Moon

Penulis: Grace Lin

Penerbit: Atria

Tebal: 261 halaman

Terbit: 2010

“Jika kau membahagiakan mereka yang ada di dekatmu, mereka yang jauh darimu akan datang.” – hlm. 238

Setiap hari, Minli harus ikut membantu Ba dan Ma bekerja di sawah hingga matahari mulai terbenam. Keluarga mereka sangat miskin. Minly melihat bagaimana orangtuanya bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka di tengah kemiskinan. Melihat Ma yang selalu murung dan uring-uringan.

Karena itulah, Minli bertekad mencari Kakek Rembulan untuk bertanya bagaimana cara mengubah peruntungan keluarga mereka. Kakek Rembulan adalah tokoh dalam dongeng yang diceritakan oleh Ba setiap malam. Tanpa sepengetahuan Ma dan Ba, Minli pun memulai petualangannya yang penuh keajaiban.

Buku yang sangat heart warming. Kisah yang indah dan diceritakan dengan indah pula. Tentang keluarga, persahabatan, serta pencarian kebahagiaan.

“Sepanjang hidupnya, sang hakim mewarnai jiwanya dengan begitu banyak amarah sehingga ketika raganya mati, jiwanya tidak bisa beristirahat dengan tenang ….” – hlm. 183

Buku ini menjadi semakin menarik dengan adanya bumbu dongeng-dongeng dari negeri China di samping cerita utama. Jadi seperti berlapis-lapis, ada cerita di dalam cerita.

Editingnya… emm, nemu beberapa typo. Seperti kata “meraka” yang seharusnya “mereka”, “manyala” yang seharusnya “menyala”, kata “naga” yang seharusnya tertulis “raja”, dan sebagainya. Di halaman 90, tertulis: “Seekor kerbau besar berlumuran lumpur, ditarik oleh seekor bocah ….” Itu bocah sejenis binatang apa gimana? Wew…

Beruntung masalah editing itu tidak begitu mengganggu karena saya sudah terlanjur asyik dengan kisah indah dan hangat, yang dapat menjadi obat untuk hati orang-orang dewasa yang sudah terlalu penat.

“Kekayaan bukanlah rumah yang dipenuhi dengan emas dan batu giok, namun sesuatu yang lebih bermakna daripada itu. Sesuatu yang telah dimilikinya dan tidak perlu diubahnya.” – hlm. 242.

 

Buku

[Book Review] Mata Ketiga

VH6JjVw6

Judul: Mata Ketiga

Penulis: Muhajjah Saratini

Penerbit: Loka Madia

Tebal: 81 halaman

Terbit: Oktober 2017

Blurb:

Kurasa, mandi setelah melakukan percintaan bukan hanya untuk menghilangkan penat dan sisa keringat yang sudah melekat. Utamanya, justru untuk membasuh perasaan muak. Itu yang kupikir ketika lagi-lagi terbangun dan mendapati Gadis sesenggukan—kadang hanya terisak—sementara tubuhku terbuka lebar, menerima air yang terus-menerus mengucur dari atas sana.

Kalau memang yang dilakukan Gadis dan Ari berdasarkan cinta, lalu kenapa dia lebih sering kutemukan menangis seperti ini?

Memangnya, ada berapa jenis cinta antara manusia?

Aku tidak mengerti.

Menyelesaikan membaca buku ini diiringi suara sholawatan selepas Subuh dari masjid sebelah rumah. *halah*

Buku tipis dengan kisah yang complicated. Sedikit mengingatkan saya kepada salah satu cerpen milik Eka Kurniawan berjudul “Cerita Batu”, yang mana kita diajak untuk melihat kehidupan dari para manusia yang “kurang beres” melalui sudut pandang tokoh bukan manusia. Hanya, emm… aduh, ini saya durhaka nggak ya kalau bilang buku ini yang lebih membuat bulu kuduk saya meremang daripada yang itu. Wkwkwk *Mbak Ajjah silakan geer :D*

Setidaknya, ada tiga hal yang menurut saya istimewa dan menjadikan buku ini berkesan. Pertama, tema yang dipilih. Tentang kisah cinta tak biasa beserta hal-hal suram yang menyertainya. Sebagai orang yang terbiasa dimanjakan oleh cerita cinta menye-menye, membaca kisah Gadis dan Ari tak dapat dipungkiri membuat saya sedikit berdebar. *eh

Kedua, adegan-adegan yang rada ekstrem. Lagi-lagi saya dibuat berdebar tapi dengan nuansa yang lain ketika sampai pada bagian Ayah mengambil tato Gadis. Ya ampun! Saya baca subuh-subuh loh ini, masih sepi. Merinding.

Ketiga, banyaknya kejutan. Saya seperti dijungkirbalikkan dengan alur yang tak terduga-duga. Dan, itu tak cuma sekali. Seperti yang sudah saya bilang, banyak plot twist di sini. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kegemaran Mbak Ajjah membaca cerita-cerita detektif.

Hanya ada satu yang agak mengganjal. Sebenarnya saya rada malu ini mau nanyain, tapi daripada penasaran. 😀 Anu, di sini dikatakan si Gadis nggak mau meninggalkan Ari karena dia sudah tidak perawan. Itu gimana ceritanya ya, bisa nggak perawan. Si Ari kan, itu… emm, ya sudahlah. Saya memang cupu. Lol!

Last, buku ini tipis saja. Selesai dibaca dengan sekali duduk. Tapi, efek yang saya rasakan setelah membaca buku ini kok sepertinya nggak selesai-selesai. Nggak heran kalau buku ini menjadi juara pertama. Selamat, Mbak Ajjah. Ditunggu karya-karya selanjutnya. 😀

Buku

[Book Review] Misteri Bilik Korek Api: Rumah Kosong, Sumur Tua, dan “Penglihatan” Emola

8MnvxVwr

Judul: Misteri Bilik Korek Api

Penulis: Ruwi Meita

Penerbit: Grasindo

Tebal: 238 halaman

Terbit: Oktober 2017

Blurb:

Sejak bayi Sunday tinggal di panti asuhan sehingga dia sama sekali buta dengan Ambon, daerah asalnya. Sampai Emola datang, lalu mengingatkan Sunday dengan asal-usulnya yang samar.

Suatu hari mereka menumukan bilik penuh tempelan korek api saat pindah panti asuhan yang baru. Sejak saat itu, kecelakaan demi kecelakaan menimpa teman-teman sekamar Sunday. Sunday mencurigai Emola berkaitan dengan semua kesialan yang terjadi. Bagaimana tidak? Emola memiliki kepribadian yang misterius, minim bicara, dan hanya mendendangkan lagu daerah asalnya sambil menggenggam bandul kalung yang dibungkus kain putih.

Lalu, siapa giliran berikutnya yang bakal celaka?

Dia?

Mereka?

Kamu?

Menyelesaikan membaca buku ini beberapa hari yang lalu. Dan, perlu menenangkan diri sejenak sebelum bisa menulis review ini. :))

Banyak yang saya suka dari buku ini. Pertama, jalan ceritanya yang penuh dengan teka-teki, membuat saya enggan untuk melepaskan buku ini setelah membaca lembar-lembar pertama. Menegangkan sekaligus bikin penasaran. Kedua, buku ini dituliskan dengan dua sudut pandang yang saling melengkapi. Kita akan membaca sisi gaib dari sudut pandang Emola, dan dunia yang kasat mata dari sudut pandang Sunday.

Ketiga, karakter tokoh yang unik. Emola mengingatkan saya kepada Christopher Boone di buku Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran. Setidaknya, bagaimana pusingnya kepala saya saat membaca jalan pikiran Emola, sama seperti ketika saya membaca jalan pikiran Christopher di buku tersebut. Christopher adalah seorang anak penderita sindrom asperger yang berusaha memecahkan kasus pembunuhan anjing tetangganya. Sedangkan, Emola adalah anak yang bisa mendengar warna-warna bersuara. Kalau tidak salah ingat, dari artikel yang pernah saya baca, kondisi Emola ini disebut dengan synesthesia. CMIIW. Hebatnya, selain menderita synesthesia, Emola juga anak indigo dan suka berhalusinasi melihat manusia seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Walah! Complicated sekali hidup Emola ini.

Hal lain yang saya sukai dari buku ini adalah saya jadi dapat banyak informasi baru. Tentang filumenis, John Walker, rumah jengki, permainan ancong-ancong, dll. Kereeenn… sekali pokoknya!

Kutipan favorit:

“Kadang menangis akan membantumu menyadari arti kekuatan.” – Nugi kepada Sunday. Aww… so sweet. :’)

Senang sekali bisa mendapatkan buku yang bagus ini dari sebuah giveaway. Apalagi, hadiahnya melebihi ekspektasi. Padahal saya dikasih buku saja sudah bahagia. Nah, ini saya malah dapat lengkap. Buku plus tanda tangan penulis, stiker, pin, juga pensil bunga mawar. Wuaaa… 😀 Bunga mawar ini bisa berarti mistis, bisa juga bermakna romantis. Hahaha terima kasiiihh…. *emoticon ketjup*

 

Buku

[Book Review] Sepotong Hati yang Baru: 8 Kisah Cinta dan Pelajaran yang Bisa Diambil Darinya

16052709
Gambar diambil dari sini

Judul: Sepotong Hati yang Baru

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Mahaka

Tebal: 204 halaman

Terbit: September 2012

Buku ini berisi sekumpulan cerita pendek tentang cinta, yang… endingnya kok nyesek semua. T__T

Konon, dalam kamus Melayu kuno tahun 1902, definisi dari kata “cinta” itu sendiri berupa “kesedihan” dan “patah hati”. Meskipun maknanya sudah sangat berlawanan dengan definisi cinta yang kita pahami saat ini, akan tetapi tak bisa dipungkiri bahwa cinta memang dapat berisiko membawa kita kepada kesedihan dan patah hati. Maka, hati-hatilah dalam bermain cinta.

“Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apa pun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kamu tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut.” – Hlm. 51

Delapan cerita pendek dengan delapan jenis cinta terangkum dalam buku ini. Ada cinta yang kegeeran, cinta dalam kemiskinan dan tekanan hidup, cinta kepada orangtua dan keluarga, cinta karena pengabdian yang tulus, cinta beda kasta, cinta kepada tanah air, cinta yang dihianati, serta cinta yang hancur karena prasangka.

“Tetapi cinta tanpa disertai kepercayaan, maka ibarat meja kehilangan tiga dari empat kaki-kakinya, runtuh menyakitkan.” – Hlm. 178

Delapan kisah cinta yang sangat heartbreaking, beserta hikmah-hikmah yang dapat diambil darinya. Cover buku ini pas banget untuk menggambarkan isinya. Hati yang diperban rapat, hanya menyisakan sepotong saja yang masih sehat.

Paling suka dengan cerpen yang diadaptasi dari kisah “Sampek Engtay” dan “Rama Shinta”. Dua kisah cinta legendaris tersebut memang terkenal memiliki ending yang sangat memilukan. Kisah Itje Noerbaja dan Kang Djalil juga cukup seru. Cerita cinta zaman penjajahan Belanda yang dituliskan dengan ejaan lama.

“Tapi tjinta kita, boekanlah apa-apa dibanding tjinta atas kemerdekaan bangsa kita. Tjinta soetji kita boekanlah apa-apa dibanding tjinta kita atas tanah air kita ini. Akoe, kamoe, akan mengorbankan apa poen demi itoe.”

Sayangnya, alih-alih menarik, saya justru capek baca tulisan dengan ejaan lama itu. Kayaknya nggak perlu ditulis pakai ejaan lama juga kali ya, untuk menunjukkan kalau cerita tersebut terjadi di masa penjajahan Belanda. Cukup dengan penggambaran setting atau interaksi tokoh-tokohnya mungkin.

Kisah kasih tak sampai si miskin dan si kaya ala Mbak Hesti dan Tigor juga cukup mengaduk perasaan. Klise, tapi entah kenapa tetap menarik.

Seperti yang tertulis di cover belakangnya, buku ini mengajarkan kepada kita bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman baik. Jadi, buat kamu…, kamu…, dan kamu yang suka baper dan galau mikir mantan atau gebetan, baiknya baca buku ini. Setidaknya, kamu akan tahu bahwa nasibmu jauh lebih baik daripada tokoh-tokoh yang ada di sini. 😀 *eh, kabur*

Buku

[Book Review] Gerbang Dialog Danur: Persahabatan Anak Manusia dengan Hantu

jPxgzvyy

Judul: Gerbang Dialog Danur

Penulis: Risa Saraswati

Penerbit: Bukune

Tebal: 224 halaman

Terbit: Januari 2012

Jangan heran jika mendapatiku sedang bicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat bersamaku. Saat itu, mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.

Kalian mungkin tak melihatnya. Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut… hantu–jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.

Jujur, sebenarnya saya ini penakut. Jangankan berurusan dengan hantu, mau ke kamar mandi di rumah tengah malam saja saya tidak berani. Namun, saya memiliki kesenangan yang aneh terhadap cerita-cerita atau film horor. Pada kondisi tertentu, saya membutuhkannya sebagai pelarian ketika hidup terasa mulai penuh dengan drama. Melihat tokoh di film-film tersebut dikejar hantu, saya jadi lebih bersyukur karena segala kegalauan yang sedang saya alami tidak ada apa-apanya dibanding dengan penderitaan mereka. Hahaha #ditendang

Karena kegemaran tersebut, sampailah buku ini ke tangan saya. Buku yang sangat menarik, menurut saya. Berbeda dari buku-buku bergenre horor lainnya, yang umumnya berisi full teror dari bangsa hantu. Di buku ini saya menemui hantu-hantu yang friendly, tampan, dan menggemaskan. Buku ini menceritakan tentang Risa, seorang anak manusia yang dikaruniai kemampuan dapat melihat makhluk tak kasat mata. Dengan kemampuannya itu, Risa kemudian berkenalan dengan lima hantu anak Belanda yang kemudian menjadi sahabatnya.

Peter, William, Hans, Hendrick, dan Janshen, nama lima sahabat hantunya itu. Kelimanya meninggal secara tragis akibat kekejaman Nippon. Mereka tidak langsung pergi menuju kedamaian, akan tetapi malah bergentayangan untuk menemukan sesuatu yang berharga dan mereka cintai dalam hidup mereka dulu.

“Aku tak mengkhawatirkan Papa, dia dapat melindungi dirinya sendiri. Aku mengkhawatirkan Mama, selamanya akan kucari Mama.” – Peter

Peter Cs membuat hari-hari Risa yang sebelumnya sepi menjadi lebih berwarna. Mereka selalu menemani Risa ke sekolah, mengusir hantu-hantu jahil yang mengganggu, bermain dan tertawa bersama. Namun, sebagaimana dalam kehidupan di dunia, yang namanya persahabatan pasti mengalami pasang surut. Suatu hari, Peter Cs marah karena Risa tak bisa menepati janjinya untuk ikut ke alam mereka pada usianya yang ke-13. Kelima sahabat hantunya itu marah, lalu pergi meninggalkannya.

Semenjak kepergian Peter Cs, hari-hari Risa pun mulai penuh teror. Hantu-hantu yang mendatanginya bukan lagi hantu-hantu bule yang necis dan cakep, melainkan hantu-hantu yang menyeramkan dan buruk rupa. Paling bikin saya merinding adalah hantu korban kebakaran bioskop dari Jogja. Ngeri banget penggambaran wujudnya, suwer. 🙁 Hantu-hantu tersebut mendatangi Risa untuk menceritakan kisah-kisah mereka semasa hidup hingga akhirnya menjadi arwah penasaran.

Nah, yang menarik di sini adalah kita jadi kayak bimbingan konseling dengan hantu gitu. 😀 Banyak petuah-petuah kehidupan dari kisah-kisah flashback para hantu tersebut. Membaca kisah-kisah para hantu yang tragis dan menyedihkan itu, seharusnya membuat kita bersyukur dan lebih menghargai kehidupan ini.

“Baru kali ini aku mengerti alasan kenapa mereka selalu mengeluarkan suara tangisan pilu. Baru sekarang aku tahu kenapa mereka selalu membuat suara-suara tawa mengerikan. Mereka sedang menangisi diri mereka sendiri, dan segala penyesalan atas apa yang telah mereka lakukan. Mereka juga sedang menertawakan diri mereka, yang begitu bodoh membuat sebuah keputusan.” – hlm. 116

Last, buku ini asyik juga kalau dibaca sambil dengerin lagu Bilur-nya Kak Risa Saraswati yang gloomy banget itu. Biar makin gregets.

Buku

[Book Review] Sing-Py, Single Happy: Buat Apa Dobel Tapi Nyakitin, Kalau Bisa Single Tapi Bahagia

Sing Py

Judul:  Sing-Py, Single Happy

Penulis: Dewi Dedew Rieka

Penerbit: Loveable

Tebal: 212 halaman

Terbit: September 2015

Apa yang salah sih jadi jomblo. Ya, memang dia ke mana-mana sendirian. Bareng ransel doang. Tapi, rasanya asyik-asyik saja. Nggak ada yang ngintilin melulu atau cerewet nanya, kamu di mana? Dengan siapa? Melakukan apa? – hlm. 136

Rania, seorang janda kembang yang trauma disakiti pria. Ia lalu membangun sebuah kos-kosan dengan misi tertentu, yaitu mendidik cewek-cewek agar tidak mudah tergoda oleh rayuan cowok. Maka, berdirilah Kos Jomblo. Sebuah kos-kosan putri yang murah meriah dan nyaman, tapi syaratnya harus jomblo. Peminat kos pun menumpuk, sehingga Rania harus melakukan seleksi. Akhirnya, terpilihlah 10 orang penghuni Kos Jomblo yang memiliki karakter warna warni.

Yang seru, meskipun syarat tinggal di Kos Jomblo adalah harus jomblo, tapi isi cerita di buku ini nggak jauh-jauh dari pedekate, pacaran, friendzone, dll. 😀 Mulai dari Hanna dan Vanessa yang sama-sama naksir Athalla, Roro yang pingsan di pernikahan sang mantan terindah, Hanna yang dimanfaatkan sama penulis idola, Kidung yang TTM-an, Tahlia yang pacaran sama playboy, Gani si maniak kuis yang jatuh cinta sama adik laki-laki ibu kos, Gillian si abege yang populer di kalangan cowok-cowok di sekolahnya, dan bermacam permasalahan cewek lainnya.

Secara konten, buku ini lucu, seru, koplak. Sayangnya, editingnya gengges alias ganggu banget, deh. Bayangkan, lagi asyik baca tiba-tiba bingung karena penulisan nama tokoh yang sering keliru, ada typo, tanda baca yang salah, dialog yang saling bertubrukan di satu paragraf (sebaiknya kalau beda tokoh, dienter aja biar nggak bingung), dan ada adegan yang terbalik susunannya.

Di halaman 52 si Vanessa bilang, “Tapi kamu cocok dipanggil Dudung. Tonjokanmu dahsyat.” Tapi, baru di halaman 53 ada adegan Kidung nonjok si Vanessa-nya. Bingung deh, saya.

Mengabaikan editing yang mengganggu, isi dari buku ini sangatlah menghibur. Ada-ada saja kelakuan para jones di buku ini. Buku ini seolah hadir untuk memberikan dukungan kepada para manusia lajang bahwa ….

“Jadi jomblo itu nggak mengerikan, karena jomblo itu bebas merdeka. Meski terhalang dompet tipis di tanggal tua.” – hlm. 81

PS: Terima kasih pemberian bukunya, Mas Dion. 🙂

Buku

[Book Review] Jodoh: Cerita Tentang Cinta, Takdir, dan Hal-Hal Lain yang Terkait Dengannya

dtinta-1496464910447

Judul: Jodoh

Penulis: Fahd Pahdepie

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal: 256 halaman

Terbit: November 2015

“Ketenangan adalah saat kita memasrahkan semuanya pada keadaan, takdir yang kadang-kadang sialan membuat kita ketinggalan kereta untuk menunggu lebih lama kedatangan kereta berikutnya.” — hlm. 110-111

Sena telah jatuh cinta kepada Keara sejak pertemuan pertama. Saat itu, usianya baru 7 tahun. Terlalu dini memang. Namun, siapa yang dapat menolak datangnya cinta. Dan, perasaan itu tak juga hilang saat mereka melanjutkan sekolah ke pesantren. Dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan ustadz dan ustadzah pesantren, Sena mulai mendekati Keara. Tak disangka, Keara pun memiliki perasaan yang sama.

Suatu hari, Keara harus keluar dari pesantren karena masalah kesehatan. Di situlah cinta mereka diuji. Dan cinta Sena kepada Keara, rupanya bukanlah cinta monyet semata. Sena mencintai Keara hingga mereka beranjak dewasa. Lalu, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka berdua? Apakah Sena berjodoh dengan Keara? Baca sendiri dong, ya. Kan, nggak boleh spoiler. 🙂

“Maafkan aku sudah mencintaimu, maafkan aku karena aku tak tahu cara lainnya.” — hlm. 143

Sempat hampir menyerah baca buku ini, sebab alurnya yang flat banget dan cenderung membosankan di bagian awal. Tidak terasa greget sebagaimana yang saya bayangkan sebelumnya ketika tertarik untuk baca buku ini. Singkatnya, saya gagal baper.

Tapi untungnya, pas pertengahan hingga menjelang ending, mulai terasa feel-nya. Mood naik lagi untuk lanjut baca sampai selesai. Nggak jadi gagal baper.

Cara Sena mencintai Keara yang begitu manis. Betapa pun cinta dan rindunya dia kepada Keara, Sena sekuat mungkin untuk menjaga diri. Menjaga batas-batas yang dibolehkan. Tidak ngawur menuruti hasratnya.

Sena bahkan memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta dan menjalani hubungan jarak jauh dengan Keara. Sena melakukannya dengan tujuan untuk menghindarkan dirinya dari perbuatan buruk yang mungkin tak bisa ditahannya, mengingat rasa cintanya kepada Keara yang begitu besar.

“Ada dua jenis kerinduan. Kerinduan pertama karena kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua karena kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu. Aku memilih yang kedua.” — hlm. 194

Kelebihan lainnya adalah gaya penulis bercerita yang liris dan puitis. Menambah kesyahduan kisah cinta unik Sena dan Keara. Suka sekali dengan cerita tentang laki-laki yang berjalan berjuta-juta langkah untuk mencari perempuan yang menjadi jodohnya. Dan juga perempuan yang melalui beribu-ribu purnama untuk menanti sang jodoh akan menjemputnya.

Ending-nya, saya jadi mafhum, apa itu jodoh yang sebenarnya.

Jodoh bukanlah semata belahan jiwa yang tengah menunggu untuk berlayar bersama sambil saling bergenggaman tangan. Sebagaimana yang selama ini diimajinasikan oleh banyak orang. Jodoh adalah sesiapa saja yang dipertemukan dengan kita oleh takdir di sebuah persimpangan waktu dan membuat hidup kita menjadi bermakna. Sebagaimana Sena dan Keara yang bertemu dan menuliskan kisah mereka berdua.

Lebih dari itu, jodoh yang paling sempurna untuk kita sesungguhnya adalah kematian.

JLEEEBBB…!!!

Buku

[Book Review] The Sweet Sins

img_20170613_124314

Judul:  The Sweet Sins

Penulis: Rangga Wirianto Putra

Editor: Ratna Mariastuti

Penerbit: Diva Press

Tebal: 428 halaman

Terbit: Oktober 2012

Blurb:

The sexiest novel I’ve ever read.

Betty W. Kusuma, penulis novel “Aku Seorang Gay”.

“Novelnya bagus, ‘dalem’, dan kehidupan di dalamnya seperti kehidupan yang kita ‘kenal’ banget. Ceritanya juga detail. Seperti membaca pengalaman pribadi seseorang. Anyway…, semoga laris, yaaa….”

Mia Arsjad, penulis novel “Rona Hidup Rona”.

“Jangan sentuh buku ini jika tidak mau tertampar-tampar oleh makna cinta!!!”

Helmy Feriansyah, artis.

“Rangga always do the best! This novel is so deep, mature, and full of surprises. Every scene made by love and lust as simple as beautiful. Best recommend!

Aline Laksmi, model, penulis, art lingerie designer.

“… Bukan cerita yang biasa. Life of gay. Pengetahuan baru buat kita semua.”

Avrira Azzahra, penulis serial “Shalikha”.

“Sebuah novel yang menambah kekayaan literatur roman Indonesia. Bertemakan LGBT dan berani mengangkat opera Italia sebagai jiwa dari keseluruhan cerita dengan cukup saksama….”

Aditya P. Setiadi, dosen Universitas Indonesia dan pemusik.

“Membaca novel ini membuat saya lebih dalam memaknai cinta. Sungguh, ini adalah novel yang jujur dalam memaparkan arti cinta.”

Oka Fahreza, penyiar Radio 89,5 JIZ FM Yogyakarta.

Ketika sang surya pagi menembus sela-sela jendela, aku tersadar, ternyata aku tidur dalam dekapannya. Aku pun merapat sama eratnya. Di sini, di balik dadanya, aku dapat melihat sinar matahari pagi membelai wajahnya yang rupawan dan melukiskan segala keindahan di sana ….

Di Balik Pelukan Terhangatnya…

Pertama kali baca buku beginian, dan mungkin untuk terakhir kalinya. :))

Mulanya karena kemarin saya sempat dilanda bosan baca novel cinta-cintaan yang ceritanya sudah terlalu umum. Lalu, teman saya menyodorkan buku ini. Katanya, cerita cinta di novel ini beda, tidak umum.

Memang beda, sih. Tapi….

Novel ini bercerita tentang Rei, seorang anak broken home yang kehilangan sosok ayah sejak masih kecil. Saat dewasa, dia bergaul dengan sahabat-sahabat yang juga memiliki pengalaman hidup dan pergaulan yang sama ruwetnya, menjadi gigolo, hingga bertemu dengan Ardo yang akhirnya menjadi “kekasihnya”.

Sebenarnya, kisah cinta Ardo dan Rei ini bisa dibilang cukup sweet. Ardo yang dewasa dan bijaksana banget, dan Rei yang butuh sosok pengganti sang ayah. Mereka jadi pasangan yang cocok dan saling melengkapi satu sama lain. Plus, ending kisah mereka yang nyesek, modal yang cukup untuk mengobrak-abrik perasaan.

Sayangnya, saya gagal baper setiap mengingat mereka ini sesama laki-laki. Alih-alih baper, saya justru pening. Apalagi, beberapa bagian di novel ini juga terlalu blak-blakan menggambarkan kemesraan antara Ardo dan Rei, sehingga terpaksa saya skip demi kewarasan jiwa. Saya berhasil menuntaskan membaca buku ini setelah tersaruk-saruk, sambil nahan pening dan mual, serta beberapa kali skip ketika sudah menjurus ke adegan berbahaya. :))

Dua bintang untuk buku ini. Bukan karena buku ini buruk (takut dikeroyok penggemar novel ini, wkwk), melainkan karena saya tidak bisa menikmatinya. Mungkin karena ini memang bukan bacaan yang cocok untuk saya, jadi sayanya nggak becus bacanya.

Maka, sebagaimana keterangan di Goodreads, 2 bintang berarti “it was ok“.

Kutipan favorit di novel ini:

“Jangan pernah mengingkari cinta karena cinta adalah salah satu dari rahmat Tuhan yang paling besar yang Dia turunkan ke dunia. Karena cintalah manusia ada sejak dahulu, sekarang, dan untuk masa yang akan datang.” (hlm 180)

Love is about chemistry but sex is about physics. Love is nude but sex is naked. Love is erotic but sex is pornography.” (hlm 187)

*menenangkan diri, lalu kembali ke buku unyu-unyu wkwkwk*

Buku

[Book Review] 8… 9… 10… Udah Belom?!

dtinta-1497061629782

Judul:  8… 9… 10… Udah Belom?!

Penulis: Laurentia Dermawan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 208 halaman

Terbit: Juli 2008

Blurb:

Sewaktu masih kanak-kanak, Nesya dan Vino adalah teman sepermainan. Saat mereka bermain petak umpet dan Nesya bersembunyi, Vino malah pulang dan tidak muncul-muncul lagi. Sendirian dan ketakutan, Nesya terus bersembunyi, hingga akhirnya ditemukan oleh Mike.

Sepuluh tahun kemudian, Vino dan Nesya bertemu kembali. Vino tetap ingat pada Nesya, tapi Nesya tidak mengenali Vino. Ya, dua bulan sebelumnya Nesya mengalami kecelakaan bersama Mike, kekasihnya. Mike meninggal dunia, dan Nesya amnesia.

Vino jatuh cinta pada Nesya dan ingin membantu Nesya mengingat masa lalunya. Tapi setelah Vino tahu bahwa Nesya pacar almarhum Mike, sahabatnya sendiri, Vino malah ingin menutupinya. Vino ingin Nesya hanya mencintainya, tanpa mengingat kenangan akan Mike.

Dulu, saat Vino meninggalkan Nesya, Mike-lah yang menemukannya. Dan kini, saat Mike meninggalkan Nesya, akankan Vino yang mengisi hari-hari Nesya?

Baiklah, jadi yang namanya teenlit itu nggak jauh-jauh dari:

  1. Kapten basket/cowok cakep banget yang digilai banyak cewek di sekolah.
  2. Cewek populer beserta gengnya yang selalu menganiaya siapa pun yang coba-coba dekat dengan si cowok idola.
  3. Cewek enggak populer dan sahabatnya, yang sebelumnya selalu berseteru dengan si cowok idola tapi berakhir saling jatuh cinta.
  4. Anak-anak berangkat sekolah dengan mengendarai mobil sendiri.
  5. Tokoh orang tua yang jarang muncul. Seolah di dalam cerita itu anak-anak remaja pada pusing memecahkan masalah mereka sendiri (yang kadang masalahnya itu amat pelik, lebih pelik dari masalah orang dewasa mikirin jodoh #eh).
  6. Plus, meski nggak selalu, tapi sering, ada adegan tragis seperti sakit keras atau kecelakaan yang berujung salah satunya meninggal dunia atau amnesia.

Sebenarnya saya sudah mulai bosan baca cerita-cerita mainstream ala novel teenlit, sebab memang sudah bukan masanya (ingat umur, woy!). Tapi, buku ini sudah ada di tumpukan buku-buku yang belum terbaca sejak lama. Dan saya harus bertanggung jawab untuk membaca buku-buku yang sudah saya beli. Sialnya, dulu saya suka banget dengan genre ini. Jadi, buku-buku semacam ini ada lumayan banyak yang tertimbun menunggu pertanggungjawaban untuk dibaca. (T____T)

Catatan untuk novel ini:

  1. Judulnya unik. Bisa dibilang, ini salah satu daya tarik dari buku ini.
  2. Covernya bagus. Manis. Sangat remaja.
  3. Ceritanya terlalu umum.
  4. Dialognya… banyak umpatan, hmm… nggak tahu juga sih pergaulan remaja zaman sekarang gimana. Tapi, saya kurang sreg aja dengan tokoh-tokoh remaja di dalam novel ini yang sering bilang “Lo gila!”, “Lo bego”, “Tolol”, dan sebagainya. 🙁
  5. Ada beberapa bagian yang nggak logis. Memang ini fiksi, tapi kan kalau nggak logis jadinya ngganjel juga.
  6. Last, mungkin kalau saya baca ini waktu masih SMP, saya bakalan terharu juga dengan kisah Nesya – Vino – Mike itu.

Tapi, ini bukan buku yang jelek, sih. Saya pernah menemukan yang lebih parah dari ini. Jadi, kalau kemarin saya rada bosan waktu membaca buku ini, barangkali karena genre ini bukan lagi bacaan yang tepat untuk saya. 🙂