Buku

[Book Review] Pengantin Hamas: Mengapa Kalian Renggut Pengantinku?

Pengantin Hamas

Judul: Pengantin Hamas, Mengapa Kalian Renggut Pengantinku?

Penulis: Vanny Chrisma W.

Editor: Addin Negara

Penerbit: Laksana

Jumlah halaman: 240

Terbit: Mei 2013

Terlahir sebagai saudara kembar, tak lantas membuat segala sesuatunya menjadi sama. Adalah Ibris dan Ibrisim, kembar identik. Secara fisik, tak ada yang membedakan di antara mereka. Semua tampak sama. Hanya saja, Ibrisim selalu tampak mengenakan ikat kepala HAMAS. Itulah yang membedakan di antara keduanya.

Ibrisim dan teman-temannya memang memiliki impian untuk menjadi mujahid. Berperang melawan Israel demi negara mereka tercinta, Palestina. Sangat berbeda dengan saudara kembarnya, Ibris. Ibris tidak menyukai peperangan. Dia mencintai perdamaian. Ibris sangat menikmati ketenangan, sambil melakukan hobinya, melukis di atas kanvas.

Membaca novel ini, saya sangat terbawa dalam konflik batin setiap tokohnya. Bagaimana Ibrisim dihadapkan pada dilema antara memilih melanjutkan cita-cita perjuangannya atau menuruti ibu dan saudara kembarnya yang tidak setuju dia menjadi mujahid. Bagaimana kisah cita segitiga antara Ibrisim, Ibris, dan Huriya. Konflik Ibrisim dengan teman-temannya ketika Ibrisim lebih memilih menikahi Huriya daripada melanjutkan berjuang menemukan Fatimah, sahabat wanitanya yang diculik tentara Yahudi.

Emosi saya semakin teraduk-aduk saat membaca kisah Fatimah. Sejak kejadian penculikan tentara Yahudi, nasib Fatimah memang tidak bisa dibilang baik-baik saja. Dia memang bisa bertahan hidup. Namun, Fatimah telah hancur jiwa maupun raganya.

Shopia membalut luka-luka memar di wajah Fatimah. Rupanya ketika bom itu meledakkan bus antar jemput, Fatimah berlari menghampiri dan berteriak-teriak seperti orang gila. Karena dianggap terlibat, Fatimah dipukul habis-habisan oleh tentara wanita yang sedang bertugas. Padahal Fatimah tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian. Ia hanya mengenal si pengebom yang bernama Ibrisim lewat selembar surat yang ada di tangannya. — hal. 236

Novel ini memiliki ending yang sedih. Saya tidak pernah suka dengan sad ending, sebab meski ceritanya sudah selesai, rasanya masih sedih saja gitu. 🙁 Namun ending yang penuh tragedi dalam novel ini, justru membuat ceritanya meninggalkan kesan yang cukup dalam. Selain ending dan konflik antartokoh, saya cukup terbawa suasana dengan penggambaran setting-nya. Selama ini, saya hanya membaca novel-novel chicklit yang notabene latarnya mal, luar negeri, dan gaya hidup mewah lainnya, di novel ini saya jadi merasakan suasana baru.

Ada beberapa quote yang saya sukai. Salah satunya adalah quote berikut ini:

“Mengapa orang harus takut terjadinya kiamat jika telah terjadi perdamaian. Jika orang-orang takut berdamai lantaran takut pula terjadi kiamat, artinya mereka hanya takut merasakan mati. Benar tidak? — hal. 234

Hanya ada dua catatan saya untuk novel ini. Pada bab 9 “Mimpi-Mimpi Kegalauan” dan bab 17 “Seruan Malaikat Menyerbu Gaza” isinya sama. Tentang mimpi buruk Ibrisim. Meskipun ceritanya mimpi tersebut terulang, tapi rasanya tak perlu ditulis lagi dengan detail. Sebab, bacanya jadi berulang-ulang. Sama plek pula.

Lalu, pada halaman 217. Ketika Ibrisim dan kawan-kawannya membicarakan tentang keberadaan Fatimah. Di bagian itu disebutkan bahwa Abd as-Sami telah mengetahui kondisi Fatimah yang sebenarnya. Dia tahu bahwa Fatimah masih hidup dan dalam kondisi yang cacat. Sayangnya, dalam novel ini tidak diceritakan bagaimana Abd as-Sami bisa mengetahuinya, sedangkan yang lain tidak. Jadi, rasanya ada jalan cerita yang hilang.

Selebihnya, novel ini recommended! 🙂