Buku

[Book Review] Jodoh: Cerita Tentang Cinta, Takdir, dan Hal-Hal Lain yang Terkait Dengannya

dtinta-1496464910447

Judul: Jodoh

Penulis: Fahd Pahdepie

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal: 256 halaman

Terbit: November 2015

“Ketenangan adalah saat kita memasrahkan semuanya pada keadaan, takdir yang kadang-kadang sialan membuat kita ketinggalan kereta untuk menunggu lebih lama kedatangan kereta berikutnya.” — hlm. 110-111

Sena telah jatuh cinta kepada Keara sejak pertemuan pertama. Saat itu, usianya baru 7 tahun. Terlalu dini memang. Namun, siapa yang dapat menolak datangnya cinta. Dan, perasaan itu tak juga hilang saat mereka melanjutkan sekolah ke pesantren. Dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan ustadz dan ustadzah pesantren, Sena mulai mendekati Keara. Tak disangka, Keara pun memiliki perasaan yang sama.

Suatu hari, Keara harus keluar dari pesantren karena masalah kesehatan. Di situlah cinta mereka diuji. Dan cinta Sena kepada Keara, rupanya bukanlah cinta monyet semata. Sena mencintai Keara hingga mereka beranjak dewasa. Lalu, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka berdua? Apakah Sena berjodoh dengan Keara? Baca sendiri dong, ya. Kan, nggak boleh spoiler. 🙂

“Maafkan aku sudah mencintaimu, maafkan aku karena aku tak tahu cara lainnya.” — hlm. 143

Sempat hampir menyerah baca buku ini, sebab alurnya yang flat banget dan cenderung membosankan di bagian awal. Tidak terasa greget sebagaimana yang saya bayangkan sebelumnya ketika tertarik untuk baca buku ini. Singkatnya, saya gagal baper.

Tapi untungnya, pas pertengahan hingga menjelang ending, mulai terasa feel-nya. Mood naik lagi untuk lanjut baca sampai selesai. Nggak jadi gagal baper.

Cara Sena mencintai Keara yang begitu manis. Betapa pun cinta dan rindunya dia kepada Keara, Sena sekuat mungkin untuk menjaga diri. Menjaga batas-batas yang dibolehkan. Tidak ngawur menuruti hasratnya.

Sena bahkan memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta dan menjalani hubungan jarak jauh dengan Keara. Sena melakukannya dengan tujuan untuk menghindarkan dirinya dari perbuatan buruk yang mungkin tak bisa ditahannya, mengingat rasa cintanya kepada Keara yang begitu besar.

“Ada dua jenis kerinduan. Kerinduan pertama karena kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua karena kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu. Aku memilih yang kedua.” — hlm. 194

Kelebihan lainnya adalah gaya penulis bercerita yang liris dan puitis. Menambah kesyahduan kisah cinta unik Sena dan Keara. Suka sekali dengan cerita tentang laki-laki yang berjalan berjuta-juta langkah untuk mencari perempuan yang menjadi jodohnya. Dan juga perempuan yang melalui beribu-ribu purnama untuk menanti sang jodoh akan menjemputnya.

Ending-nya, saya jadi mafhum, apa itu jodoh yang sebenarnya.

Jodoh bukanlah semata belahan jiwa yang tengah menunggu untuk berlayar bersama sambil saling bergenggaman tangan. Sebagaimana yang selama ini diimajinasikan oleh banyak orang. Jodoh adalah sesiapa saja yang dipertemukan dengan kita oleh takdir di sebuah persimpangan waktu dan membuat hidup kita menjadi bermakna. Sebagaimana Sena dan Keara yang bertemu dan menuliskan kisah mereka berdua.

Lebih dari itu, jodoh yang paling sempurna untuk kita sesungguhnya adalah kematian.

JLEEEBBB…!!!

Seni & Budaya

Tumplak Punjen: Wujud Syukur Atas Selesainya Tugas Orang Tua

Sebagian orang mungkin ada yang belum mengenal upacara adat yang satu ini. Salah satu rangkaian prosesi upacara pernikahan adat Jawa, yang mana dilaksanakan pada saat orang tua mengadakan pernikahan anaknya yang terakhir. Nama Tumplak Punjen itu sendiri berasal dari kata tumplak yang berarti tumpah (keluar semua), dan punjen yang artinya sesuatu yang dipanggul (anak yang menjadi tanggungan orang tua). Kata punjen dapat dimaknai juga sebagai pundi-pundi, yang menyimbolkan harta benda hasil jerih payah orang tua.

Dalam budaya Jawa, orang tua memiliki tiga kewajiban terhadap anak-anaknya, yaitu memberi nama yang baik (nama yang berisi harapan dan doa untuk anak-anaknya), mendidik, dan yang terakhir adalah menikahkan. Ketika orang tua telah menikahkan anaknya yang terakhir, maka upacara Tumplak Punjen ini dilakukan sebagai tanda bahwa orang tua telah menyelesaikan seluruh kewajiban mereka kepada anak-anaknya.

Adapun pelaksanaan prosesi Tumplak Punjen ini sendiri dilakukan pada saat acara Panggih Temanten. Acara dimulai dengan sambutan dari salah seorang anak yang mewakili saudara-saudaranya, yang ditujukan kepada bapak dan ibunya. Dalam sambutannya tersebut, sang anak dapat menyampaikan ungkapan terima kasih atas jasa-jasa orang tua kepada mereka. Setelah itu, giliran orang tua yang memberikan jawaban atas sambutan dari anaknya. Kemudian dilanjutkan dengan sungkeman, yang dimulai dari anak tertua hingga si bungsu (sang pengantin) beserta para pasangan masing-masing.

Ketika sungkem, orang tua akan memberikan kantung-kantung kecil yang berisi biji-bijian (beras kuning, kedelai, jagung, empon-empon), bunga sritaman, dan uang. Prosesi ini menyimbolkan orang tua memberi modal kepada anak-anaknya untuk mengarungi hidup yang baru. Modal yang dimaksud bukan hanya berupa harta benda, melainkan juga modal ilmu, budi pekerti, dan agama.

Setelah sungkeman selesai, orang tua menyebar udhik-udhik yang berada dalam bokor, yang kemudian bisa diperebutkan oleh anak, menantu, cucu, dan seluruh tamu undangan. Yang dimaksud dengan udhik-udhik itu sendiri adalah sama seperti isi kantung-kantung kecil yang sebelumnya diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya ketika sungkeman, yaitu berupa biji-bijan, bunga sritaman, dan uang receh. Saat prosesi menyebar udhik-udhik ini, orang tua harus menyisakannya untuk kemudian ditumplak atau ditumpahkan di depan pelaminan, sebagai syarat dari upacara Tumplak Punjen bagi anak terakhirnya.

images
Udhik-Udhik (Gambar diambil dari cridealits.blogspot.com)

Dalam perkembangannya, pelaksanaan prosesi Tumplak Punjen ini memiliki beberapa perbedaan dari upacara aslinya. Perbedaan ini terjadi sesuai dengan perubahan zaman. Seperti misalnya, upacara Tumplak Punjen tidak melulu dilaksanakan pada acara pernikahan si bungsu. Sebab tak jarang terjadi anak bungsu yang menikah lebih dulu daripada kakaknya. Maka, Tumplak Punjen ini dilaksanakan pada hajatan terakhir yang diadakan oleh orang tua, meskipun itu bukan pernikahan anak bungsunya. Perbedaan lainnya ada pada salah satu ubo rampe Tumplak Punjen yang sebelumnya berupa uang receh, baik logam ataupun kertas, pada zaman sekarang dapat diganti dengan hadiah berupa perhiasan atau barang berharga lainnya. Ada juga yang hanya memberikan udhik-udhik tersebut sebagai souvenir yang dibagikan kepada para tamu undangan, bukan disebar dan dirayah sebagaimana sebelumnya.

tumplak punjen
Contoh souvenir yang berisi udhik-udik untuk para tamu undangan (gambar diambil dari: http://corojowo.blogspot.co.id)

Bagaimanapun cara pelaksanaannya, baiknya kita ambil saja makna dan tujuan dari prosesi Tumplak Punjen itu sendiri. Selain sebagai wujud syukur orang tua kepada Allah Swt. karena telah selesainya tugas mereka membesarkan, mendidik, hingga menikahkan anak-anaknya, juga sebagai tanda cinta kasih orang tua, tanda bakti anak (ditandai dengan sungkeman), teladan untuk bersedekah kepada sesama, dan harapan serta doa orang tua untuk kebahagiaan anak dan cucunya.