Seni & Budaya

Prajurit Jogokaryo, Sang Penjaga Keamanan Kerajaan

4.Jagakarya
Gambar diambil dari web https://www.kratonjogja.id

Prajurit Jogokaryo dulu merupakan pasukan yang bertugas menjaga keamanan dan jalannya pemerintahan di kerajaan. Namanya berasal dari gabungan bahasa sansekerta ‘jogo’ yang berarti menjaga serta dari bahasa kawi ‘karyo’ yang berarti tugas atau pekerjaan. Dalam iring-iringan bregada prajurit Keraton Yogyakarta, Prajurit Jogokaryo berada pada urutan keempat setelah Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaeng, dan Prajurit Patangpuluh.

Dalam satu pasukan, Prajurit Jogokaryo terdiri atas 4 orang perwira, 8 orang bintara, 72 orang prajurit, serta 1 orang prajurit yang bertugas membawa dwaja atau panji-panji pasukan. Panji dari Prajurit Jogokaryo memiliki warna dasar merah dengan lingkaran berwarna hijau di bagian tengahnya, yang diberi nama papasan. Konon, nama tersebut memiliki makna “memapas” atau “menumpas”. Melambangkan Prajurit Jogokaryo sebagai pasukan yang gagah berani menumpas musuh-musuhnya.

Seragam yang dikenakan oleh Prajurit Jogokaryo berupa pakaian bermotif lurik dengan topi tempelangan (berbentuk kapal terbalik) berwarna hitam. Selain Jogokaryo, ada tiga pasukan lagi yang juga memakai pakaian bermotif lurik, yaitu Prajurit Patangpuluh, Prajurit Ketanggung, dan Prajurit Mantrijero. Prajurit Patangpuluh mengenakan atasan lurik dengan celana berwarna merah, Prajurit Ketanggung mengenakan atasan lurik dengan celana berwarna hitam, sementara Prajurit Matrijero dan Jogokaryo sama-sama memakai atasan dan celana lurik. Perbedaannya ada pada kaus kaki yang mereka kenakan. Prajurit Mantrijero memakai kaus kaki berwarna putih, sedangkan Prajurit Jogokaryo mengenakan kaus kaki berwarna hitam.

Gladi Resik Jogokaryo
Gambar dokumen pribadi

Prajurit Jogokaryo memiliki persenjataan berupa senapan, tombak, serta keris. Dalam iring-iringan kirab Prajurit Keraton, mereka juga dilengkapi dengan seperangkat alat musik, yaitu tambur, seruling, dan terompet. Ada dua macam iringan musik yang dimainkan oleh Prajurit Jogokaryo, yaitu Mars Tamengmaduro ketika mereka sedang berjalan cepat dan Mars Slanggunder ketika mereka sedang berjalan lambat dengan langkah yang sedikit digayakan.

Saya berkesempatan mengabadikan momen Prajurit Jogokaryo ini dalam gladi resik untuk acara Grebeg Syawal tahun Dal 1951, di Alun-alun Utara tanggal 10 Juni 2018 yang lalu. Suara terompet yang dibunyikan dengan irama khas sebagai penanda datangnya para Prajurit Jogokaryo, selalu berhasil membuat saya terkesima. Meskipun saat ini peran dari Prajurit Jogokaryo sudah sangat berbeda daripada dulu, akan tetapi pesona mereka serta kesembilan bregada lainnya tetap menarik perhatian masyarakat. Dan, saya termasuk di antaranya.

Seni & Budaya

Prajurit Lombok Abang, Sang Pengiring Gunungan dari Pakualaman

Bersama Prajurit Lombok Abang
Saya bersama Prajurit Lombok Abang

Banyak orang sering salah menggunakan nama Prajurit Lombok Abang untuk menyebut kesatuan prajurit yang ada pada urutan pertama dalam defile prajurit Keraton Yogyakarta. Nama pasukan tersebut yang sebenarnya adalah Prajurit Wirabraja. Terus terang, saya pun dulu mengira nama “Lombok Abang” merupakan julukan dari Prajurit Wirabraja yang diberikan oleh masyarakat. Sebab, seragam dan bentuk topi Prajurit Wirabraja memang menyerupai lombok abang atau cabai merah.

Belakangan saya tahu kalau Prajurit Lombok Abang itu ternyata ada sendiri, Guys. Jadi, Prajurit Lombok Abang dan Prajurit Wirabraja itu merupakan dua kesatuan yang berbeda.

Lombok Abang merupakan kesatuan prajurit dari Puro Pakualaman. Selain Lombok Abang, ada satu pasukan lagi yang bernama Prajurit Plangkir. Prajurit Lombok Abang memiliki seragam dan atribut berwarna serba merah, sedangkan Prajurit Plangkir seragam dan atributnya berwarna serba hitam. Pada waktu acara garebeg, Prajurit Lombok Abang dan Prajurit Plangkir bertugas mengiringi gunungan dari Keraton menuju ke Puro Pakualaman.

Foto saya bersama Prajurit Lombok Abang di atas diambil pada acara garebeg Syawal sekitar tahun 2014. Waktu itu pas nggak niat mau nonton garebeg. Hanya mendapat titah dari ibu buat mengondisikan ponakan-ponakan. Lalu, saya ajak saja mereka melipir ke Kemandungan Ler. 😀