Buku

[Review] Sebuah Kitab yang Tak Suci: Absurd dan Muram, Jangan Baca Buku Ini Ketika Otak Sedang Semrawut

Sebuah Kitab yang Tak Suci

Judul: Sebuah Kitab yang Tak Suci

Penulis: Puthut Ea

Penerbit: Mojok

Tebal: 87 hlm

Terbit: 2017

Buku kedua karya Puthut Ea yang saya baca setelah Seekor Bebek Mati di Pinggir Kali. Sama seperti ketika membaca buku sebelumnya, lagi-lagi saya seperti tersesat dalam labirin yang ruwet. Diksi-diksi yang cenderung absurd, cukup sulit dijangkau oleh otak saya yang pas-pasan ini.

Buku ini berisi 10 cerita pendek yang kesemuanya bernuansa muram. Iya, 10 cerpen, entah kenapa di back cover-nya tertulis ada 12 cerpen. Kesan muram tersebut juga saya temukan pada buku Seekor Bebek mati di Pinggir Kali. ­Barangkali memang itu merupakan ciri khas dari karya-karya Puthut Ea. Selain kisah-kisah yang muram, ciri khas lainnya adalah pilihan kata serta penggambaran suasana yang keren.

Pada cerpen pertama yang berjudul “Kematian Seorang Istri” contohnya, kita akan disuguhi kisah menyedihkan seorang laki-laki yang merawat jenazah istrinya layaknya masih hidup. Namun demikian, kisah tentang kematian, mayat, dan kesunyian tersebut dibuka dengan narasi yang cukup membuai seperti ini:

“Ia menulis sebuah puisi panjang di depan sekujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata seperti “mati”, “kematian”, dan “air mata” di dalam puisi itu. Dia bersama tubuh kaku istrinya, kamar sepi, dan sesuatu yang menyangkut di tenggorokan namun bukan kesedihan.” – hlm 1.

Pilihan kata dan penggambaran suasana yang indah juga tampak dalam cerpen berjudul “Penunggang Kuda yang Selalu Memburu Angin”. Saya agak kesulitan untuk memahami esensi dari cerpen yang satu ini, akan tetapi cukup terbuai dengan diksi-diksinya yg sangat estetis.

“Sebetulnya cerita ini tidak pernah berakhir. Hanya karena ketakutan kaum ibu yang tak bisa membelai rambut dan meniupkan doa-doa pada ubun-ubun anak mereka, serta para bapak yang tak bisa lagi membanggakan anaknya di tengah pesta kenduri atau warung kopi, maka cerita ini dibuang jauh-jauh menuju ke negeri dongeng.” – hlm. 65

Cerpen lain yang menjadi favorit saya adalah “Rahim Itu Berisi Cahaya”. Cerpen ini mengisahkan tentang tiga jenis makhluk ciptaan Tuhan yang memprotes ketetapan takdir, lalu bekerja sama untuk menciptakan takdir sendiri.

“Menurutnya, ada yang keliru tentang wakil Tuhan di dunia. Sayang di dalam kitab yang selalu diwariskan oleh keluarganya mengatakan bahwa Tuhan tahu apa yang tidak diketahui makhluknya. Bahkan juga setan yang dengan sangat keras dan kritis menanyakan eksistensinya. Sebab buat apa setan diciptakan jika hanya untuk mengganggu manusia.” — hlm. 40

Ada satu bagian yang menarik dari cerpen tersebut, yaitu ketika si tokoh wanita gundah dan bertanya-tanya tentang penciptaan manusia di dunia. Tentang apa alasan Tuhan menciptakan pria terlebih dahulu, baru kemudian wanita diciptakan dari tulang rusuk pria. Mengapa bukan wanita yang diciptakan terlebih dahulu kemudian pria diciptakan dari rontokan rambut wanita. Walah! 😀 Kalau mengingat penulisnya adalah seorang lulusan dari fakultas filsafat, nggak heran sih kalau kita jadi diajak untuk ikut berpikir filsafati begitu di dalam cerpennya.

Nah, pada akhirnya, saya sependapat dengan komentar salah satu pembaca buku ini di Goodreads, yaitu jangan membaca buku ini ketika suasana sedang semrawut. Kecuali kamu bisa memisahkan isi kepala di antara keramaian. 😀

Buku

[Book Review] Para Bajingan yang Menyenangkan

 

Para Bajingan yang Menyenangkan

Judul: Para Bajingan yang Menyenangkan

Penulis: Puthut EA

Penyunting: Prima S. Wardhani

Desainer sampul: R.E. Hartanto

Penerbit: Buku Mojok

Terbit: Desember 2016

Tebal: 178 halaman

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat penasaran sekali dengan buku ini gara-gara banyak diomongin sama teman-teman. Waktu saya tanya ke seorang teman, “Bagus ya bukunya, Mas?”, sesemasnya bilang, “Yang ini, kalau nggak biasa baca, takutnya malah nggak cocok.” Barangkali beliau melihat saya terlalu polos sehingga tidak cocok membaca buku yang katanya memuat banyak pisuhan ini. :)) Akhirnya, saya redam rasa penasaran saya.

Belakangan, saya berjodoh dengan buku ini ketika membeli paket valentine di Buku Mojok. Dua buku incaran saya, ada satu paket dengan buku ini. Karena sudah punya, ya masak nggak dibaca. :))

Tadinya cuma mau intip-intip saja dan siap berhenti sewaktu-waktu kalau bikin pusing. Eeh… ternyata malah keterusan sampai habis. Jadi, apa saya sudah tidak polos lagi? Bisa jadi. Haha Alih-alih nggak cocok, saya malah sangat menikmatinya. Buku ini sukses membuat saya cekikikan di sembarang tempat. Di kantor, di dalam bus, dan bahkan di warung mi ayam. Lol

Buku ini berisi kisah masa muda penulis dengan sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam Jackpot Society. Mereka adalah tipe mahasiswa tanpa harapan dengan hobi yang semakin memperparah keadaan, mabuk dan judi. Tak habis saya dibuat terpingkal-pingkal membaca cerita koplak dari Bagor cs, meskipun sesekali harus mengernyitkan kening atau ngakak sambil istigfar (?) ketika ada cerita lucu yang diiringi pisuhan saru.

Beberapa cerita yang cukup membuat pipi dan perut saya kaku seperti adegan beli barang secara random di Ramai Mall saat menang judi, Pengki yang mabuk berat hingga asyik ngemil daun teh-tehan karena menyangkanya keripik singkong, Bagor kasih kartu ujian ke polisi waktu ditilang, hingga pengeksploitasian kehadiran Proton demi menyelamatkan diri dari pertanyaan maut dari keluarga besar di hari Lebaran.

Penggunaan bahasa Jawa yang ngoko sengoko-ngokonya membuat saya semakin menghayati cerita. Saya sampai download  beberapa video Basiyo setelah membaca buku ini. Haha Oh ya, tapi saya masih gagal paham kenapa setiap ada yang menantang Bagor berantem, orang itu jadi jiper ketika tahu Bagor orang Kotagede? Ada apa dengan Kotagede? Apa karena di sana ada makam Panembahan Senopati yang konon sangat sakti sampai keris pun tak mempan melukainya, sehingga orang sana juga terkenal sakti-sakti? Nggak dijelaskan di buku ini.

Orang waras pada umumnya barangkali akan menganggap para anggota Jackpot Society ini sebagai segerombolan pemuda dengan masa depan suram. Tapi, kok ya ndilalah mereka kini jadi orang sukses semua. Kecuali Almarhum Jadek yang telah meninggal dunia karena kecelakaan.

Maka pelajaran yang dapat diambil di sini adalah jangan terlalu underestimate kepada orang yang kita anggap buruk. Sebab, bisa jadi kelak mereka akan menjadi manusia yang lebih baik dari kita.