Buku

[Book Review] Para Bajingan yang Menyenangkan

 

Para Bajingan yang Menyenangkan

Judul: Para Bajingan yang Menyenangkan

Penulis: Puthut EA

Penyunting: Prima S. Wardhani

Desainer sampul: R.E. Hartanto

Penerbit: Buku Mojok

Terbit: Desember 2016

Tebal: 178 halaman

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat penasaran sekali dengan buku ini gara-gara banyak diomongin sama teman-teman. Waktu saya tanya ke seorang teman, “Bagus ya bukunya, Mas?”, sesemasnya bilang, “Yang ini, kalau nggak biasa baca, takutnya malah nggak cocok.” Barangkali beliau melihat saya terlalu polos sehingga tidak cocok membaca buku yang katanya memuat banyak pisuhan ini. :)) Akhirnya, saya redam rasa penasaran saya.

Belakangan, saya berjodoh dengan buku ini ketika membeli paket valentine di Buku Mojok. Dua buku incaran saya, ada satu paket dengan buku ini. Karena sudah punya, ya masak nggak dibaca. :))

Tadinya cuma mau intip-intip saja dan siap berhenti sewaktu-waktu kalau bikin pusing. Eeh… ternyata malah keterusan sampai habis. Jadi, apa saya sudah tidak polos lagi? Bisa jadi. Haha Alih-alih nggak cocok, saya malah sangat menikmatinya. Buku ini sukses membuat saya cekikikan di sembarang tempat. Di kantor, di dalam bus, dan bahkan di warung mi ayam. Lol

Buku ini berisi kisah masa muda penulis dengan sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam Jackpot Society. Mereka adalah tipe mahasiswa tanpa harapan dengan hobi yang semakin memperparah keadaan, mabuk dan judi. Tak habis saya dibuat terpingkal-pingkal membaca cerita koplak dari Bagor cs, meskipun sesekali harus mengernyitkan kening atau ngakak sambil istigfar (?) ketika ada cerita lucu yang diiringi pisuhan saru.

Beberapa cerita yang cukup membuat pipi dan perut saya kaku seperti adegan beli barang secara random di Ramai Mall saat menang judi, Pengki yang mabuk berat hingga asyik ngemil daun teh-tehan karena menyangkanya keripik singkong, Bagor kasih kartu ujian ke polisi waktu ditilang, hingga pengeksploitasian kehadiran Proton demi menyelamatkan diri dari pertanyaan maut dari keluarga besar di hari Lebaran.

Penggunaan bahasa Jawa yang ngoko sengoko-ngokonya membuat saya semakin menghayati cerita. Saya sampai download  beberapa video Basiyo setelah membaca buku ini. Haha Oh ya, tapi saya masih gagal paham kenapa setiap ada yang menantang Bagor berantem, orang itu jadi jiper ketika tahu Bagor orang Kotagede? Ada apa dengan Kotagede? Apa karena di sana ada makam Panembahan Senopati yang konon sangat sakti sampai keris pun tak mempan melukainya, sehingga orang sana juga terkenal sakti-sakti? Nggak dijelaskan di buku ini.

Orang waras pada umumnya barangkali akan menganggap para anggota Jackpot Society ini sebagai segerombolan pemuda dengan masa depan suram. Tapi, kok ya ndilalah mereka kini jadi orang sukses semua. Kecuali Almarhum Jadek yang telah meninggal dunia karena kecelakaan.

Maka pelajaran yang dapat diambil di sini adalah jangan terlalu underestimate kepada orang yang kita anggap buruk. Sebab, bisa jadi kelak mereka akan menjadi manusia yang lebih baik dari kita.

Buku

[Book Review] Kulineran Mandiri Ala Ms Koizumi

m5iNpe1a

Judul: Ms. Koizumi Loves Ramen Noodles

Penulis: Naru Narumi

Penerbit: M&C Comics

Seri: 1-3

Terbit: 2017

Kemarin, sepulang kerja saya melipir ke warung ramen sendirian demi memenuhi hasrat yang mendadak rindu berat pada ramen setelah membaca komik ini. Sebagai orang yang mengaku penggemar ramen, saya jadi merasa cupu sekali gara-gara si Koizumi-san. Pengetahuan saya tentang peramenan (halah) masih cetek sekali. Untuk urusan kuah saja, selama ini saya hanya tahu tiga jenis kuah ramen, yaitu miso, soyu, dan kare. Dan, nama jenis ramen yang berbeda-beda itu hanyalah nama menunya. Namun, ternyata… berdasarkan pada komposisi bahannya, ada banyak sekali jenis kuah ramen, Tjoy! Bahkan, kekentalan kuah juga menjadi tolak ukur untuk membedakan jenis ramen. Walah!

Lalu, Koizumi-san be like: “Kau bertahan hidup hanya dengan pengetahuan dasar itu ya?” -_-

Oke, baiklah. Saya akui, saya memang masih newbie dalam hal ini. Tapi sebagai penggemar ramen, saya cukup terpuaskan dengan buku ini. Pada seri pertama, pembahasan mengenai aneka jenis ramen dengan aneka variasi toping dan kekentalan kuahnya, tak ayal membuat saya ngiler berat. Meskipun ada beberapa bahan yang membuat saya jadi hilang selera. Sebagai Muslim, saya tidak bisa mencicipi kesemua jenis ramen yang dipaparkan di sini dikarenakan komposisinya tidak diperbolehkan bagi saya untuk menyantapnya.

Masih dalam seri pertama, saya menemukan beberapa hal yang juga saya alami saat sedang menyantap ramen. Seperti kepedasan, tapi nagih. Dan, kacamata yang jadi buram karena terkena kepulan ramen yang masih panas. 😀

Membaca seri kedua, saya berkenalan dengan hiyashi ramen atau ramen dingin. Ramen ini biasanya dijual pada saat musim panas, disajikan lengkap dengan es batu. Benar, es batu. Jangan bayangkan ramen ini macam sup buah, loh. Ramen ini terbuat dari mi, aneka sayur dan toping, serta kuah kaldu. Spesialnya, disajikan dingin dan bahkan dengan ditambah es batu. Berani coba? 😀

Di buku ketiga, saya menemukan kesintingan Koizumi-san yang sampai bela-belain naik gunung demi mencoba ramen di kota yang ada di lereng gunung. Walah!  Selain ramen, memang yang saya sukai dari komik ini adalah… ya, Ms. Koizumi herself. Saya suka sekali dengan gaya Koizumi-san yang suka kulineran mandiri. Ke mana-mana berburu ramen sendirian. Menyantap ramen baginya adalah ritual yang sakral, sehingga tak ingin momen itu terganggu oleh hal-hal yang tidak diinginkan kalau dia mengajak teman.

Kalau bagi saya, kulineran sendirian bisa menjadi alternatif kegiatan di saat sedang butuh ketenangan. Saat ingin refreshing, tanpa harus ngerumpi dan foto-fotoan. Meskipun risikonya, harus siap menerima tatapan prihatin dari pasangan abege yang mungkin membatin: “Mbak, kok, makan sendirian aja? Jomblo ya?”

Udah, gitu saja.

Buku

[Book Review] Pus, I Love You

tSma5qnb

Judul: Pus, I Love You

Penulis: Soon

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 288 halaman

Terbit: Juli 2014

Menemukan buku ini waktu jalan-jalan ke pameran Gramedia akhir tahun 2017 yang lalu. Saat membaca judulnya yang unik, “Pus, I Love You”, saya langsung tertarik untuk mencomotnya dari tumpukan buku lainnya. Saat mengamati covernya yang lembut dengan gambar ilustrasi anak perempuan bersama kucingnya, tak ragu lagi saya langsung memasukkannya ke dalam keranjang belanja.

Saya selalu mupeng berat tiap kali melihat kawan-kawan saya posting foto mereka sedang bermain bersama kucing. Apa daya, saya tidak mendapat izin untuk memelihara makhluk menggemaskan itu. Dulu, ada satu kucing kecil manis berbulu belang kuning yang saya pelihara. Namanya Brian. Nama itu saya berikan kepadanya karena menurut saya dia ganteng seperti Brian Westlife. 😀

Brian sangat manja, suka ndusel-ndusel di kaki, mengeong minta jatah waktu saya makan. Tiap malam, saya akan membungkusnya dengan selimut atau membopongnya layaknya bayi sampai dia tertidur sambil mendengkur. Pagi harinya, Brian akan menguntit di belakang waktu saya berjalan kaki menuju ke sekolah. Lalu, saya akan menggusahnya dan menyuruhnya pulang.

Suatu hari, saya menemukan Brian sekarat di jalanan depan rumah. Kepalanya penuh darah. Saya tidak tahu apa yang terjadi padanya dan siapa yang telah mencelakainya. Yang jelas, sepanjang malam saya menangisinya. 🙁 Brian pergi. Dan sejak saat itulah, saya tidak diperbolehkan untuk memelihara kucing lagi.

Buku ini berisi tentang suka duka Soon bersama dua kucing kesayangannya. Kadang ia dibuat kesal dengan ulah kucing-kucingnya yang suka mencakar ini itu, kadang ia harus sibuk berkutat membersihkan bulu-bulu. Namun lebih dari itu, kucing-kucingnya dapat membuat hidup Soon lebih berwarna dan selalu membuatnya merasa rindu.

Kesal sekaligus gemas waktu baca tingkah laku kucing-kucingnya Soon. Ada juga cerita tentang Dewa Ngantuk yang bikin ngakak hard. Dan bahkan, ada juga si Pangeran Cilik yang ikut nongol dengan potongan adegan dari buku Le Petit Prince.

Cerita-cerita yang terangkum dalam buku ini sangat mengibur dan kadang sedikit haru. Kesemuanya disampaikan dalam ilustrasi-ilustrasi yang ringan tetapi menyegarkan mata. Membaca buku ini, sedikit mengobati hasrat saya untuk memelihara kucing yang tak kesampaian. 😀

 

Buku

[Book Review] Diari si Bocah Tengil

 

q7ja5jba

Judul: Diari si Bocah Tengil (Diary of a Wimpy Kid)

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Penerbit Atria

Tebal: 216 halaman

Terbit: Mei 2009

Kalau mendengar kata “diary”, yang terbayang di benak kita barangkali adalah sebuah buku unyu-unyu yang penuh dengan catatan baper curahan hati. Tapi, diary yang ini beda. Alih-alih baper, baca isi diary milik si bocah tengil ini justru akan membuat kita NGAKAK HARD! :))

Diary si Bocah Tengil berisi cerita keseharian dari Greg Heffley, seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dia lebih suka menyebut catatan hariannya sebagai “jurnal” daripada “diary”. Setidaknya, ada beberapa tokoh utama yang kalau dijadikan satu, maka dunia tidak akan pernah tenteram kembali. Hahaha

  • Greg Heffley, yang tengil dan effortless.
  • Rodrick, sang kakak yang badung.
  • Manny, si bungsu yang selalu memanfaatkan kebungsuannya demi mendapatkan pembelaan dari Mom dan Dad.
  • Rowley, yang saking lugunya sampai menjurus ke bego. #eh
  • dan, Fregley, yang weird banget.

Tak habis saya terbahak membaca catatan-catatan keseharian yang ditulis si Greg dalam buku diaryjurnalnya ini. Koplak sangat!! Kadang saya kasihan sama Greg atas nasib sial yang sering menimpanya. Tapi, tak jarang pula saya pengin nyukurin dia, karena sungguh, kemalangannya itu kebanyakan terjadi akibat dari ketengilannya sendiri.

Secara keseluruhan, buku ini cocok untuk siapa saja yang menyukai bacaan ringan. Atau, sebagai selingan ketika sedang penat dengan bacaan berat.

Namun demikian, meski tokoh utama dalam buku ini adalah anak-anak, buku ini kurang recommended untuk jadi bacaan anak. Sebab, karakter tokoh anak dalam buku ini boleh dibilang tidak bisa dijadikan sebagai contoh yang patut untuk anak-anak. Buku ini adalah untuk orang-orang dewasa, yang menjadikannya semata sebagai bacaan menghibur pelepas penat belaka. 🙂

Buku

[Book Review] Jomblo Tapi Hafal Pancasila: Inspirasi Cilik-Cilikan dari Seorang Jomblo

rzj5Ggtt

Judul: Jomblo Tapi Hafal Pancasila

Penulis: Agus Mulyadi

Penerbit: B-First

Tebal: 314 halaman

Terbit: Juli 2014

Yang membedakan buku ini dengan buku-buku bertema jomblo lainnya adalah buku ini isinya bukan cuma haha hihi menertawakan kaum jomblo. Sebagaimana diketahui, nasib kaum jomblo di negara kita tercinta ini memang selalu ternistakan. Selalu diidentikkan dengan citra nelangsa dan penuh nestapa. Heleh!

Ayolah Mas, Mbak, bijaklah sedikit. Besok di alam kubur, yang ditanyakan oleh malaikat itu, “Siapa Tuhanmu dan siapa Nabimu, bukan siapa gebetanmu”. – Hlm. 10

Nah, buku ini seolah menjadi bukti bahwa jomblo juga bisa berprestasi. Nggak apa-apa jomblo, asal hafal Pancasila. Atau dengan kata lain, jomblo mungkin kalah dalam urusan asmara. Namun, bukan berarti mereka manusia tak berguna yang kalah juga dalam aspek kehidupan lainnya. Semangat, Mblo! #jomblomenggugat #eh

“Lebih baik jomblo yang berharap punya pacar, daripada punya pacar tapi berharap jomblo.” – Hlm. 202

Buku ini berisi sekumpulan artikel yang termuat di blog penulisnya. Jangan salah sangka dulu dengan judulnya, Jomblo tapi Hafal Pancasila. Meskipun mengangkat tema jomblo, buku ini tidak semata berisi curahan hati seorang jones akan nasib asmaranya. Di dalam buku ini, Agus Mulyadi menuliskan opini-opininya yang mencakup banyak aspek kehidupan. Mulai dari kehidupannya sebagai seorang blogger, keluarga, kawan-kawan, keseharian, bahkan hingga kondisi politik negeri. Dan, tak ketinggalan tentu saja masalah asmara.

Setiap artikel ditulis dengan bahasa yang ringan tapi kritis. Melalui gaya lawakan yang njawani khas Agus Mulyadi, terselip nasihat atau hikmah yang sangat mengena. Menginspirasi tanpa menggurui. Inspirasi cilik-cilikan, kalau kata Agus Mulyadi. Duh! Pokoknya buku ini seru, menghibur, tapi tetap berbobot.

Akhir kata, “Jangan hina kaum jomblo, siapa tahu lima menit lagi Anda akan merasakannya.” – Hlm. 273

Buku

[Book Review] Where the Mountain Meets the Moon: Perjalanan Minli Mencari Kakek Rembulan

87unOokE

Judul: Where the Mountain Meets the Moon

Penulis: Grace Lin

Penerbit: Atria

Tebal: 261 halaman

Terbit: 2010

“Jika kau membahagiakan mereka yang ada di dekatmu, mereka yang jauh darimu akan datang.” – hlm. 238

Setiap hari, Minli harus ikut membantu Ba dan Ma bekerja di sawah hingga matahari mulai terbenam. Keluarga mereka sangat miskin. Minly melihat bagaimana orangtuanya bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka di tengah kemiskinan. Melihat Ma yang selalu murung dan uring-uringan.

Karena itulah, Minli bertekad mencari Kakek Rembulan untuk bertanya bagaimana cara mengubah peruntungan keluarga mereka. Kakek Rembulan adalah tokoh dalam dongeng yang diceritakan oleh Ba setiap malam. Tanpa sepengetahuan Ma dan Ba, Minli pun memulai petualangannya yang penuh keajaiban.

Buku yang sangat heart warming. Kisah yang indah dan diceritakan dengan indah pula. Tentang keluarga, persahabatan, serta pencarian kebahagiaan.

“Sepanjang hidupnya, sang hakim mewarnai jiwanya dengan begitu banyak amarah sehingga ketika raganya mati, jiwanya tidak bisa beristirahat dengan tenang ….” – hlm. 183

Buku ini menjadi semakin menarik dengan adanya bumbu dongeng-dongeng dari negeri China di samping cerita utama. Jadi seperti berlapis-lapis, ada cerita di dalam cerita.

Editingnya… emm, nemu beberapa typo. Seperti kata “meraka” yang seharusnya “mereka”, “manyala” yang seharusnya “menyala”, kata “naga” yang seharusnya tertulis “raja”, dan sebagainya. Di halaman 90, tertulis: “Seekor kerbau besar berlumuran lumpur, ditarik oleh seekor bocah ….” Itu bocah sejenis binatang apa gimana? Wew…

Beruntung masalah editing itu tidak begitu mengganggu karena saya sudah terlanjur asyik dengan kisah indah dan hangat, yang dapat menjadi obat untuk hati orang-orang dewasa yang sudah terlalu penat.

“Kekayaan bukanlah rumah yang dipenuhi dengan emas dan batu giok, namun sesuatu yang lebih bermakna daripada itu. Sesuatu yang telah dimilikinya dan tidak perlu diubahnya.” – hlm. 242.

 

Buku

[Book Review] Rainbow Love: Belajar Kehidupan dari Pape dan Popo

1kl3av8t

Judul: Pepe & Popo: Rainbow Love

Penulis: Shim Seung Hyun

Penerjemah: Novita Isnaeni

Penerbit: Noura Books

Tebal: 224 halaman

Terbit: Juni 2014

Blurb:

Cinta itu seperti cermin. Ketika berdiri di depannya, kita akan melihat bayangan sendiri. Karena itulah, kita harus selalu tersenyum. Kita harus lebih dahulu bahagia jika ingin membahagiakan orang yang kita cintai. Kita harus mengasihi diri kita sendiri dulu jika ingin mengasihi orang yang kita cintai.

Inilah cerita cinta klasik antara Pape, seorang pemuda polos, dan Popo, seorang gadis lembut hati. Kisah-kisahnya menghibur hati dan mengingatkan kita pada nilai cinta sejati, pentingnya keluarga, dan arti persahabatan.

Rada melenceng dari bayangan saya semula ketika membaca blurb-nya. Buku ini ternyata lebih dari sekadar cerita kehidupan cinta pasangan Pape dan Popo. Kisah-kisah cinta yang terangkum di dalam buku ini adalah cinta yang universal.

Diawali dengan cerita tentang ikan paus yang menemukan “jati dirinya” saat berjumpa lautan, membuka lembar-lembar berikutnya kita akan disuguhi sejumlah kisah kehidupan yang berwarna-warni. Sebagaimana penamaan tiap bab dalam buku ini yang menggunakan warna-warna pelangi.

Ada cerita tentang keluarga, pasangan, orangtua, persahabatan, kenangan masa kecil, guru kesayangan, sedih, senang, jatuh cinta, kecewa, dan banyak lagi cerita yang mengajarkan tentang arti cinta sejati. Membaca buku ini, saya seperti membaca buku tentang pelajaran kehidupan. Kesemuanya disampaikan dengan bahasa yang liris dan filosofis, serta gambar-gambar dengan warna yang lembut membuat mata sejuk.

Tak ketinggalan pula kalimat-kalimat quotable yang dapat dijadikan sebagai bahan perenungan. Beberapa yang menjadi favorit saya di antaranya:

“Ada dua macam dosa yang dimiliki oleh manusia. Dosa-dosa yang lain akan muncul karena dua hal ini, yaitu sifat tidak sabaran dan rasa malas. Kafka mengingatkanku bahwa Adam dan Hawa dulu diusir dari surga karena tidak sabaran. Mereka juga tidak bisa lagi kembali ke surga karena rasa malas.” — hlm. 32

“Kita memerlukan orang munafik yang berbuat baik, mau itu tulus atau tidak. Daripada orang yang sekadar ingin melakukan kebaikan saja.” — Hlm. 151

“Keberuntungan akan didapatkan oleh mereka yang menyambutnya dengan tangan terbuka.” — Hlm. 213

Buku

[Book Review] Mata Ketiga

VH6JjVw6

Judul: Mata Ketiga

Penulis: Muhajjah Saratini

Penerbit: Loka Madia

Tebal: 81 halaman

Terbit: Oktober 2017

Blurb:

Kurasa, mandi setelah melakukan percintaan bukan hanya untuk menghilangkan penat dan sisa keringat yang sudah melekat. Utamanya, justru untuk membasuh perasaan muak. Itu yang kupikir ketika lagi-lagi terbangun dan mendapati Gadis sesenggukan—kadang hanya terisak—sementara tubuhku terbuka lebar, menerima air yang terus-menerus mengucur dari atas sana.

Kalau memang yang dilakukan Gadis dan Ari berdasarkan cinta, lalu kenapa dia lebih sering kutemukan menangis seperti ini?

Memangnya, ada berapa jenis cinta antara manusia?

Aku tidak mengerti.

Menyelesaikan membaca buku ini diiringi suara sholawatan selepas Subuh dari masjid sebelah rumah. *halah*

Buku tipis dengan kisah yang complicated. Sedikit mengingatkan saya kepada salah satu cerpen milik Eka Kurniawan berjudul “Cerita Batu”, yang mana kita diajak untuk melihat kehidupan dari para manusia yang “kurang beres” melalui sudut pandang tokoh bukan manusia. Hanya, emm… aduh, ini saya durhaka nggak ya kalau bilang buku ini yang lebih membuat bulu kuduk saya meremang daripada yang itu. Wkwkwk *Mbak Ajjah silakan geer :D*

Setidaknya, ada tiga hal yang menurut saya istimewa dan menjadikan buku ini berkesan. Pertama, tema yang dipilih. Tentang kisah cinta tak biasa beserta hal-hal suram yang menyertainya. Sebagai orang yang terbiasa dimanjakan oleh cerita cinta menye-menye, membaca kisah Gadis dan Ari tak dapat dipungkiri membuat saya sedikit berdebar. *eh

Kedua, adegan-adegan yang rada ekstrem. Lagi-lagi saya dibuat berdebar tapi dengan nuansa yang lain ketika sampai pada bagian Ayah mengambil tato Gadis. Ya ampun! Saya baca subuh-subuh loh ini, masih sepi. Merinding.

Ketiga, banyaknya kejutan. Saya seperti dijungkirbalikkan dengan alur yang tak terduga-duga. Dan, itu tak cuma sekali. Seperti yang sudah saya bilang, banyak plot twist di sini. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kegemaran Mbak Ajjah membaca cerita-cerita detektif.

Hanya ada satu yang agak mengganjal. Sebenarnya saya rada malu ini mau nanyain, tapi daripada penasaran. 😀 Anu, di sini dikatakan si Gadis nggak mau meninggalkan Ari karena dia sudah tidak perawan. Itu gimana ceritanya ya, bisa nggak perawan. Si Ari kan, itu… emm, ya sudahlah. Saya memang cupu. Lol!

Last, buku ini tipis saja. Selesai dibaca dengan sekali duduk. Tapi, efek yang saya rasakan setelah membaca buku ini kok sepertinya nggak selesai-selesai. Nggak heran kalau buku ini menjadi juara pertama. Selamat, Mbak Ajjah. Ditunggu karya-karya selanjutnya. 😀

Buku

[Book Review] Istriku Seribu

VBpndiFm

Judul: Istriku Seribu

Penulis: Emha Ainun Nadjib

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal: 96 halaman

Terbit: Agustus 2015

Poligami barangkali menjadi bahasan yang tak pernah sepi diperbincangkan di masyarakat. Ada pro dan kontra, tentu saja. Sebagian berpendapat boleh poligami dengan alasan mengikuti syariat agama, sebagian yang lain menolak poligami dengan alasan melukai hak asasi wanita, dan sebagian lainnya lagi memilih berada di tengah-tengah, poligami dibolehkan dengan syarat-syarat tertentu yang kondisional.

Entah kesambet apa saya sehingga memutuskan untuk membaca buku dengan tema yang “berbahaya” ini. Lalu, tersesat ke dalam kalimat-kalimat yang penuh pemikiran dan tak bisa dibaca sambil ngemil kacang. Namun demikian, sebut saja saya sedang tersesat di jalan yang benar. Buku ini tipis saja, akan tetapi sarat akan nilai-nilai kehidupan yang berharga.

Di samping menyoroti seputar poligami, di dalam buku ini Cak Nun juga menyinggung permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat kita. Masyarakat Indonesia, lebih tepatnya. Bagaimana mereka sangat mudah ribut-ribut sebab perkara yang remeh temeh, mudah teradu domba sebab hal-hal yang sepele. Melalui buku ini pula, Cak Nun mengajak kita untuk belajar berlapang dada ketika menghadapi sebuah kezaliman yang menimpa diri sendiri, sebab kezaliman yang dilakukan orang lain atas diri kita itu akan menjadi investasi pahala di masa yang akan datang. Dan banyak lagi pelajaran kehidupan yang disampaikannya melalui interaksi penulis dengan Yai Sudrun.

Kembali ke masalah poligami, penulis membahas asal mula ayat tentang poligami diturunkan, bagaimana kondisi sosial pada masa itu. Di bagian akhir buku ini, terdapat esai yang cukup menarik tentang bahwasanya Tuhan hanya sedang mengajak kita berdiskusi. Diskusi antara ayat Allah dengan akal pikiran manusia. Allah membolehkan laki-laki untuk berpoligami dengan syarat utama dapat berlaku adil. Sementara, dalam ayat lain secara tegas Allah menyatakan bahwa kaum lelaki sesekali tidak akan pernah mampu berbuat adil. Demikian, hendaknya manusia berpikir serta merenungkannya sebelum mengambil keputusan, demi kemaslahatan bersama.

Buku

[Book Review] Misteri Bilik Korek Api: Rumah Kosong, Sumur Tua, dan “Penglihatan” Emola

8MnvxVwr

Judul: Misteri Bilik Korek Api

Penulis: Ruwi Meita

Penerbit: Grasindo

Tebal: 238 halaman

Terbit: Oktober 2017

Blurb:

Sejak bayi Sunday tinggal di panti asuhan sehingga dia sama sekali buta dengan Ambon, daerah asalnya. Sampai Emola datang, lalu mengingatkan Sunday dengan asal-usulnya yang samar.

Suatu hari mereka menumukan bilik penuh tempelan korek api saat pindah panti asuhan yang baru. Sejak saat itu, kecelakaan demi kecelakaan menimpa teman-teman sekamar Sunday. Sunday mencurigai Emola berkaitan dengan semua kesialan yang terjadi. Bagaimana tidak? Emola memiliki kepribadian yang misterius, minim bicara, dan hanya mendendangkan lagu daerah asalnya sambil menggenggam bandul kalung yang dibungkus kain putih.

Lalu, siapa giliran berikutnya yang bakal celaka?

Dia?

Mereka?

Kamu?

Menyelesaikan membaca buku ini beberapa hari yang lalu. Dan, perlu menenangkan diri sejenak sebelum bisa menulis review ini. :))

Banyak yang saya suka dari buku ini. Pertama, jalan ceritanya yang penuh dengan teka-teki, membuat saya enggan untuk melepaskan buku ini setelah membaca lembar-lembar pertama. Menegangkan sekaligus bikin penasaran. Kedua, buku ini dituliskan dengan dua sudut pandang yang saling melengkapi. Kita akan membaca sisi gaib dari sudut pandang Emola, dan dunia yang kasat mata dari sudut pandang Sunday.

Ketiga, karakter tokoh yang unik. Emola mengingatkan saya kepada Christopher Boone di buku Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran. Setidaknya, bagaimana pusingnya kepala saya saat membaca jalan pikiran Emola, sama seperti ketika saya membaca jalan pikiran Christopher di buku tersebut. Christopher adalah seorang anak penderita sindrom asperger yang berusaha memecahkan kasus pembunuhan anjing tetangganya. Sedangkan, Emola adalah anak yang bisa mendengar warna-warna bersuara. Kalau tidak salah ingat, dari artikel yang pernah saya baca, kondisi Emola ini disebut dengan synesthesia. CMIIW. Hebatnya, selain menderita synesthesia, Emola juga anak indigo dan suka berhalusinasi melihat manusia seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Walah! Complicated sekali hidup Emola ini.

Hal lain yang saya sukai dari buku ini adalah saya jadi dapat banyak informasi baru. Tentang filumenis, John Walker, rumah jengki, permainan ancong-ancong, dll. Kereeenn… sekali pokoknya!

Kutipan favorit:

“Kadang menangis akan membantumu menyadari arti kekuatan.” – Nugi kepada Sunday. Aww… so sweet. :’)

Senang sekali bisa mendapatkan buku yang bagus ini dari sebuah giveaway. Apalagi, hadiahnya melebihi ekspektasi. Padahal saya dikasih buku saja sudah bahagia. Nah, ini saya malah dapat lengkap. Buku plus tanda tangan penulis, stiker, pin, juga pensil bunga mawar. Wuaaa… 😀 Bunga mawar ini bisa berarti mistis, bisa juga bermakna romantis. Hahaha terima kasiiihh…. *emoticon ketjup*