Buku

[Book Review] Sepotong Hati yang Baru: 8 Kisah Cinta dan Pelajaran yang Bisa Diambil Darinya

16052709
Gambar diambil dari sini

Judul: Sepotong Hati yang Baru

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Mahaka

Tebal: 204 halaman

Terbit: September 2012

Buku ini berisi sekumpulan cerita pendek tentang cinta, yang… endingnya kok nyesek semua. T__T

Konon, dalam kamus Melayu kuno tahun 1902, definisi dari kata “cinta” itu sendiri berupa “kesedihan” dan “patah hati”. Meskipun maknanya sudah sangat berlawanan dengan definisi cinta yang kita pahami saat ini, akan tetapi tak bisa dipungkiri bahwa cinta memang dapat berisiko membawa kita kepada kesedihan dan patah hati. Maka, hati-hatilah dalam bermain cinta.

“Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apa pun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kamu tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut.” – Hlm. 51

Delapan cerita pendek dengan delapan jenis cinta terangkum dalam buku ini. Ada cinta yang kegeeran, cinta dalam kemiskinan dan tekanan hidup, cinta kepada orangtua dan keluarga, cinta karena pengabdian yang tulus, cinta beda kasta, cinta kepada tanah air, cinta yang dihianati, serta cinta yang hancur karena prasangka.

“Tetapi cinta tanpa disertai kepercayaan, maka ibarat meja kehilangan tiga dari empat kaki-kakinya, runtuh menyakitkan.” – Hlm. 178

Delapan kisah cinta yang sangat heartbreaking, beserta hikmah-hikmah yang dapat diambil darinya. Cover buku ini pas banget untuk menggambarkan isinya. Hati yang diperban rapat, hanya menyisakan sepotong saja yang masih sehat.

Paling suka dengan cerpen yang diadaptasi dari kisah “Sampek Engtay” dan “Rama Shinta”. Dua kisah cinta legendaris tersebut memang terkenal memiliki ending yang sangat memilukan. Kisah Itje Noerbaja dan Kang Djalil juga cukup seru. Cerita cinta zaman penjajahan Belanda yang dituliskan dengan ejaan lama.

“Tapi tjinta kita, boekanlah apa-apa dibanding tjinta atas kemerdekaan bangsa kita. Tjinta soetji kita boekanlah apa-apa dibanding tjinta kita atas tanah air kita ini. Akoe, kamoe, akan mengorbankan apa poen demi itoe.”

Sayangnya, alih-alih menarik, saya justru capek baca tulisan dengan ejaan lama itu. Kayaknya nggak perlu ditulis pakai ejaan lama juga kali ya, untuk menunjukkan kalau cerita tersebut terjadi di masa penjajahan Belanda. Cukup dengan penggambaran setting atau interaksi tokoh-tokohnya mungkin.

Kisah kasih tak sampai si miskin dan si kaya ala Mbak Hesti dan Tigor juga cukup mengaduk perasaan. Klise, tapi entah kenapa tetap menarik.

Seperti yang tertulis di cover belakangnya, buku ini mengajarkan kepada kita bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman baik. Jadi, buat kamu…, kamu…, dan kamu yang suka baper dan galau mikir mantan atau gebetan, baiknya baca buku ini. Setidaknya, kamu akan tahu bahwa nasibmu jauh lebih baik daripada tokoh-tokoh yang ada di sini. 😀 *eh, kabur*

Buku

[Book Review] Jodoh: Cerita Tentang Cinta, Takdir, dan Hal-Hal Lain yang Terkait Dengannya

dtinta-1496464910447

Judul: Jodoh

Penulis: Fahd Pahdepie

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal: 256 halaman

Terbit: November 2015

“Ketenangan adalah saat kita memasrahkan semuanya pada keadaan, takdir yang kadang-kadang sialan membuat kita ketinggalan kereta untuk menunggu lebih lama kedatangan kereta berikutnya.” — hlm. 110-111

Sena telah jatuh cinta kepada Keara sejak pertemuan pertama. Saat itu, usianya baru 7 tahun. Terlalu dini memang. Namun, siapa yang dapat menolak datangnya cinta. Dan, perasaan itu tak juga hilang saat mereka melanjutkan sekolah ke pesantren. Dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan ustadz dan ustadzah pesantren, Sena mulai mendekati Keara. Tak disangka, Keara pun memiliki perasaan yang sama.

Suatu hari, Keara harus keluar dari pesantren karena masalah kesehatan. Di situlah cinta mereka diuji. Dan cinta Sena kepada Keara, rupanya bukanlah cinta monyet semata. Sena mencintai Keara hingga mereka beranjak dewasa. Lalu, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka berdua? Apakah Sena berjodoh dengan Keara? Baca sendiri dong, ya. Kan, nggak boleh spoiler. 🙂

“Maafkan aku sudah mencintaimu, maafkan aku karena aku tak tahu cara lainnya.” — hlm. 143

Sempat hampir menyerah baca buku ini, sebab alurnya yang flat banget dan cenderung membosankan di bagian awal. Tidak terasa greget sebagaimana yang saya bayangkan sebelumnya ketika tertarik untuk baca buku ini. Singkatnya, saya gagal baper.

Tapi untungnya, pas pertengahan hingga menjelang ending, mulai terasa feel-nya. Mood naik lagi untuk lanjut baca sampai selesai. Nggak jadi gagal baper.

Cara Sena mencintai Keara yang begitu manis. Betapa pun cinta dan rindunya dia kepada Keara, Sena sekuat mungkin untuk menjaga diri. Menjaga batas-batas yang dibolehkan. Tidak ngawur menuruti hasratnya.

Sena bahkan memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta dan menjalani hubungan jarak jauh dengan Keara. Sena melakukannya dengan tujuan untuk menghindarkan dirinya dari perbuatan buruk yang mungkin tak bisa ditahannya, mengingat rasa cintanya kepada Keara yang begitu besar.

“Ada dua jenis kerinduan. Kerinduan pertama karena kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua karena kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu. Aku memilih yang kedua.” — hlm. 194

Kelebihan lainnya adalah gaya penulis bercerita yang liris dan puitis. Menambah kesyahduan kisah cinta unik Sena dan Keara. Suka sekali dengan cerita tentang laki-laki yang berjalan berjuta-juta langkah untuk mencari perempuan yang menjadi jodohnya. Dan juga perempuan yang melalui beribu-ribu purnama untuk menanti sang jodoh akan menjemputnya.

Ending-nya, saya jadi mafhum, apa itu jodoh yang sebenarnya.

Jodoh bukanlah semata belahan jiwa yang tengah menunggu untuk berlayar bersama sambil saling bergenggaman tangan. Sebagaimana yang selama ini diimajinasikan oleh banyak orang. Jodoh adalah sesiapa saja yang dipertemukan dengan kita oleh takdir di sebuah persimpangan waktu dan membuat hidup kita menjadi bermakna. Sebagaimana Sena dan Keara yang bertemu dan menuliskan kisah mereka berdua.

Lebih dari itu, jodoh yang paling sempurna untuk kita sesungguhnya adalah kematian.

JLEEEBBB…!!!

Buku

[Book Review] Memeluk Masa Lalu

memeluk-masa-lalu
Gambar diambil dari sini

Judul: Memeluk Masa Lalu

Penulis: Dwitasari

Penyunting: Dila Maretihaqsari

Penerbit: Bentang Belia

Terbit: Februari 2016

Tebal: 132 halaman

Sejak bertemu dengan Raditya, hidup Cleo tidak seperti dulu lagi. Setelah membuat mood-nya berantakan sepanjang perjalanan Cibinong-Yogyakarta, Raditya juga telah membuat hidupnya tak tenang selama tiga tahun. Pasalnya, selama itulah Cleo memendam rasa hatinya. Benar, Cleo telah jatuh cinta kepada cowok menyebalkan itu. Tak dinyana, Raditya pun merasakan hal yang sama. Sayang, ada hal yang membuat mereka tak bisa bersama.

Aku ingin jatuh cinta dengan jutaan keajaiban yang aku rasakan saat jatuh cinta, kemudian Tuhan mempertemukanku denganmu.

Untuk kekasih delapan belas jam, yang saya cintai diam-diam.

Sebenarnya, saya sudah berharap banyak dari novel ini, menilik tema yang dipilih sangat menarik. Jatuh cinta diam-diam, jatuh cinta selama delapan belas jam. Yah, cinta memang tak pernah pandang bulu, tempat, dan waktu. Sebagaimana yang dialami Cleo dan Raditya. Mereka terkena panah asmara dalam kebersamaan selama delapan belas jam saat perjalanan dari Cibinong ke Yogyakarta. Namun setelahnya, mereka harus berpisah dengan rasa yang masih terperam di dada. Kurang nyesek apa coba!

Sayangnya, alih-alih termehek-mehek atau gegulingan baper, saya justru pasang ekspresi datar waktu baca buku ini. Dengan tema yang sangat potensial untuk membuat pembaca jadi baper maksimal, penulis menuturkannya dengan terlalu lempeng. Kurang greget. Beberapa alurnya mudah ditebak.

Saya sudah sempat berharap ada sesuatu yang mengejutkan waktu Cleo membaca pesan-pesan dari Ninda untuk Raditya. Tapi ternyata, yaa … segitu saja. Juga, waktu Cleo datang ke pernikahan Raditya dan Nindya, yaa … cuma segitu saja. Malahan, saya heran tahu-tahu Cleo sudah bawa pacar baru. Padahal sebelumnya diceritakan bahwa dia susah move on dari Raditya.

Raditya keluar bus untuk sekadar menghirup udara segar, “Ngopo, Pak? Bocor?”

“Yo, Mas, sedang diperbaiki. Tunggu di dalam saja.”

“Sing ngendhi, tho, Pak?” Raditya menggeser posisinya dan mengintip ke arah ban. “Bocor piye, sih?”

“Ini, lho, Mas.” Kernet yang wajahnya terlihat makin bingung itu menunjuk ke arah ban. “Tapi, saya nggak ngerti cara ganti bannya gimana.”

— hal. 14-15

Nah, untuk bagian yang itu, mendingan pakai bahasa Indonesia saja, deh! Kalau ingin pakai bahasa Jawa supaya lebih mendukung setting-nya, penulis harus riset masalah tatacara berbahasa di Jawa juga. Sebab sebagai orang Jawa, saya agak krik… krikk… baca bagian itu. Pasalnya, di situ Raditya ngobrol dengan kernet bus yang notabene lebih tua dari dia, tapi pakai bahasa Jawa ngoko. Sebaiknya penulis riset lebih banyak lagi supaya tahu bahwa di Jawa, kami mengenal adanya tingkatan bahasa. Bagaimana seharusnya ketika ngobrol dengan orang yang lebih tua, serta bagaimana sebaiknya ketika bicara dengan teman sebaya atau yang lebih muda.

Ending novel ini juga menggantung. Apa yang terjadi setelah Raditya SMS Cleo? Barangkali penulis bermaksud untuk membuat plot terbuka yang memungkinkan pembaca menerka-nerka sendiri gimana akhir cerita para tokohnya. Tapi, di novel ini jadinya malah terkesan seperti novel yang belum kelar. Atau, barangkali memang sengaja mau dibikin buku lanjutannya?

Kalau memang begitu, saya berharap buku selanjutnya benar-benar bisa memanfaatkan tema yang dipilih dengan baik. Bisa membuat pembaca geregetan, penasaran, baper tak keruan. Semoga! 🙂

Film

[K-Movie Review] 200 Pounds Beauty: Cantik Adalah Menjadi Diri Sendiri

200-pounds-beauty-2

Directed by: Kim Yong Hwa (김용화)

Screenplay by: Noh Hye Yeong (노혜영)

Genre: Comedy Romance

Release: South Korea, 2006/12/14

Cast:

Kim Ah Joong 김아중 as Kang Hanna/Jenny (강한나/제니)

Joo Jin Mo 주진모 as Han Sang Joon (한상준)

Ji Seo Yun (서윤) as singer Ammy (가수 아미)

Di Korea, operasi plastik mungkin sudah menjadi budaya yang sangat umum. Terutama di dalam industri hiburan. Konon menurut data yang dikeluarkan oleh Korean Medicine Overseas 2010, sebanyak 95 persen orang Korea, baik perempuan maupun laki-laki, telah melakukan operasi plastik, dan diperkirakan hampir 80 persen di antaranya adalah artis-artis dari Korea Selatan. Angka tersebut memang hanya perkiraan saja. Namun yang pasti adalah ketatnya persaingan dalam industri hiburan di Korea, membuat para owner sebuah agensi menuntut kesempurnaan yang terkadang berlebihan kepada artis-artisnya. Bukan hanya dalam hal skill dan talenta, melainkan juga dalam urusan penampilan.

200 Pounds Beauty, sebuah film yang mengangkat tema mengenai operasi plastik. Menceritakan tentang Kang Hanna (Kim Ah Joong), seorang gadis yang memiliki suara merdu yang tak dapat menyalurkan bakatnya untuk menjadi penyanyi sebab dia memiliki berat badan di atas rata-rata. Kang Hanna akhirnya hanya menjadi seorang penyanyi di belakang layar yang mengiringi penyanyi terkenal bernama Ammy (Ji Seo Yun). Ammy adalah seorang gadis cantik, akan tetapi tidak bisa bernyanyi semerdu Hanna. Pihak agensi akhirnya membuat konsep Ammy sebagai idol yang tampil di depan khalayak menyanyikan rekaman suara Hanna secara lipsync.

Pada suatu hari, karena merasa dimanfaatkan oleh Ammy dan Han Sang Joo (Jo Jin Mo), produsernya, Hanna menghilang. Dalam menghilangnya tersebut rupanya dia melakukan operasi plastik. Hanna kemudian kembali lagi sebagai seorang Jenny, dan berhasil debut menjadi penyanyi. Namun, seiring bertambah popularitasnya, membuat Hanna tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Dia tidak dapat menemui ayahnya yang berada di rumah sakit jiwa, sebab takut jati dirinya yang sebenarnya akan terbongkar. Terlebih Ammy sudah mulai mencurigainya. Hal ini juga sempat membuat Hanna bertengkar dengan Jung Min, sahabatnya.

Film yang disutradarai oleh Kim Yong Hwa ini rilis pada tahun 2006. Diangkat dari sebuah manga Jepang berjudul Kanna-San, Daiseikou Desu karangan Yumiko Suzuki. Film lama sebenarnya, tapi masih layak untuk ditonton. Selain karena genre komedi romantis yang dikemas dalam sebuah kisah percintaan, persaingan, dan persahabatan, film ini juga memiliki sebuah amanat yang tak boleh dilupakan. Film ini mengajarkan bahwasanya betapapun usaha Hanna untuk mengubah jati dirinya agar dapat menjadi penyanyi, ternyata belum tentu membuatnya bahagia. Maka, sebaiknya kita mensyukuri apa yang telah diberikan oleh-Nya. Sebab, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Layaknya Hanna yang kurang cantik fisiknya tetapi memiliki bakat menyanyi, dan Ammy yang cantik tapi justru tak bisa bernyanyi. So, just be yourself. 🙂

Buku

[Book Review] Lovely Proposal: Jodoh Itu Unik

Lovely Proposal

Judul: Lovely Proposal

Penulis:  Christina Juzwar

Penyunting: Pratiwi Utami & Noni Rosliyani

Penerbit: Bentang Pustaka

Cetakan Pertama: Januari 2013

Tebal: 371 halaman

Saya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa wanita single di usia yang seharusnya sudah menikah akan menjadi pemarah dan mudah tersinggung. Lha tapi masalahnya, kenapa mereka jadi pemarah? Nggak lain karena orang-orang yang selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan sensitif tentang pernikahan itu, tanpa mau mengerti bahwasanya mereka juga sedang galau sebab Tuhan belum memberi petunjuk siapa jodoh yang telah dipersiapkan untuk mereka.

Kegalauan itulah yang mungkin juga dirasakan oleh Karla, tokoh dalam novel Lovely Proposal ini. Di usianya yang ke-31, adalah wajar apabila dia sudah begitu mendambakan sebuah pernikahan. Sebagaimana teman-teman sebayanya yang sudah berbahagia dengan suami dan anak-anak mereka masing-masing. Namun, bayangan pernikahan yang begitu didambakan itu tak kunjung menjadi kenyataan. Lamaran dari Mario, kekasihnya, yang dia harapkan tak kunjung datang.

Di tengah kegalauannya tersebut, pria-pria kenalannya seolah-olah justru berlomba-lomba untuk melamarnya. Sedangkan, Mario yang selalu dia harapkan justru memutuskannya secara sepihak. Alasan Mario memutuskan Karla ternyata sangat sinetron. Tapi, lumayan bikin pengen mewek bacanya. Kondisi itu membuat Karla terpuruk. Beruntung ada Evan, sahabat yang selalu setia menghiburnya.

Meskipun jalan ceritanya cukup mainstream dan mudah ditebak, akan tetapi novel ini berakhir dengan ending yang manis. Sama seperti cover buku ini yang sangat manis, simple tapi sedap dipandang. Pelajaran yang bisa diambil dari novel ini adalah bahwasanya jodoh itu unik dan tak terduga. Seperti Karla dengan segala liku-liku kisah cintanya, pada akhirnya mendapatkan jodoh dari tempat yang tidak dia duga-duga sebelumnya.

Btw, cerita cinta yang manis-manis begini, cukup dijadikan bacaan buat hiburan aja. Tak perlu diharapkan terjadi di dunia nyata. Sebab cinta yang terlalu membuai seperti itu, berbahaya, Jenderal! #ehmalahcurhat :))

Kpop & Kdrama

[K-Drama Review] My Girlfriend is Gumiho: Kisah Cinta Siluman Cantik dengan Mahasiswa Bandel

SPOILER ALERT!

Drama ini sebenarnya sudah sejak berabad-abad yang lalu tersimpan di hardisk, tapi saya baru sempat menamatkannya beberapa hari yang lalu. Lebih tepatnya bukan baru sempat, melainkan baru mood buat nonton. Memang, akhir-akhir ini saya malas nonton drama, padahal dulu hobi. Mungkin karena rutinitas yang lebih menyita waktu daripada dulu, membuat saya cepat lelah untuk menyelesaikan drama berseri dengan durasi yang panjang. #alibi

Ini gara-gara belakangan lagu Fox Rain-nya Lee Sun Hee, yang notabene merupakan original soundtrack dari My Girlfriend is Gumiho, sering diputar di kantor. Lagu itu cukup mampu membuat saya terbawa suasana dan akhirnya mood  lagi untuk melanjutkan drama yang baru sempat saya tonton sampai episode tiga itu.

Oke, cukup sudah curhatnya. Lanjut pada review.

my-girlfriend-is-gumiho-cover

My Girlfriend is Gumiho, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Kekasihku adalah Gumiho”. Lalu, apa itu gumiho? Dalam legenda Korea, gumiho adalah siluman rubah berekor sembilan. Ekornya akan tampak ketika dia berada di bawah sinar bulan purnama. Gumiho suka menyamar menjadi seorang wanita yang amat cantik, sehingga memikat para pria. Lalu ketika pria-pria itu sudah mendekatinya, gumiho akan membunuh dan memakan hati mereka. Konon, hati seorang pria dapat membuatnya semakin kuat dan sakti. Agar tidak dapat berbuat jahat lagi, seorang biksu kemudian memotong kesembilan ekor gumiho, lalu mengurungnya ke dalam sebuah lukisan dan dijaga oleh seorang nenek bernama Nenek Sam Shin.

Sebenarnya, sih, gumiho bisa bermanfaat juga tuh untuk membasmi cowok-cowok mata keranjang. #salahfokus

Dalam Kdrama “My Girlfriend is Gumiho”, legenda gumiho ini berubah menjadi sebuah cerita komedi romantis. Diceritakan bahwa siluman rubah yang telah bertahun-tahun terkurung di dalam lukisan itu akhirnya bisa bebas setelah Cha Dae Woong menggambar kembali kesembilan ekornya pada lukisan. Cha Dae Woong adalah seorang mahasiswa yang punya ambisi jadi bintang film laga, dia melarikan diri dari kakeknya yang memaksanya untuk masuk asrama. Dalam pelariannya itu, dia nyasar ke sebuah kuil Budda dan karena terintimidasi oleh suara mistis (suara Gumiho itu sendiri), dia menggambar kesembilan ekor si rubah dalam lukisan. Dia tak menyadari bahwa perbuatannya itu akan membuat siluman rubah yang selama bertahun-tahun terkurung di dalam lukisan tersebut bisa kembali bebas berkeliaran. Maka, saat Gumiho menampakkan diri menyerupai wanita cantik dengan sembilan ekornya, Cha Dae Woong lari ketakutan hingga jatuh dari tebing dan terluka parah.

9-tail-fox

Gumiho datang menyelamatkan Cha Dae Woong dan memberinya kristal rubah untuk menyembuhkannya. Kristal rubah merupakan benda yang menjadi sumber kekuatan gumiho. Gumiho kemudian meminta Cha Dae Woong untuk membantu mewujudkan keinginannya menjadi manusia dengan cara menjaga kristal rubah itu di dalam tubuh Cha Dae Woong selama 100 hari. Sebagai imbalannya, Gumiho membiarkan Cha Dae Woong memanfaatkan kekuatan kristal rubahnya untuk berakting dalam film laga. Seiring berjalannya waktu, hubungan timbal balik itu berubah menjadi perasaan cinta di antara mereka.

Sebagaimana dalam drama-drama yang lain, ada orang ketiga di antara kisah cinta Gumiho dan Cha Dae Woong. Dia adalah Park Dong Joo, manusia setengah siluman yang membantu proses Gumiho menjadi manusia.

Yukk… mari kenalan dulu dengan tiga tokoh utama, pelaku cinta segitiga itu. Hehe….

images

Gumiho (Shim Min Ah)

shin-min-ah

Gumiho yang diperankan oleh Shim Min Ah ini menjadi amat sangat berbeda dengan image gumiho dalam legenda aslinya. Jika dalam legenda aslinya gumiho digambarkan sebagai siluman yang jahat dan menyeramkan, dalam drama ini gumiho menjadi sosok perempuan yang cute, lucu, dan menyenangkan. Ketika bertemu dengan Cha Dae Woong misalnya, bukannya ingin membunuh dan memakan hatinya, Gumiho justru jatuh cinta padanya.

Kesan imut-imut juga tampak ketika Gumiho menyatakan perasaannya pada Cha Dae Woong. Kayak gini nih:

 

“Dae Woong~ah… nomu nomu nomu nomu joha!”

 

Cha Dae Woong (Lee Seung Gi)

cha-dae-woong

Cha Dae WoongSelama ini, saya hanya mengenal Lee Seung Gi sebagai MC “Strong Heart” (salah satu variety show di Korea). Saya belum pernah mengikuti sepak terjangnya sebagai aktor. Maka, bisa dikatakan ini adalah pengalaman pertama (?) saya menikmati akting Lee Seung Gi. Dan pada pengalaman pertama ini, saya jatuh cinta.

Di sini Lee Seung Gi berperan sebagai Cha Dae Woong, seorang mahasiswa yang sedikit bandel. Namun, di sisi lain dia juga sayang pada keluarga, setia kawan (terbukti suka mentraktir teman-temannya, dipalak maksudnya 😦 ), memegang teguh janji, dan rela berkorban untuk orang yang dicintainya. Ketika Cha Dae Woong rela memberikan separuh hidupnya untuk Gumiho, tiba-tiba saya juga pengin jadi siluman rubah. Eeehh… #istigfar

Park Dong Joo (No Min Woo)

dong-joo-seonsaeng-jpg

Dong Joo SeonsaengKalau kata teman saya sih, dari seluruh aktor dalam drama My Girlfriend is Gumiho, dia ini yang paling menyehatkan mata. Ganteng bangeettt…. #istigfar lagi

Park Dong Joo yang diperankan oleh No Min Woo, mantan personel Trax, ini adalah manusia setengah siluman yang membantu Gumiho mewujudkan keinginannya untuk menjadi manusia. Park Dong Joo hidup di lingkungan manusia sebagai dokter hewan. Gumiho memanggilnya Dong Joo Seonsaeng (dr. Dong Joo). Di dalam drama, dia diceritakan menjadi lawan Dae Woong untuk mendapatkan cinta Gumiho. Namun, sebenarnya dia ini nggak jahat. Cuma suka memanfaatkan kesempatan saja. Modus. -______-

Kisah cinta Gumiho dan Cha Dae Woong berakhir dengan kurang happy ending. Kurang berarti bukan sad ending, tapi juga belum happy ending (menurut saya sih gitu 😀 ). Sebab dalam bayangan saya, happy ending itu ketika Gumiho berhasil jadi manusia dan mereka berdua hidup happily ever after. Sedangkan, yang terjadi adalah mereka justru dihadapkan pada pilihan, setelah 100 hari nanti Gumiho menjadi manusia dan Cha Dae Woong akan mati, atau Cha Dae Woong tetap hidup tetapi Gumiho akan lenyap dari dunia.

Gumiho memilih pilihan kedua. Dia tak ingin hidup sendiri sebagai manusia tanpa Cha Dae Woong. Maka pada hari ke-100, Gumiho benar-benar mati (menghilang tanpa sisa, namanya juga siluman) meninggalkan Dae Woong yang berduka seorang diri.

Memang, kisah cinta dua dunia selalu berakhir dengan tragedi. Di negara kita ada kisah cinta Jaka Tarub dengan seorang bidadari bernama Nawang Wulan. Pada akhirnya, Nawang Wulan juga pergi meninggalkan Jaka Tarub setelah tahu bahwa suaminya itu mendapatkannya dengan cara yang curang, yaitu dengan menyembunyikan selendangnya sehingga Nawang Wulan tidak dapat kembali ke kahyangan.

Namun demikian, dibanding Jaka Tarub dengan Nawang Wulan, Gumiho dan Cha Dae Woong sedikit lebih beruntung. Sebab pada akhir cerita, mereka mendapat dispensasi (?) dari Nenek Sam Shin. Karena ketulusan cinta mereka berdua, Nenek Sam Shin berjanji untuk mengembalikan Gumiho ke dunia manusia. Akhirnya, Gumiho dan Dae Woong pun dapat kembali bersama, meskipun Gumiho tetap menjadi siluman rubah.

Jadi, pelajaran moral yang dapat diambil dari drama ini adalah, jangan sekali-kali mencoba jatuh cinta kepada makhluk-makhluk dari dunia lain kalau tak ingin kisah cintamu serumit kisah cinta Gumiho dan Cha Dae Wong, hahaha.

Abaikan pelajaran moral di atas!