Buku

[Review] Dua Belas Pasang Mata: Kisah Guru dan Murid di Jepang Zaman Perang

Sakae Tsuboi

Judul: Dua Belas Pasang mata

Penulis: Sakae Tsuboi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 248 hlm

Cetakan ke-3: 2016

Miss Oishi baru lulus dari sekolah keguruan. Untuk mengawali kariernya, ia kemudian ditugaskan mengajar di Desa Tanjung, sebuah desa nelayan yang sangat pelosok dan miskin. Semula, Miss Oishi merasa sangat berat menjalani tugasnya. Bukan hanya karena ia harus menempuh jarak 8 km sekali jalan dari tempat tinggalnya, melainkan juga karena dia harus menghadapi sikap penduduk desa yang kurang menyukainya karena dianggap terlalu modern.

Seiring berjalannya waktu dan banyaknya kejadian yang dialami, Miss Oishi kemudian justru memiliki keterikatan hati dengan Desa Tanjung. Khususnya, dengan para muridnya. Tak jarang air matanya berlinang saat memikirkan siswanya yang seharusnya tumbuh dengan gemilang justru harus menyerah atas cita-citanya. Bukan hanya karena kemiskinan, melainkan juga karena perang.

Diceritakan pada saat itu, Jepang sedang mengalami masa-masa sulit akibat perang. Semangat nasionalisme sedang gencar digalakkan di mana-mana. Terlebih lagi di sekolah. Orang-orang yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip nasionalisme, akan ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan “merah” atau komunis. Beberapa kali kepala sekolah mewanti-wanti Miss Oishi untuk berhati-hati ketika mengajar agar tidak dicurigai. Miss Oishi akhirnya memutuskan berhenti mengajar karena merasa sudah tidak sejalan dengan keadaan di sekolah.

Sementara itu, setiap anak laki-laki juga harus siap menjadi sukarelawan prajurit yang turun ke medan perang lalu gugur sebagai bunga bangsa. Dengan doktrin bahwa mereka akan gugur sebagai pahlawan, membuat anak-anak muda bersemangat merelakan diri maju berperang untuk kemudian mati secara terhormat. Di sisi lain, para Ibu bersedih hati karena harus rela kehilangan suami atau anak laki-laki mereka.

“Jaga diri kalian baik-baik. Jangan mati terhormat, pulanglah dengan selamat.” — Miss Oishi kepada Nita, Isokichi, dan Kicijhi (hlm. 189)

Membaca buku ini, sedikit mengingatkan saya kepada Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Ada guru laki-laki yang sudah tua, guru perempuan muda yang berangkat mengajar dengan sepeda, serta anak-anak desa yang semangat ke sekolah meski dalam keterbatasan. Beberapa kemiripan di antara dua novel tersebut, mau tak mau membuat saya mengaitkan keduanya. Belakangan, baru saya tahu bahwa ternyata Andrea Hirata memang terinspirasi dari novel ini saat menulis Laskar Pelangi.

Latar masa perang dunia tahun 1928 sebenarnya menarik. Sayangnya, saya kurang bisa membayangkan bagaimana situasinya. Seandainya latar tahun 1928 itu di Indonesia, barangkali saya ada sedikit gambaran. Namun karena latar novel ini Jepang di masa lalu, jadi saya rada nge-blank. Tapi mungkin sayanya aja yang kurang wawasan. :)) Hal lain yang membuat saya kurang bisa masuk ke dalam cerita adalah tokohnya yang sangat banyak dan masing-masing memiliki kisah sendiri, sehingga susah untuk dihafal.

Namun lebih dari itu, buku ini sangat heartwarming untuk dibaca. Di balik cerita tentang kemiskinan, perang, putus sekolah, prajurit gugur, dan hal-hal menyedihkan lainnya, kita juga akan menemukan kisah tentang kasih sayang, cinta, keluarga, dan persahabatan.