Buku

[Book Review] High School Paradise

high-school-paradise
Gambar diambil dari sini

Judul: High School Paradise

Penulis: Orizuka

Penyunting: KoEh

Penerbit: Puspa Populer

Terbit: 2012

Tebal: 216 halaman

Sudah hampir dua tahun, Lando, Sid, Cokie, dan Rama harus berurusan dengan Godzilla, engg… maksudnya, Godzali, guru olahraga mereka. Pasalnya, keempat cowok rupawan yang dipuja banyak cewek di sekolahan ini selalu datang terlambat. Bukan tanpa alasan, mereka melakukannya sebagai bentuk dari demonstrasi supaya diizinkan mendirikan ekskul sepak bola. Karena sebuah alasan tertentu, Pak Gozali memang tidak berkenan dengan adanya ekskul sepak bola di SMA Athens. Lebih dari itu, pun sepak bola tidak masuk dalam kurikulum pelajaran olahraga sekolah elite ini.

Selain berurusan dengan hukuman Pak Gozali, mereka juga harus berurusan dengan Julia. Cewek bodor yang belakangan gabung dengan mereka menghadapi hukuman dari Pak Gozali. Namun bukan karena ingin demonstrasi sebagaimana yang lainnya, Julia terlambat karena bangun kesiangan akibat belajar hingga tengah malam demi bisa masuk ke kelas khusus.

“Pak, begini. Tadi pas saya ke sekolah, saya tepat waktu, Pak! Saya selalu keluar pukul enam! Tapi Pak, metromini yang saya naiki tiba-tiba nabrak ibu-ibu! Terus sopirnya kabur! Terus metromininya ditinggal! Terus akhirnya saya cari metromini lain. Eh bannya bocor! Pak, sumpah, saya juga kesal. Terus, pas saya lari ke sini, tahu-tahu ada nenek-nenek yang nggak bisa nyeberang! Jadi, saya seberangin dulu! Pokoknya kacau deh, Pak! Bapak harus percaya!” serunya heboh.

— hal. 29

Awalnya, saya agak-agak skeptis dengan buku ini. Habis, gimana, yaa… baru baca bab awal saja saya mau nggak mau jadi kebayang-bayang sama F4 di Boys Before Flowers, drama Korea yang cukup hits pada masanya. Empat cowok rupawan, dipuja banyak perempuan, dari keluarga pemilik yayasan. Apalagi rambut pirang Sid itu, mirip Ji Hoo Sonbae nggak, sih? Saya curiga, jangan-jangan buku ini cuma semacam fan fiction gitu.

Namun rupanya, buku ini berbeda. Meskipun sama-sama ada F4-nya, F4 di sini tidak sama dengan F4 di drama-drama Asia. Ceritanya pun tidak semata tentang anak pemilik yayasan yang jatuh cinta pada gadis pekerja part time. Sebagaimana yang sudah mainstream di drama-drama Korea. Di buku ini, ada cerita tentang keluarga, persahabatan, dan perjuangan mewujudkan impian. Semuanya terangkum menjadi sebuah jalinan cerita yang seru, haru, dan tentu saja kocak bikin ngakak.

Saya juga suka cara penulis bercerita, ringan dan menghibur banget. Barangkali isi buku ini sangat remaja. Namun cara bertutur penulisnya, membuat saya yang sudah tuasudah bukan remaja ini tetap enjoy membacanya. Baru baca sampai tengah saja, saya sudah dibuat jatuh cinta pada pasangan “musuh bebuyutan” Sid dan Julia. Lalu berharap supaya mereka bisa jadian. #eh

Buku

[Book Review] After School Club: Cinta dan Persahabatan di Kelas Tambahan

after-school-club
Gambar diambil dari sini

Penulis: Orizuka

Penyunting: Dila Maretihaq Sari

Penerbit: Bentang Belia

Terbit: 2012

Tebal: 244 halaman

 

Sinopsis:

Aneh, Ajaib, Norak. Tiga kata itu pas untuk menggambarkan penghuni kelas After School. Kelas ini juga dianggap sebagai kelas anak-anak “bodoh” oleh seluruh warga sekolah.

Gara-gara nilai Fisikanya jeblok dua kali berturut-turut, Putra harus masuk kelas itu. Ini jadi aib yang serius bagi Putra yang terkenal cool dan populer. Apalagi kalau ayahnya yang angker dan penuntut sampai tahu, bagaimana dia menjelaskannya?

Tiap hari Putra harus tahan banting menghadapi keusilan anak-anak After School. Ditambah lagi, Cleo, ketua genk After School diam-diam menyukainya. Keusilan anak-anak After School meningkat dua kali lipat demi membantu Cleo PDKT.

Bencana bagi Putra seakan jadi bertumpuk-tumpuk. Musibah apa lagi setelah ini?

Ceritanya, sih, sudah mainstream. Cowok cool dan populer yang jatuh cinta kepada cewek unik dengan kelakuan ajaib. Tapi, penulis bisa menceritakannya dengan seru dan tidak membosankan, sehingga saya tetap enjoy membacanya.

Apalagi ide tentang geng After School, sekumpulan siswa dengan nilai pas-pasan yang harus mendapatkan kelas tambahan. Tak habis saya ngakak dengan kelakuan usil dari geng koplak ini. Duh, saya harus banyak belajar dari mereka, yang tetap ceria, optimis, dan bersemangat menikmati hidup walau orang lain sering meremehkan mereka.

Di beberapa bagian, ada beberapa adegan yang mengingatkan saya pada drama Korea tertentu. Bikin saya berulang kali menggumam, “Hmm… ini kayak yang di drama itu, deh.” Nggak masalah, sih, karena di sini penulis sudah melakukan modifikasi yang di-mix dengan ide cerita dari penulis sendiri.

Tapi… ada satu yang saya masih nggak habis pikir. Hampir di setiap novel teenlit yang pernah saya baca (termasuk di novel ini), diceritakan anak-anak sekolah sudah boleh mengendarai mobil sendiri. Memangnya, anak umur 16 tahun sudah bisa bikin SIM A, ya? *berpikir keras*

Saya harap, sih, semoga suatu saat nanti saya bisa menemukan novel remaja dengan cerita yang lebih bersahaja. Misalnya tentang anak-anak yang berangkat ke sekolah dengan mengayuh sepeda mini, angkot, atau jalan kaki, beserta segala liku-likunya.