Seni & Budaya

Prajurit Jogokaryo, Sang Penjaga Keamanan Kerajaan

4.Jagakarya
Gambar diambil dari web https://www.kratonjogja.id

Prajurit Jogokaryo dulu merupakan pasukan yang bertugas menjaga keamanan dan jalannya pemerintahan di kerajaan. Namanya berasal dari gabungan bahasa sansekerta ‘jogo’ yang berarti menjaga serta dari bahasa kawi ‘karyo’ yang berarti tugas atau pekerjaan. Dalam iring-iringan bregada prajurit Keraton Yogyakarta, Prajurit Jogokaryo berada pada urutan keempat setelah Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaeng, dan Prajurit Patangpuluh.

Dalam satu pasukan, Prajurit Jogokaryo terdiri atas 4 orang perwira, 8 orang bintara, 72 orang prajurit, serta 1 orang prajurit yang bertugas membawa dwaja atau panji-panji pasukan. Panji dari Prajurit Jogokaryo memiliki warna dasar merah dengan lingkaran berwarna hijau di bagian tengahnya, yang diberi nama papasan. Konon, nama tersebut memiliki makna “memapas” atau “menumpas”. Melambangkan Prajurit Jogokaryo sebagai pasukan yang gagah berani menumpas musuh-musuhnya.

Seragam yang dikenakan oleh Prajurit Jogokaryo berupa pakaian bermotif lurik dengan topi tempelangan (berbentuk kapal terbalik) berwarna hitam. Selain Jogokaryo, ada tiga pasukan lagi yang juga memakai pakaian bermotif lurik, yaitu Prajurit Patangpuluh, Prajurit Ketanggung, dan Prajurit Mantrijero. Prajurit Patangpuluh mengenakan atasan lurik dengan celana berwarna merah, Prajurit Ketanggung mengenakan atasan lurik dengan celana berwarna hitam, sementara Prajurit Matrijero dan Jogokaryo sama-sama memakai atasan dan celana lurik. Perbedaannya ada pada kaus kaki yang mereka kenakan. Prajurit Mantrijero memakai kaus kaki berwarna putih, sedangkan Prajurit Jogokaryo mengenakan kaus kaki berwarna hitam.

Gladi Resik Jogokaryo
Gambar dokumen pribadi

Prajurit Jogokaryo memiliki persenjataan berupa senapan, tombak, serta keris. Dalam iring-iringan kirab Prajurit Keraton, mereka juga dilengkapi dengan seperangkat alat musik, yaitu tambur, seruling, dan terompet. Ada dua macam iringan musik yang dimainkan oleh Prajurit Jogokaryo, yaitu Mars Tamengmaduro ketika mereka sedang berjalan cepat dan Mars Slanggunder ketika mereka sedang berjalan lambat dengan langkah yang sedikit digayakan.

Saya berkesempatan mengabadikan momen Prajurit Jogokaryo ini dalam gladi resik untuk acara Grebeg Syawal tahun Dal 1951, di Alun-alun Utara tanggal 10 Juni 2018 yang lalu. Suara terompet yang dibunyikan dengan irama khas sebagai penanda datangnya para Prajurit Jogokaryo, selalu berhasil membuat saya terkesima. Meskipun saat ini peran dari Prajurit Jogokaryo sudah sangat berbeda daripada dulu, akan tetapi pesona mereka serta kesembilan bregada lainnya tetap menarik perhatian masyarakat. Dan, saya termasuk di antaranya.

Kuliner

Kicak and the Story Behind

Kalau ada yang saya tunggu di saat Ramadan, salah satunya adalah untuk mencicipi kudapan khas Yogyakarta ini. Namanya Kicak, makanan tradisional yang terbuat dari ketan, parutan kelapa muda, santan, gula, dan irisan nangka. Rasanya manis, gurih, dan lembut di lidah. Cocok sekali disantap waktu buka puasa. Ditambah aroma nangka yang hmm… sungguh menggugah selera.

Konon, kicak merupakan kudapan asli dari kampung Kauman Yogyakarta dan hanya muncul pada saat bulan Ramadhan. Di daerah lain, ada juga makanan tradisional dengan nama kicak. Namun, tidak sama dengan kicak versi Kauman ini. Di daerah Jepara misalnya, kicak terbuat dari singkong yang diberi taburan parutan kelapa dan gula merah. Dari bahannya, kicak versi Jepara ini barangkali memiliki citarasa mirip dengan gethuk. Berbeda dengan kicak versi Kauman yang berbahan dasar beras ketan.

Kicak
Kicak versi Kauman

Adalah Mbah Wono, orang pertama yang membuat kicak Kauman sejak tahun 80-an. Mbah Wono adalah warga asli kampung Kauman. Dulu, beliau membuat kicak untuk dijual sebagai menu harian di warung nasinya. Namun, ternyata kicak lebih digemari pada saat bulan Ramadhan dibandingkan pada hari-hari biasa. Sejak saat itulah, kicak akhirnya hanya dibuat setiap bulan Ramadhan saja.

Sayangnya, belum diketahui mengapa beliau memberi nama penganan ciptaannya ini kicak. Anak cucu Mbah Wono sendiri belum sempat menanyakan hal ini kepada beliau. Saat ini, Mbah Wono telah meninggal dunia. Namun, tradisi membuat kicak selama bulan Ramadan masih terus dilanjutkan oleh anak cucu beliau. Bahkan, banyak pedagang lain yang kemudian juga membuat kicak dengan modifikasi mereka sendiri. Kini, kicak dapat dijumpai setiap bulan puasa di Pasar Sore Ramadan Kampung Kauman. Letaknya di sepanjang lorong kampung Kauman.

Masjid Kauman
Masjid Gede Kauman

Nah, mencicipi kue kicak ini menjadi salah satu momen khas Ramadan versi saya. Kalau sekarang, sih, penjual kicak mungkin sudah menjamur, di mana-mana ada. Tapi, rasanya belum mantep aja kalau belum mencicipi kicak yang asli dari Kauman. Jadi, kemarin sepulang kerja saya sempatkan mampir menyusuri lorong-lorong kampung Kauman untuk membeli penganan ini. Ada yang sudah pernah makan kicak juga? 🙂

Jalan-Jalan

Candi Kalasan dan Candi Sari: Dulu Bercahaya di Tengah Hutan Rimba

Beberapa waktu yang lalu, saya berencana untuk mengunjungi Candi Kalasan sendirian. Waktu saya sampaikan niat itu kepada seorang kawan, reaksinya: “Hah? Sendirian? Mau ngapain??”

Jadi, tujuan saya sebenarnya adalah sekadar ingin melepas penat. Saat sedang dalam kondisi suntuk atau bad mood, saya biasanya selalu ingin menyendiri. Jalan-jalan sendiri, kulineran sendiri, atau naik bus dengan rute yang lebih jauh sekadar untuk menenangkan diri. Yang belum pernah saya coba adalah jalan-jalan ke candi sendiri. :))

Sebenarnya saya juga bukan orang yang pemberani, sih. Saya pilih Candi Kalasan karena lokasinya cukup dekat dari kantor. Candi ini terletak di tepi jalan raya Jogja-Solo. Sekitar 13 km dari Candi Prambanan. Tepatnya di Dusun Kalibening, Tirtamani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Sudah dua kali saya berkunjung ke candi ini (tapi sama teman, haha). Dan, saya sudah sangat terkesan sejak awal kunjungan. Candi Kalasan memang bukan kompleks candi yang luas seperti Prambanan. Hanya ada satu bangunan candi yang besar, tinggi menjulang. Namun, satu candi itu di mata saya terlihat eksotis sekaligus menawan.

Candi Kalasan
Candi Kalasan

Konon, candi ini dibangun pada abad ke-8 dan merupakan candi peninggalan Buddha. Candi Kalasan yang memiliki nama lain Candi Kalibening ini dibangun oleh Rakai Panangkaran sebagai sarana pemujaan Dewi Tara sekaligus biara untuk para pendeta. Keterangan ini tertulis dalam sebuah prasasti yang ditemukan tak jauh dari lokasi penemuan situs Candi Kalasan. Menurut para ahli, prasasti yang tertulis dalam bahasa Sansekerta dengan huruf pranagari tersebut diperkirakan ditulis pada tahun Saka 700 atau 778 Masehi.

Salah satu keistimewaan dari Candi Kalasan adalah adanya Bajralepa yang melapisi dinding batu dari candi ini. Bajralepa merupakan semacam lapisan yang bisa membuat batu-batu candi ini jadi tampak mengkilap kalau terkena cahaya (emm, kayak plitur gitu kali ya kalau zaman sekarang? *ngawur, abaikan*). Lapisan bajralepa dapat memantulkan cahaya sehingga dinding-dinding batu candi akan tampak gemerlapan. Selain fungsi estetis tersebut, lapisan yang konon memiliki sifat kedap air ini juga berfungsi untuk melindungi batu-batuan candi dari paparan sinar matahari dan guyuran hujan.

Selain Candi Kalasan, terdapat candi lain yang juga dilapisi bajralepa, yaitu Candi Sari. Lokasi Candi Sari tak jauh dari Candi Kalasan, kira-kira sekitar 0,5 km ke arah timur dari Candi Kalasan. Tepatnya di Dusun Bendan, Tirtamartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Saya juga pernah mengunjungi candi ini sebanyak dua kali. Meskipun kali kedua saya kurang beruntung, karena sudah terlalu sore jadi sudah tutup.

Candi Sari
Candi Sari

Candi Sari memiliki nama lain Candi Bendan. Barangkali merujuk kepada nama dusun di mana candi tersebut berada, Dusun Bendan. Dalam prasasti yang ditemukan di lokasi penemuan Candi Kalasan, tertulis juga keterangan mengenai Candi Sari. Jadi, candi ini ternyata masih ada hubungannya dengan Candi Kalasan. Sama-sama dibangun oleh Rakai Panangkaran pada abad ke-8. Diperkirakan Candi Sari dibangun sebagai biara atau asrama bagi para pendeta Buddha. Dan, sama halnya dengan Candi Kalasan, sisa-sisa lapisan bajralepa katanya juga masih dapat dilihat di Candi Sari.

Sebagai orang yang awam dalam hal ini, saya kurang tahu juga persisnya yang mana itu lapisan bajralepanya. 😀 Namun dalam pengamatan awam saya, dinding batu Candi Kalasan dan Candi Sari tampak berwarna keputih-putihan jika dibandingkan dengan candi-candi yang lain. Barangkali, warna putih di dinding candi itulah yang merupakan sisa-sia dari lapisan bajralepanya. Mo’on maap ya… kalau keliru. Yang jelas, membaca sejarah dari Candi Kalasan dan Candi Sari ini, saya jadi membayangkan, berabad silam, kedua candi ini berdiri menjulang di tengah hutan rimba (katanya sih, dulu daerah Kalasan adalah alas/hutan), lalu berkilau keemasan oleh pantulan sinar bulan. Wuaaa… pasti indah sekali yaaa… 😀

Kembali kepada rencana saya untuk menenangkan diri di Candi Kalasan sebagaimana yang saya kemukakan di awal tulisan, pada akhirnya, saya memutuskan untuk mengurungkannya. Sebab kata kawan saya, “Kalau kamu lagi galau, mending dengerin sholawatan. Bukannya malah ngelamun di tempat peninggalan purbakala. Bisa-bisa nanti disamperin jin. Apalagi sendirian.”

Oke, saya menyerah!

Seni & Budaya

Asyiknya Nonton Gladhen Prajurit di Tengah Gerimis

Nonton kirab prajurit kraton merupakan agenda yang saya gemari sejak kecil. Waktu kecil, saya akan senang sekali ketika almarhum simbah wedok (mbah putri) mengajak saya ke alun-alun utara yang jaraknya tak jauh dari rumah untuk menyaksikan acara garebeg. Apa yang saya tunggu di acara itu? Tentu saja iring-iringan prajurit kraton yang mengantarkan gunungan keluar dari dalam kraton untuk selanjutnya nanti akan dirayah atau dibagi-bagikan ke masyarakat. Iring-iringan bregada prajurit kraton yang berbaris dengan diiringi istrumen perpaduan genderang, seruling, dan terompet yang dibunyikan dengan irama lambat sungguh membuat saya terpesona.

Bahkan, saya tak segan  duduk bersila dengan nyaman di atas rumput pinggir trotoar. Tak peduli jika sesekali harus menggaruk kaki yang gatal akibat digigit semut api yang bersarang pada akar rumput di dalam tanah. Hal ini tentu sudah tak bisa lagi saya lakukan saat ini. Selain karena rumput yang ada di alun-alun tidak serimbun dulu sehingga tidak memungkinkan untuk bersila di sana, juga karena sudah tua oiii… jadi nggak bisa sebebas waktu masih kecil. Hahaha

Namun demikian, bertambahnya usia tidak menyurutkan kegemaran saya untuk nonton kirab prajurit Kraton. Dulu, selain di acara Garebegnya, saya biasanya juga menyaksikan arak-arakan para prajurit itu ketika mereka latihan dan lewat di depan rumah. 😀 Namun, belakangan pihak pariwisata Kraton membuat agenda sendiri untuk latihan prajurit ini sehingga bisa disaksikan oleh masyarakat luas. Agenda tersebut diberi tajuk “Gladhen Prajurit”. Nah, pada postingan ini saya mau cerita pengalaman saya waktu nonton gladhen prajurit dalam rangka acara Garebeg Maulud tahun Dal 1951. Late post banget sih emang. 😀

GP 1
Hujan-hujan stand by di alun-alun utara 😀

Dalam setahun, setidaknya ada tiga kali acara garebeg, yaitu pada waktu Idulfitri, Iduladha, dan Maulud Nabi Muhammad saw. Dari masing-masing acara garebeg tersebut, pasti ada gladhen-nya. Saya kurang tahu juga berapa kali persisnya mereka latihan. Tapi, acara “Gladhen Prajurit” selalu bisa ditonton setidaknya dalam tiga kali garebeg itu. Dalam acara gladhen ini, para prajurit belum memakai kostum dan atribut lengkap. Mereka memakai “pakaian dinas”-nya para abdi dalem. Kalau tidak salah, pakaian ini disebut dengan nama “baju peranakan”, yaitu satu set baju atasan lurik, bawahan jarik, serta ikat kepala blangkon. Tak ketinggalan keris yang terselip di pinggang.

Terkait baju peranakan, ternyata setiap detail dari baju ini memiliki makna tersendiri, loh. Dari laman Facebook Kraton Jogja dijelaskan bahwa dalam baju peranakan terdapat 6 buah kancing di bagian leher yang melambangkan rukun iman dan 5 buah kancing di ujung lengan menyimbolkan rukun Islam. Adapun nama “peranakan” itu sendiri memiliki makna “satu keturunan”. Nama ini bukan tanpa maksud. Kata “peranakan” dipilih untuk menjadi nama pakaian dinas para abdi dalem sebagai wujud harapan agar para abdi dalem satu sama lain saling menjaga hubungan harmonis layaknya saudara kandung atau saudara satu keturunan.

GP 2
Para prajurit  keraton Yogyakarta dengan pakaian peranakan

Kembali ke acara Gladhen Prajurit, waktu itu saya sempat pesimis tidak jadi nonton acara yang sudah saya tunggu-tunggu ini, sebab tiba-tiba hujan turun deras sekali. Sampai pada jam di mana acara seharusnya dimulai, hujan tidak kunjung reda. Malah semakin deras. Saya pikir, “Ah, jangan-jangan gladhen-nya juga nggak jadi, nih. Hujan begini.” Tapi, tak lama kemudian, dari rumah terdengar sayup-sayup suara terompet dan genderang. Walah… sudah mulai yak! Akhirnya, saya dan kawan nekat pakai payung menuju ke lokasi.

Awalnya kami menyaksikan arak-arakan mereka dari Kemandhungan Ler atau Keben. Di tengah hujan deras, para prajurit itu tetap semangat menabuh genderang, meniup terompet, dan berbaris masuk ke dalam salah satu areal di Keraton, yang kemudian nanti akan keluar kembali melalui gerbang Pagelaran Keraton. Salut, deh. Para prajurit itu yang sebagian juga terdiri dari bapak-bapak sepuh, tetap semangat meski hujan sedang lebat.

GP 3
Tetap semangat meski sedang hujan

Karena kami nggak boleh ikut masuk ke dalam areal Kraton, maka dari Kemandungan Ler kami kemudian langsung ngacir ke alun-alun utara dan menunggu para prajurit keluar dari pintu gerbang Pagelaran Kraton. Di sana, ternyata banyak juga orang-orang yang sudah berdiri di tepi trotoar untuk menyaksikan Gladhen Prajurit. Meski waktu itu hujan belum sepenuhnya reda. Masih ada gerimis tipis-tipis.

Nah, karena pada waktu itu bertepatan dengan tahun Dal, maka rangkaian acara garebeg pada waktu itu pun berbeda dari tahun-tahun biasanya. Konon tahun Dal ini hanya terjadi selama 8 tahun sekali, demikian kata salah satu bapak prajuritnya waktu saya tanya. Jadi, kalau biasanya gunungan akan langsung dirayah oleh masyarakat sebagai bentuk sedekah dari Sri Sultan, pada tahun tahun Dal ini ada satu gunungan lagi yang harus para prajurit bawa pulang kembali ke keraton untuk dibagikan kepada para kerabat Keraton. Gunungan tersebut dinamakan gunungan Bromo. Sebelumnya, gunungan Bromo akan ikut diarak bersama gunungan yang lain. Dua gunungan lanang kemudian dibawa ke Kepatihan dan Puro Pakualaman, lima gunungan dibagikan kepada masyarakat di pelataran Masjid Gedhe Kauman, sedangkan gunungan Bromo dibawa kembali ke Kraton. Pada waktu gladhen, gunungannya belum dibawa tentu saja.

GP 4
Menunggu gunungan Bromo dibacakan doa di pelataran Masjid Gedhe Kauman

Bagi saya sendiri, sebenarnya lebih menyukai nonton Gladhen Prajurit daripada waktu acara garebeg-nya. Meskipun belum ada gunungan serta para prajuritnya belum memakai atribut dan kostum lengkap, tapi saya lebih bisa menikmati rangkaian acaranya. Sebab, pada waktu garebeg biasanya akan crowded sekali. Alih-alih menikmati acara, saya harus berjibaku senggol-senggolan dengan penonton lainnya. Pernah suatu kali, saya hampir berakhir di tangan paramedis karena dehidrasi waktu nonton garebeg. Untung nggak pingsan. Kan, malu kalau sampai pingsan. 😀

Opini · Suka-Suka

Yogyakarta: Bukan Metropolitan, Tapi Tak Ketinggalan Zaman

N1kbXX9B
Para abdi dalem sedang memanggul gunungan dalam acara Grebeg Besar 1950 Je

“Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.” — Joko Pinurbo.

Sejak dilahirkan di kota yang istimewa ini, saya memang belum pernah benar-benar pergi meninggalkan Yogyakarta. Kalaupun keluar kota, paling sekadar piknik atau mengunjungi kerabat di kota tetangga. Selanjutnya, takdir terus menuliskan garis hidup saya berjalan di kota ini. Lahir di Yogya, besar di Yogya, cari ilmu di Yogya, cari rezeki di Yogya, cari jodoh…. *skip

Namun demikian, saat mendengarkan curahan hati dari kawan-kawan saya tentang kota kelahiran ini, dada ini cukup mengembang oleh rasa bangga. Mereka yang telah menghabiskan masa studi di Yogya, lalu harus melanjutkan hidup di kota-kota lainnya, selalu merasakan rindu dan ingin kembali ke sini.

Bagi mereka, Yogyakarta bukanlah kota yang sangat metropolitan, di mana semua serba keras dan harus bergegas. Di Yogya, kota berjalan pelan dan bersahaja. Sebersahaja anggukan kepala kepada orang yang lebih tua. Namun, Yogya juga bukan kota yang ketinggalan zaman. Ada toko buku, bioskop, mall, kafe, perpustakaan, stadion olahraga, dan banyak lagi fasilitas umum yang lainnya.

Objek wisata? Ada candi-candi, kraton, dan beragam warisan cagar budaya yang bisa ditelusuri jika kamu suka sejarah. Ada pula gunung dan pantai-pantai yang bisa dijelajahi kalau kau suka berpetualang. Jangan lupakan pula aneka kuliner, seni, dan budaya yang banyak sekali jumlahnya.

Dari perasaan bangga, kemudian timbul sedikit rasa penasaran. Penasaran atas sensasi bahagia yang dirasakan kawan-kawan saya saat kembali ke Yogya. Barangkali saya harus mencoba untuk merantau juga barang sejenak, agar dapat merasakan kerinduan dan ingin pulang kembali ke kota ini. Suatu saat nanti, mungkin?

Yang pasti, sebagai orang yang lahir dan besar di kota ini, saya berharap semoga Yogyakarta tetap nyaman untuk ditinggali. Jangan lagi banyak dibangun gedung-gedung tinggi. Yogyakarta tak perlu menjadi kota metropolitan. Cukup jadi kota yang tak ketinggalan zaman.

Jalan-Jalan

Ekspedisi Gembira Loka Zoo: Nggak Kurang Piknik Lagi!

Sehubungan dengan adanya keluhan dari orang-orang kurang piknik, maka sebagai penutupan tahun kemarin teman-teman di Javalitera sepakat mengadakan piknik ke kebun binatang Gembira Loka. Acara tersebut kami beri tajuk “#JavaCeria: Nggak Kurang Piknik Lagi!” 😀 Maafkan kalau namanya agak alay, sengajaaa… biar lucu gitu. Kalau terlalu kaku, nggak seru nanti hidup ini. Hahaha

Pukul 8.30 kami sepakat kumpul di tekape. Meskipun agak ngaret sedikit, tapi yang penting happy. Sebagai informasi, tuh teman-teman saya pada ngajak pasangan dan keluarganya masing-masing. Para bapak ngajak anak istri, Tatik si pengantin baru ngajak suami, Eista ngajak Mas Egi, sementara Rio ngajak bidadari. Kalau saya? Sebagai satu-satunya personel yang jomblosingle happy, saya cukup membawa diri! Wkwkwk *yang penting rimanya tetap i-i-i-i*

p1010679

Inti dari acara ini, selain untuk refreshing dari penatnya pekerjaan, juga untuk menambah keakraban setiap karyawan (meskipun sebenarnya udah akrab juga, sih). Oleh karena itu, selain jalan-jalan (dan foto-foto tentu saja), ada beberapa acara seru-seruan selama piknik itu. Dan, berikut adalah rangkaian acaranya:

Naik kapal

Karena tiket masuk sudah plus tiket naik kapal, jadi acara pertama begitu masuk ke kebun binatang adalah naik kapal bersama. Penginnya naik speed boat, tapi karena ada anak-anak, jadi ya udah cukup kapal yang biasa saja (kayak berani wae naik speed boat). 😀

tchptl5z

Sharing

Tujuan dari sesi sharing ini sih agar kami bisa saling mengenal lebih dalam, tsaah. Di sesi ini, masing-masing dapat kesempatan untuk menceritakan tentang dirinya sendiri, hobi, impiannya, kegelisahan hatinya (halah!), dan sebagainya.

“Satu kata untuk Javalitera?” tanya Mas Pemred ke saya waktu sesi sharing. Agak bingung juga sih jawabnya, penginnya sih jawab “Nggak Mainstream” haha. Tapi, itu kan dua kata. Iya, sepanjang karier saya, Javalitera memang kantor yang paling tidak mainstream. Baik kantornya, suasana kerjanya, dan sebagainya, mwahaha. Namun karena ketidak-mainstream-annya itulah jadinya seru, dan saya betah di sana. Baiklah, kalau begitu, satu kata untuk Javalitera bagi saya adalah: “Betah!”

p1010703
Dari sesi sharing ini, saya jadi tahu kalau terakhir kali Mas Yudan nangis itu waktu akad nikah. Ea~ so sweet… :’)

 Kado silang

Nah, ini yang paling seru. Karena selain bertukar kado, juga ada games-nya. Kesepakatannya, kado silang yang dibawa harus berupa barang (supaya lebih bisa dikenang, kalau makanan kan langsung habis) dengan nominal Rp5.000,- dan dibungkus koran. Di bungkus kadonya, masing-masing menuliskan pertanyaan truth dan tantangan dare. Siapa pun yang ketiban kado itu, nanti wajib menjawab pertanyaan yang ada di bungkus kadonya. Kalau tidak berkenan memilih truth dengan menjawab pertanyaannya (karena emang aneh-aneh sih, pertanyaannya :D), maka boleh memilih dare yaitu melakukan tantangan yang diberikan.

Singkatnya, setelah kado diputar dengan iringan lagu theme song Doraemon, saya ketimpuk kado dengan pertanyaan truth yang … OMG! Ini nih, pertanyaan truth dan tantangan dare buat saya.

p1010707
Dilema, jawab pertanyaan atau nyanyi aja, nih? Hiks…

Isi kadonya apa, tuh, kira-kira? Oke, saya bocorin saja, ya. Saya dapat sendok dan garpu. Benar, sendok dan garpu, Saudara-saudara! Plus komentar semena-mena dari Rio:

“Tuh, Mbak. Sendok sama garpu aja berpasangan, masa kamu enggak?” -___-

 Makan bersama

Sehubungan perut sudah keroncongan, acara selanjutnya adalah makan bersama. Sengaja bawa bekal sendiri-sendiri, biar lebih terasa feel pikniknya. Makan bekal sambil gelar tikar, wkwkwk. Kalau di tempat lain biasanya disediakan nasi kotak, kami bawa bekal sendiri-sendiri. Nah, benar, kan, kata saya. Nggak mainstream! Tapi, keren malahan. 😀

p1010708
Mentang-mentang pengantin baru, makan aja sepiring berdua.

Selanjutnya, acara bebas!

Sempatin dulu foto sama burung merak di Bird Park-nya. 😀

p1010729

Kadang, hidup ini seperti labirin, kita harus menempuh jalan yang berputar-putar terlebih dahulu sebelum sampai kepada yang dicita-citakan. Sebagaimana saya, yang mesti berputar-putar dahulu, galau karier, dan sebagainya. Sebelum akhirnya bertemu dengan teman-teman di Javalitera, yang sejauh ini membuat saya betah.

p1010740

Kuliner

Songgo Buwono: Tampang Bule, Nama Jawa

Barangkali sebagian orang masih asing dengan jenis makanan ini. Bentuknya yang mirip sandwich, roti dengan isi daging cincang, telur, sayuran, dan disiram dengan saus mayones, dilengkapi daun selada serta acar mentimun sebagai garnis, membuat orang beranggapan bahwa ini merupakan salah satu jenis makanan impor. Namun, anggapan itu akan terbantahkan apabila menilik dari namanya yang sangat njawani, Songgo Buwono.

songgo buwono
Gambar diambil dari http://www.imgrum.co/tag/snackjawa

Songgo Buwono merupakan makanan khas dari Yogyakarta. Zaman dahulu, Songgo Buwono hanya disajikan di kalangan para bangsawan keraton. Tak mengherankan apabila masih banyak orang yang belum mengenal makanan ini, bahkan orang Yogja sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, songgo buwono mulai diperkenalkan di kalangan masyarakat umum. Pada mulanya, makanan ini dapat ditemui dalam acara resepsi pernikahan orang-orang berada, tapi dewasa ini Songgo Buwono sudah menjadi jajanan tradisonal yang dapat dinikmati dengan harga terjangkau.

Adapun nama Songgo Buwono itu memiliki filosofi tersendiri. Songgo berarti “menyangga”, Buwono bermakna “bumi”. Songgo Buwono diibaratkan sebagai makanan yang menggambarkan dunia, langit, dan seisinya. Hal ini ditampakkan juga dari cara penyajiannya. Daun selada yang diletakkan di dasar sebagai alas dari rotinya, diibaratkan sebagai tanaman penyangga dunia. Dunia dan seisinya dilambangkan dengan roti yang diisi daging cincang dan aneka sayuran yang dimasak sedemikian lupa, serta telur rebus yang diletakkan di atasnya. Sedangkan, langit digambarkan dari saus mayones dan acar mentimun yang disiramkan dan digarnis di atas roti isi tadi.

Selain nama dan penyajiannya yang memiliki makna luar biasa, Songgo Buwono juga memiliki cita rasa yang tidak perlu diragukan lagi. Perpaduan gurih, manis, dan mengenyangkan yang didapat dari roti isi dengan saus mayones, dipadu segarnya acar mentimun. Cita rasa khas Yogya yang tak kalah dengan burger dari Amerika.

Selamat mencoba! 😀

Opini

Semoga Yogyakarta Tak Berhenti Nyaman

Ringin kurung alun-alun utara
Pohon beringin kembar di tengah alun-alun utara Yogyakarta pada pertengahan tahun 1857 (Gambar diambil dari Wikipedia.org)

Kejadian hari ini mau tak mau membuat ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam, ketika saya masih kecil, bersama Simbah menyaksikan sebuah pertunjukan yang istimewa, Kirab Grebeg Maulud Kraton Yogyakarta. Duduk bersila di atas rumput pinggir trotoar, tak peduli dengan rumput yang basah sebab hujan yang mengguyur malam harinya. Pun tak peduli ketika sesekali harus menggaruk kaki yang gatal karena digigit semut api yang bersarang pada akar rumput di dalam tanah. Saya sudah begitu terpesona pada iring-iringan bregada prajurit kraton yang berbaris dengan diiringi istrumen perpaduan genderang, seruling, dan terompet yang dibunyikan dengan irama lambat.

Kenangan itu begitu membekas, sehingga membuat saya ingin selalu mengulanginya. Maka, setelah bertahun-tahun waktu tersita oleh kesibukan dan tanggung jawab sebagai orang dewasa (baca: bekerja), siang tadi akhirnya saya bisa kembali mengulang nostalgia. Namun, situasi yang saya temui sungguh berbeda. Tak ada rumput basah untuk duduk bersila. Hujan memang turun deras semalam, akan tetapi hanya menyisakan tanah becek serta udara yang panas dan pengap. Ke mana rumput-rumput itu pergi? Barangkali mati karena terlindas bus-bus pariwisata, atau rusak ketika didirikan panggung-panggung pertunjukan dari stasiun-stasiun televisi ibu kota. Singkat cerita, rencana nostalgia saya gagal total sebab saya justru berakhir di tangan paramedis setelah sebelumnya kliyengan karena dehidrasi.

Yogya memang telah berubah. Cerita di atas mungkin hanya contoh kecil dari perubahan kota ini. Perubahan lain yang cukup signifikan di antaranya adalah banyaknya titik-titik kemacetan yang mulai bermunculan pada beberapa wilayah di Yogyakarta. Lagi-lagi ingatan saya jadi bernostalgia ke beberapa tahun silam, ketika bersama Bapak bersepeda di sore hari melewati sepanjang Jalan Malioboro. Kami bersepeda dengan santai, sambil sesekali Bapak menyuruh saya belajar mengeja nama toko-toko di Malioboro. Di sekitar kami, berseliweran orang-orang yang sedang joging. Juga andong dan becak yang mengantar ibu-ibu pulang dari Pasar Beringharjo. Beberapa di antaranya juga mengantar wisatawan berbelanja di Malioboro. Satu dua bus kota melintas. Suasana seperti itu mungkin sulit untuk kita dapati saat ini, sebab kendaraan bermotor seolah makin banyak saja memadati jalan-jalan di Yogya. Entah, barangkali karena faktor banyaknya pendatang, atau karena makin mudahnya masyarakat untuk membeli kendaraan-kendaraan tersebut dengan sistem kredit. Yang pasti, kegiatan bersepeda santai seperti yang biasa saya lakukan bersama Bapak tempo dulu tentu tidak bisa dilakukan lagi. Bagaimana bisa kita bersepeda dengan santai di tengah lalu lintas yang ruwet. Beberapa waktu yang lalu saya melihat seorang bapak tukang becak yang diklaksoni mobil ketika beliau sedang terengah-engah mengayuh becaknya, mungkin itu bisa jadi salah satu contohnya.

“Yogyakarta sudah menyerupai Jakarta,” kata teman saya.

Selain merujuk kepada kemacetan, barangkali kalimat tersebut juga ditujukan dengan maraknya pembangunan gedung yang terjadi di Yogya. Di satu sisi, pembangunan gedung-gedung ini menunjukkan bahwa Yogya sudah menjadi kota yang lebih maju sehingga para investor sudi meliriknya. Namun di sisi lain, maraknya pembangunan gedung ini juga cukup meresahkan. Pembangunan mal, hotel, apartemen, yang notabene sasarannya hanya untuk orang-orang “berduit”, akan mengundang banyak pendatang, utamanya mereka dari kota-kota besar. Hal ini membuat jumlah penduduk Yogya semakin padat, dan jumlah kendaraan semakin banyak, sehingga Yogya semakin macet. Lalu, bagaimana nasib penduduk lokal Yogya yang mayoritas berstatus sosial lebih rendah daripada orang-orang dari kota besar itu? Mau tak mau mereka harus mengikuti “gaya hidup” yang dibawa oleh para pendatang itu, atau bernasib seperti bapak tukang becak yang diklaksoni mobil ketika terengah-engah mengayuh becaknya tadi.

Banyaknya investor yang menanamkan modalnya ke Yogyakarta memang dapat menambah pendapatan daerah. Namun, hendaknya perlu dipikirkan juga kemanfaatannya untuk penduduk lokal Yogya itu sendiri. Dan bukan berarti menolak sebuah kemajuan, akan tetapi baiknya dipertimbangkan juga agar dengan kemajuan itu tidak lantas membuat Yogyakarta kehilangan jati dirinya serta tetap nyaman untuk ditinggali. Bukankah beberapa waktu yang lalu Yogyakarta dinobatkan menjadi “The Most Liveable City” di Indonesia?

Pada akhirnya, sebagai orang yang lahir dan tumbuh di kota ini, saya berharap semoga Yogyakarta tak berhenti nyaman.

Seni & Budaya

Prajurit Kraton Dulu dan Kini

prajurit-kraton-yogyakarta

Prajurit Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa sekarang mungkin hanyalah menjadi salah satu simbol budaya warisan leluhur terdahulu. Kehadirannya bisa kita temui dalam acara-acara kebudayaan di Yogyakarta, seperti dalam Upacara Grebeg sebagai pengiring keluarnya Gunungan dari Kraton yang kemudian akan dibagi-bagikan kepada masyarakat. Sebagai simbol budaya, tak bisa dipungkiri bahwa pesona para prajurit kraton ini masih begitu memikat masyarakat Jawa pada umumnya, dan Yogyakarta pada khususnya. Terbukti, mereka rela berduyun-duyun datang ke Yogya dari segala penjuru demi bisa menyaksikan kirab prajurit kraton. Dengan bersenjatakan senapan dan tombak panjang, para prajurit kraton berbaris dengan gagah. Diiringi instrumen berirama lambat, perpaduan antara genderang, seruling, dan terompet. Menyimbolkan bahwasanya di balik sosok-sosok yang gagah itu, tersimpan jiwa yang lembah manah (sopan dan santun). Khas Yogyakarta.

Prajurit kraton dibentuk oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada abad ke-17, tepatnya pada tahun 1755. Falsafah dasar yang digunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I ketika membentuk prajurit kraton ini adalah watak kesatria atau “Wataking Satriya Ngayogyakarta” yang berlandaskan pada kredo SawijiGregetSengguhOra Mingkuh. Sebagai falsafah hidup, Sawiji dapat diartikan sebagai sifat persatuan, bersatu untuk mencapai satu tujuan. Greget dimaknai sebagai semangat hidup atau kegigihan dalam berjuang. Sengguh berarti percaya diri dengan kemampuannya, akan tetapi tidak sombong dan tetap rendah hati. Sedangkan, ora mingkuh berarti sifat bertanggung jawab, pantang menyerah, dan tidak akan pernah mundur menghadapi segala tantangan yang menghadang dengan tetap tawakal kepada Tuhan Yang Maha Esa. Falsafah tersebut digunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai landasan dalam pembentukan watak para prajurit kraton, yang harapannya nanti akan tercipta watak luhur yang berdasar pada idealisme serta komitmen untuk menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, integritas moral, serta nurani yang bersih dalam pengabdiannya terhadap nusa, bangsa, dan negara.

 

Adapun mengenai seragam dan atribut yang dikenakan oleh para prajurit kraton ini adalah berupa pakaian yang menjadi identitas dari orang Yogyakarta, yaitu Surjan. Sri Sultan Hamengku Buwono I telah menetapkan surjan ini sebagai pakaian identitas masyarakat Yogyakarta, beberapa waktu setelah ditandatanganinya Perjanjian Giyanti.

Prajurit kraton Yogyakarta terdiri dari 10 bregada/prajurit, yaitu Bregada Wirabraja, Bregada Dhaeng, Bregada Patangpuluh, Bregada Jagakarya, Bregada Prawiratama, Bredaga Nyutra, Bregada Ketanggung, Bregada Mantrijero, Bregada Bugis, dan Bregada Surakarsa. Layaknya seorang prajurit, para prajurit kraton ini pada masa lalu juga ikut berperang melawan penjajah. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, para prajurit yang dulu dikenal dengan nama Prajurit Mataram ini pernah dua kali melakukan penyerbuan ke benteng VOC di Batavia (Jakarta) pada tahun 1628 dan 1629 atas perintah Sultan Agung. Mereka juga pernah perang menghadapi serbuan pasukan Inggris di bawah pimpinan Jenderal Gillespie pada bulan Juni 1812. Dulu mereka dipersenjatai bedil dan meriam. Bahkan, dalam beberapa catatan sejarah diceritakan bahwa pasukan dari Kraton ini cukup kuat, sehingga pasukan Inggris kewalahan. Dan masih banyak lagi perjuangan mereka melawan penjajah dari beberapa zaman.

Sayangnya, semenjak masa pemerintahan Hamengku  Buwono III, kompeni Inggris membubarkan angkatan perang Kasultanan Yogyakarta ini dalam sebuah perjanjian tanggal 2 Oktober 1813, yang ditandatangani oleh Sultan Hamengku Buwono III dan Raffles. Maka, sejak saat itulah peran dan fungsi prajurit kraton sebagai prajurit perang kemudian bergeser menjadi sebagai pengawal sultan dan penjaga kraton saja.

Pada masa kini, fungsi prajurit kraton kembali bergeser menjadi prajurit yang hanya muncul pada acara-acara seremonial yang diadakan kraton. Namun demikian, kita tetap wajib menaruh hormat yang tinggi, mengingat peran dan jasa-jasa mereka terhadap bangsa dan negara. Meskipun kini mereka bukanlah pasukan yang turut serta berjuang mengusir penjajah seperti tempo dulu, mereka harus tetap ada. Agar anak cucu kita nanti bisa ikut mengenang sejarah bahwa dulu negara Ngayogyakarta Hadiningrat (kini Kota Yogyakarta) pernah mempunyai pasukan perang yang tangguh dan ditakuti musuh.

 

*) Gambar diambil dari forum.viva.co.id